
Menjelang magrib Tya pun terbangun, dia memanggil adiknya untuk membantunya ke kamar mandi. Setelah mandi Tya melaksanakan sholat magrib di kamarnya.
Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya di ketuk.
Tok tok tok.
" Nak, ayo makan dulu" ucap Bu Sari.
" Iya bu" jawab Tya. Ibu Sari pun masuk dan membantu Tya ke meja makan.
Mereka makan malam dengan tenang karena memang kebiasaan jika makan tidak ada yang berbicara.
Setelah makan Ayah membuka pembicaraan.
" Ayah besok akan keluar kota" ucap Ayah Nadi.
" Ngapain yah?" tanya Khaya.
" Ada urusan dengan Om Anggoro, rencananya Om Anggoro ingin mengajak bekerja sama" jawab Ayah Nadi menjelaskan.
" Berapa hari yah?" tanya Tya.
" Empat hari, gak papa kan Ayah tinggal?" ucap Ayah Nadi yang khawatir meninggalkan keluarganya.
" Gak papa Yah, semoga ini menjadi awal yang baik untuk keluarga kita, semoga semua nya lancar, Ayah tenang saja kita akan baik-baik saja" ucap Bu Sari menenangkan suaminya. Dia mengelus pundak suaminya.
Ayah Nadi merasa sedikit tenang setelah mendengar ucapan Bu Sari. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat.
Di kamar, Tya merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada yang menelponnya.
" Nomor siapa ini?" tanya Tya pada dirinya sendiri, karena yang menelpon adalah nomor asing.
Lalu Tya pun mengangkat telponnya. " Halo" terdengar suara disebrang sana.
__ADS_1
" Siapa ya?" tanya Tya.
" Masa gak kenal si?" ucap orang itu balik tanya.
Tya mengingat suara yang di dengarnya, lalu dia ingat suara itu. " Ardi?" ucap Tya memastikan.
" Iya aku Ardi" jawab Ardi.
" Ngapain nelpon?" tanya Tya dengan nada ketusnya.
" Kamu marah ya? Maaf ya, jangan marah lagi" ucap Ardi.
" Hmm" jawab Tya singkat.
" Maafin aku please" ucap Ardi dengan nada memohon.
" Iyaa, udah ya aku mau tidur" ucap Tya kemudian mematikan panggilan itu.
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali Tya sudah berada di kelasnya, dia memang sengaja berangkat pagi. Setelah beberapa saat teman-temannya mulai berdatangan. Begitu pun dengan Ardi.
" Ni buat kamu" ucap Ardi sambil memberikan coklat pada Tya.
" Apa ini? " tanya Tya.
" Ini coklat sebagai tanda permintaan maaf aku" ucap Ardi.
Tya pun mengambil coklat itu. " Makasih"ucap Tya tersenyum walaupun samar tapi masih terlihat oleh Ardi. Ardi sangat senang melihatnya.
Tanpa mereka sadari ada mata yang dari tadi menatap mereka. Ya itu adalah Leon. Dia merasa marah melihat kedekatan Ardi dan Tya.
" Kenapa aku jadi kesal begini?" batin Leon.
Kemudian Leon pun berjalan melewati mereka berdua, sebentar ia menatap Tya. Tatapan itu tajam dan membuat Tya merasa bingung tapi dia tidak terlalu menghiraukannya.
__ADS_1
Jam pelajaran pun segera dimulai. Pagi ini adalah mata pelajaran seni budaya. Mereka ditugaskan membuat kerajinan dari limbah dan dibuat beberapa kelompok.
" Baiklah anak-anak, ibu akan membagi kelompoknya" ucap Bu Dewi. Kelompok satu Dareen, Nisa, dan Ilham. Kelompok dua Aska, Lisa dan Risky. Kelompok tiga Ardi, Tya, dan Leon. Kelompok empat Reno, Sasa, Lisa, dan Ahsan" lanjut Bu Dewi.
" Tugas kalian dikumpulkan hari Senin" ucap Bu Dewi.
" Baik bu" sahut semua murid.
Setelah itu lonceng istirahat berbunyi. " Ibu permisi, selamat pagi" pamit Bu Dewi.
" Siang bu" jawab semua murid.
Setelah Bu Dewi meninggalkan kelas, Ardi pun mendekati Tya.
" Tya bagaimana tugas kita? Kapan kita kerjakan" ucap Ardi sangat bersemangat.
" Kita bicarakan dulu sama Leon, dia kan juga kelompok kita" ucap Tya dan Ardi hanya mengangguk.
Ketika Leon melewati Tya hendak keluar kelas, Tya meraih tangan Leon dan Leon berhenti.
" Ada apa?" tanya Leon dingin.
" Tentang tugaa gimana menurutmu? Kapan dan dimana mengerjakannya?" tanya Tya.
" Terserah" jawab Leon.
Tya sebenarnya sudah kesal dengan Leon tapi ian tahan. " Kalo hari minggu, dirumah ku gimana?Aku akan meminta izin ibuku, bagaimana?" ucap Tya
" Aku setuju" ucap Ardi.
" Bagaimana Leon?" tanya Tya.
" Hmm" jawab Leon lalu meninggalkan kelas. Tya hanya bisa membuang napasnya kasar membuang kekesalannya pada Leon.
__ADS_1