
Hari pun berganti malam. Setelah melaksanakan sholat magrib berjamaah Ardi dan Tya akan malam bersama. Tya masih enggan untuk keluar dari kamar. Dia masih merasa malu pada ibunya karena kejadian tadi sore.
" Sayang ayok kita keluar " ucap Ardi pada Tya.
" Aku di kamar aja deh mas. Aku malu banget sama ibu " jawab Tya.
" Udah sayang gak usah malu. Ibu juga pasti paham. Ibu juga gak pernah muda " ucap Ardi.
Kemudian Ardi pun mendorong kursi roda Tya keluar dari kamar. Di meja makan belum ada Pak Gunawan dan Bu Dewi.
" Mbok ayah sama ibu belum turun?" tanya Ardi pada Mbok Inem.
" Belum tuan muda " jawab Mbok Inem.
Tak lama terlihat Pak Gunawan dan Bu Dewi menuruni tangga. Kemudian mereka pun duduk di kursi yang ada disana. Tya hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak sanggup melihat wajah ibu mertuanya. Dia sangat malu.
Bu Dewi melihat Tya yang menundukkan kepalanya hanya tersenyum. Bu Dewi tahu bahwa menantunya itu sedang malu.
" Tya kenapa kamu menundukkan kepalamu sayang ?" tanya Bu Dewi pada Tya.
" Ah tidak apa-apa bu " jawab Tya mengangkat kepalanya.
" Ya sudah. Kita mulai makan malamnya " ucap Bu Dewi.
Tya pun mengambilkan nasi dan lauk untuk Ardi lalu memberikannya pada Ardi. Setelah itu Tya pun mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam Ardi dan Pak Gunawan pergi ke ruang kerja Pak Gunawan untuk membahas pekerjaan. Sedangkan Tya pergi ke dapur untuk membuat susu ibu hamil untuk dirinya.
" Nona biar saya yang membuatkannya untuk anda " ucap Mbok Inem saat melihat Tya membuat susu.
" Tidak perlu mbok. Mbok kan sedang sibuk mencuci piring. Saya juga masih bisa membuat susu sendiri " jawab Tya.
Setelah selesai membuat susu untuknya Tya membawa susu itu ke kamarnya. Tapi saat melewati ruang keluarga Bu Dewi memanggilnya.
" Tya " panggil Bu Dewi.
" Iya bu" jawab Tya menghentikan kursi rodanya.
" Kemari lah sayang " ucap Bu Dewi tersenyum.
Tya pun mendekati Bu Dewi yang sedang duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
" Sayang maafkan ibu ya tadi masuk ke kamar kalian tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ibu terkadang lupa jika Ardi sudah menikah. Ibu terbiasa langsung saja masuk ke kamar Ardi " ucap Bu Dewi.
Tya pun menundukkan kepalanya. Dia kembali mengingat kembali kejadian yang membuatnya malu pada ibu mertuanya itu.
" Iya bu. Gak papa kok" ucap Tya dengan menundukkan kepalanya.
" Apa kamu marah pada ibu sampai kamu tidak mau melihat wajah ibu ?" tanya Bu Dewi pada Tya.
Tya langsung mengangkat wajahnya. " Tidak ibu. Aku tidak marah pada ibu " jawab Tya cepat.
__ADS_1
" Lalu kenapa kamu tidak mau melihat wajah ibu ?" tanya Bu Dewi lagi.
" Aku hanya malu bu " jawab Tya dengan wajah yang memerah seperti tomat.
Bu Dewi pun tersenyum. " Kamu tidak perlu malu sayang. Ibu juga pernah muda jadi ibu paham apa yang kalian lakukan " ucap Bu Dewi.
Wajah Tya pun bertambah merah karena ucapan Bu Dewi.
" Hmm bu aku ke kamar dulu " ucap Tya.
Tya sudah tidak bisa lagi menutupi rasa malunya.
" Baiklah. Istirahat lah sayang. Jangan lupa habiskan susumu agar cucu ibu sehat " ucap Bu Dewi pada Tya.
" Iya bu " jawab Tya.
Tya pun pergi ke kamarnya. Tya langsung naik ke atas tempat tidur. Setelah menghabiskan susunya Tya pun merebahkan tubuhnya. Tya tertidur tanpa menunggu Ardi kembali dari ruang kerja ayahnya.
Saat Ardi kembali ke kamar mereka Ardi melihat Tya yang sudah terlelap. Ardi naik ke atas tempat tidur. Ardi mengecup kening Tya yang tertidur lelap.
" Selamat malam sayang " ucap Ardi.
" Kamu tumbuhlah yang baik di perut bunda sayang. Ayah dan bunda tidak sabar ingin bertemu denganmu " lanjut Ardi mengusap perut Tya yang sudah mulai membuncit.
Kemudian Ardi mematikan lampu dan ikut tidur dengan memeluk Tya.
__ADS_1
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya ππ