
Saat sampai di rumah, Ayah Nadi langsung membawa Tya ke kamarnya. Setelah itu Ayah Nadi langsung mencari Bu Sari untuk berpamitan karena akan pergi lagi.
Ternyata Bu Sari sedang ada di halaman belakang menanam sayur bersama Khaya.
" Bu" panggil Ayah Nadi.
Bu Sari yang dipanggil langsung mendekat ke Ayah Nadi.
" Ada apa yah?" jawab Bu Sari.
" Kakak sudah pulang?"lanjut Bu Sari.
" Sudah, Kakak ada di kamarnya, ayah mau pergi sebentar" ucap Ayah Nadi pamit.
" Ayah mau kemana?" tanya Khaya.
" Ayah mau mengambil hadiah untuk Kakak" jawab Ayah Nadi.
Bu Sari dan Khaya pun menganggukkan kepalanya, mereka memang sudah tahu bahwa Ayah ingin memberikan hadiah untuk Tya.
" Ya sudah, Ayah berangkat dulu, ingat jangan bocorkan ini ke kakak" ucap Ayah Nadi.
" Ayah tenang saja" ucap Bu Sari.
" Assalamualaikum" salam Ayah Nadi.
" Walaikumsalam" jawab Bu Sari dan Khaya bersamaan, mereka tidak menyalami Ayah Nadi karena tangan mereka kotor.
Setelah Ayah Nadi pergi, Bu Sari dan Khaya melanjutkan kembali menanam sayur.
Sementara Tya, dia baru selesai mandi. Dia melakukannya sendiri ketika memang tidak ada yang membantunya.
Tya pun mendudukkan dirinya di lantai dan bersandar di ranjang. Entah mengapa dia merasakan badannya sakit sekali.
Terdengar suara ponselnya berbunyi. Siapa lagi kalau bukan Ardi yang menelponnya. Tya tersenyum melihat siapa yang menelponnya.
" Halo, Assalamualaikum" ucap Tya.
__ADS_1
" Walaikumsalam" jawab Ardi di ujung sana.
" Kamu udah di rumah?" tanya Ardi.
" Sudah, kamu sendiri?" jawab Tya.
" Sudah, ini baru selesai mandi" ucap Ardi.
" Oh iya, ada apa kamu nelpon aku?" tanya Tya.
" Aku pengen ngobrol aja sama kamu dan kangen juga sih" ucap Ardi tersenyum saat itu walau tidak bisa dilihat oleh Tya.
Tya yang mendengar kata kangen dari Ardi pipinya langsung bersemu merah, jantungnya kembali dag dig dug.
" Kamu ni Ar" ucap Tya dan Ardi ujung sana hanya tertawa dia membayangkan wajah Tya yang sudah semerah tomat karena ulahnya.
Saat mereka sedang asik mengobrol terdengar suara Ayah Nadi memanggil.
" Kakak" panggil Ayah Nadi.
" Ar aku matiin dulu, Assalamualaikum" ucap Tya langsung mematikan telpon itu dan meletakan ponselnya di atas nakas.
Lalu Tya menjawab panggilan Ayahnya.
" Iya yah" ucap Tya.
" Ayah masuk ya" ucap Ayah Nadi.
" Iya yah masuk aja" jawab Tya.
Ayah Nadi pun masuk melihat Tya duduk di lantai yang dilapisi karpet bulu.
" Keluar yuk, ada yang mau Ayah kasih liat ke kamu" ucap Ayah Nadi.
" Apa yah?" tanya Tya.
" Nanti juga kamu tau sendiri" ucap Ayah Nadi.
__ADS_1
Ayah Nadi pun membantu Tya keluar kamarnya. Ayah Nadi membawa Tya ke ruang tamu dan di sana sudah ada Bu Sari dan Khaya serta ada sesuatu yang ditutupin kain hitam.
Ayah Nadi mendudukkan Tya di sofa.
" Itu apa yah?" tanya Tya penasaran.
Ayah Nadi pun mendekati dan membuka kain hitam yang menutupinya. Saat sudah terbuka ternyata itu kursi roda.
Tya terkejut melihat isi di balik kain hitam itu.
" Ini untuk kakak yah?" tanya Tya.
Ayah Nadi pun mendekat dan mendorongnya pada Tya.
" Tentu sayang, ini untuk kamu" ucap Ayah Nadi.
" Sekarang Ayah sudah memiliki cukup uang bahkan lebih, jadi kamu gak boleh nolak lagi seperti dulu" lanjut Ayah Nadi.
Tya memang tak mau dibelikan kursi roda dengan alasan ingin merasakan lebih kasih sayang orang tyanya, padahal dia tidak mau merepotkan orang tuanya karena dulu kondisi ekonomi mereka pas-pasan. Padahal dia tau orang tuangnya akan tetap sayang kepadanya.
Tya pun menitihkan air matanya karena bahagia.
" Jangan menangis sayang" ucap Bu Sari menghapus air mata Tya.
" Aku menangis bahagia bu" ucap Tya. " Makasih Ayah Ibu" lanjut Tya.
" Iya sayang" jawab Ayah Nadi lalu memeluk Tya, begitu pun Bu Sari dan Khaya.
Setelah lama berpelukan mereka pun melepaskan pelukan itu.
" Kamu mau mencobanya?" ucap Ayah Nadi dan Tya menganggukan kepalanya dan tersenyum.
Ayah Nadi pun membantu Tya mencoba kursi roda barunya.
" Terima kasih Ya Allah, kau telah memberiku keluarga yang sangat menyayangiku" batin Tya. Dia sangat bahagia.
__ADS_1