
Setelah masuk kamar, Ardi melaksanakan sholat isya karena sudah masuk waktu isya. Kemudian setelah selesai, Ardi duduk di samping ranjangnya. Dia masih merasa malu karena di goda kakak dan kakak iparnya.
" Huh lebih baik aku tidur aja" gumam Ardi.
Ardi merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia mencoba memejamkan matanya tapi tidak bisa karena selalu terbayang Tya di benaknya. Dia berguling-guling di ranjangnya.
Setelah sekian lama tidak bisa tidur Ardi mendudukkan dirinya dan bersandar di ranjang.
" Apa aku telpon Tya aja ya biar gak kepikiran" ucap Ardi.
Kemudian dia turun dari ranjangnya dan mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tas. Lalu dia duduk di ranjangnya kembali.
Ardi menekan nomor ponsel Tya. Tak lama Tya pun menjawab telpon Ardi.
" Assalamulaikum" ucap Tya di ujung sana.
" Walaikumsalam" jawab Ardi.
" Ada apa Ar nelpon aku?" tanya Tya.
" Aku kangen sama kamu" ucap Ardi. Tanpa dia sadari kata kalimat itu keluar dari mulutnya.
Tidak terdengar sahutan dari Tya.
" Tya, kamu denger kan?" ucap Ardi.
" Eh iya, aku dengerin kok" jawab Tya. " Tadi bukannya dah ketemu ya dan kamu anterin aku pulang kok bisa kangen" lanjut Tya.
" Gak tau juga, rasanya pengen deket kamu terus, selalu kepikiran kamu" ucap Ardi tersenyum.
" Gak usah gitu eh Ar" ucap Tya.
__ADS_1
Tya yang sedang di ujung sana wajahnya sudah memerah karena ucapan Ardi.
" Ih beneran, aku gak bisa tidur dari tadi karna mikirin kamu" ucap Ardi.
" Udah Ar, gak usah gombal" ucap Tya menahan malunya.
" Gak gombal Tya" ucap Ardi lagi.
" Udah ah Ar, aku ngantuk" ucap Tya.
" Bentar Tya... " belum selesai Ardi menjawab Tya sudah mengucap salan dan menutup telponnya.
" Assalamualaikum" ucap Tya langsung mematikan telponnya.
" Walaikumsalam" jawab Ardi tersenyum.
Ardi tau saat ini Tya pasti sangat malu karena ucapan rindunya tadi. Dia membayangkan wajah Tya yang merah seperti tomat.
" Aduh ni jantung mulai lagi" gumam Tya.
Tiba-tiba terdengar pintu kamar di ketuk.
Tok tok tok.
" Kak" ucap Bu Sari.
" Masuk bu" ucap Tya.
Bu Sari pun masuk ke kamar Tya.
" Tadi ibu dengar kamu bicara dengan seseorang" ucap Bu Sari.
__ADS_1
Tya terkejut ternyata ibunya mendengarnya tadi.
" Eh itu bu ada telpon tadi" ucap Tya gugup.
" Siapa?" tanya Bu Sari.
" Hmm itu bu, Ardi" ucap Tya salah tingkah. Dia sangat malu pada ibunya. Wajahnya pun kembali memerah seperti tomat.
Bu Sari yang melihat anaknya salah tingkah tersenyum lalu duduk di tepi ranjang Tya.
" Oh nak Ardi" ucap Bu Sari.
" I-iya bu" jawab Tya masih gugup.
" Ada apa nak Ardi menelpon kamu?" tanya Bu Sari.
" Gak ada apa apa bu" jawab Tya cepat.
Tya masih sangat malu.
" Udah kak, ibu liat sepertinya kamu suka sama nak Ardi" ucap Bu Sari melihat anaknya yang masih malu.
" Nggak bu" jawab Tya.
" Ibu bisa liat dari matamu kalo kamu memang suka sama nak Ardi, pesen ibu kamu jangan terlalu berharap, syukur kalau nak Ardi juga suka sama kamu, tapi jika tidak, kita sadar diri kak, nak Ardi seperti orang berpunya sedangkan kita, ibu juga gak mau nanti kalau nak Ardi gak bisa menerima keadaan kamu, ibu gak mau kamu kecewa" ucap Bu Sari panjang lebar.
" Iya bu" jawab Tya. Lalu ia memeluk ibunya.
" Ya sudah, sebaiknya kamu tidur sudah malam" ucap Bu Sari melepaskan pelukan anaknya dan beranjak dari tempatnya.
" Iya bu" jawab Tya tersenyum.
__ADS_1
Bu Sari pun keluar dari kamar Tya. Tak lama Tya pun terlelap dalam tidurnya.