Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Sekelumit kebencian


__ADS_3

"Alma".


"Ya, bos?".


"Bisa kita bertemu pribadi di luar jam kantor? Sepulang kerja nanti.".


Tanya kara tiba-tiba. Saat ini, suasana kantor nampak lengang karna waktu sudah memasuki jam makan siang.


Sebagian karyawan ada yang makan di luar kantor, ada juga yang tetap makan di kantin.


Alma nampak mengerutkan keningnya dalam-dalam.


Bertemu?


Di luar kantor?


Mungkinkah bos nya ini tengah mengajaknya kencan?


Tapi? Bukankah Hanum mengaku bahwa ia sangat menyukai bos kara?


Barbagai tanya memenuhi kepala Alma saat itu.


"Apa bos mulai jatuh cinta padaku?".


"Kau mau mati? Memangnya Seberapa tinggi nilaimu sampai aku harus jatuh cinta padamu?


Aku hanya Sedang butuh bantuanmu. Dan ini bantuan di luar pekerjaan.


Jadi katakan saja kau bisa, atau tidak?".


Sahut Kara tajam. Nadanya mengandung kesinisan.


Ya tuhan, Alma benar-benar akan mengalami nasib sial setiap hari.


"Bisa, bos. Kalau boleh tau, apa bos punya masalah denganku?".


"Apa kelihatannya seperti itu?".


"Tidak. Lalu?".


"Kau akan tau nanti. Tapi ingat, ini rahasia. mengerti?".


sebersit spekulasi buruk mulai menghinggapi kepala Alma.


Jawaban Kara yang penuh teka-teki, memperkuat spekulasi bahwa Kara menyukainya.


Tapi, benarkah?


Bukankah bos nya ini telah menegaskan bahwa ia tak menyukai Alma?


Oh tidak, Alma akan celaka karna mungkin saja Hanum akan mengatainya tukang tikung sahabatnya.


Gila.


Ini benar-benar gila.


"Baiklah".


*********


Dan ini adalah hari yang teramat berat bagi Radhi.


Hari ini, Ia tengah mengunjungi Ketiga orang tuanya. Ya, tiga.


Sungguh sangat istimewa dirinya sekarang.


Di sana, juga sudah ada Chandra, Dewi, Arlan, Ariana, juga Dita.


Radhi, Lita, dan Aridha baru saja tiba.


Luna menyambutnya dengan sangat antusias.


Begitu pula dengan Ratna dan Santika.


"Apa kata dokter, Bu?"


Radhi menatap ibunya penuh tanya. Di samping Santika, Ratna juga menatap reksa penuh cemas.


"Ayahmu terlalu lelah. Ini dan mama Ratna sudah membujuknya untuk tak mengontrol ladang dan ternak.


Tapi ya......


Reksa tetaplah reksa yang keras kepala."


"Radhi sudah katakan. Radhi lebih dari sekedar mampu untuk membiayai kehidupan kalian".


"Bahkan aku juga sudah mengajak mereka tinggal di kota, kak. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.

__ADS_1


Tapi papa tetaplah papa yang menolak dengan angkuh dan keras kepalanya.


Aku sebagai anak tentu merasa tak sempurna meski perusahaan keluarga telah ku kembangkan dengan baik.


Semua karna aku tetap menyaksikan orang tuaku seperti ini."


Chandra menimpali ucapan Radhi.


"Nak"


Ratna memandangi satu per satu anak, menantu dan cucu-cucunya.


Ada rasa bersalah yang tersirat dalam netra matanya yang tak lagi muda.


"Ayah kalian, telah bertekad akan hidup mandiri tanpa merepotkan kalian.


Meski kehidupan kami tak semewah dulu, namun disini kami merasakan kebahagiaan hidup yang sempurna dan sesungguhnya.


Kemewahan tak lantas mampu membuat kita sempurna tanpa kebahagiaan.


Biarlah........


Kami bahagia di sini.


Mama berjanji akan merawat ayah kalian dengan baik dan menghentikan aktifitas papamu mengontrol ladang dan ternak".


Ratna sangat bijak.


Hari-hari yang ia lalui bersama madu dan suaminya, demikian membahagiakan meski kebersamaan mereka selama ini, melewati proses yang demikian sulit.


Di sinilah kebahagiaan mereka terbentuk.


Di sinilah ikatan emosi mereka bertiga terikat kuat.


Di sinilah Reksa membangun singgasananya beserta singgasana permaisuri-permaisurinya.


Tidak ada singgasana selir. Yang ada dua tahta yang ia bangun dengan porsi sama rata.


Di sinilah kesempurnaan seorang Reksa sebagai seorang laki-laki, membahagiakan kedua istrinya tanpa membeda-bedakan.


Hingga berujung pada keberhasilannya dengan membuat istri-istrinya rukun tanpa perselisihan.


"Tapi aku tak bisa membiarkan kalian luput dari pengawasan kami, Bu, mama.


Aku merasa tak berbakti pada kalian bila terus membiarkan kalian seperti ini".


Radhi memohon sekali lagi.


"Siapa Bilang kalau kalian tak berbakti pada Kami?


Dengan beberapa kalian yang kalian kirim datang untuk mengawasi kami, sudah menunjukkan kalian memiliki kepedulian tinggi terhadap kami.


Percayalah, nak.


Kami bahagia berada di sini".


Ungkap Santika dengan bijak.


Tangan Santika perlahan menggenggam jemari Ratna, meremasnya perlahan untuk menyalurkan kebahagiaan, menunjukkan pada anak-anaknya bahwa mereka demikian hidup lebih bahagia tinggal di sini, dibanding dengan dikota.


"Apa itu artinya kalian tak bahagia bila hidup bersama kami?"


Chandra kembali angkat suara.


"Bukan". Santika menolak asumsi Chandra.


"Tapi kami akan menghabiskan masa tua kami disini. Kalian tau? Di sinilah kebahagiaan kami bermula, dan di sini pula lah kami akan terpisah oleh maut. Maut yang akan mempertemukan kami kembali pada alam keabadian".


"Bisakah aku seperti Oma dan opa suatu saat kelak?


Menemukan istri-istri terbaik dan tercantik untuk hidup menua bersama hingga maut yang memisahkan?


Ya tuhan........


Ku rasa aku ingin memiliki lima istri seperti oma-omaku ini".


Di ambang pintu, Kara tiba-tiba datang mengejutkan mereka semua.


Santika terlonjak kaget dan berdiri secara spontan.


"Kara, ya Tuhan".


Santika menutup mulutnya tak percaya.


Wajah yang tadinya lembut, kini menampakkan haru yang luar biasa.


Air matanya kian luruh.

__ADS_1


"Aku merindukan kalian".


Dan berhambur lah Kara ke pelukan Santika.


Santika meraung, menangis mendapati cucu tampan kesayangannya ini telah kembali.


Sembilan tahun.


Sembilan tahun Santika menantikan kehadiran Kara di tengah-tengah mereka.


Santika lah yang paling histeris kala itu.


Bagaimana tidak, saat Kara terlahir, Santika lah yang merawat dan mengurus Kara.


Ada ikatan batin yang demikian kuat antara mereka.


"Oma nyaris mati karna kau terlalu lama meninggalkan Oma.


Mengapa tak segera mengunjungi Oma bila kau nyatanya telah tiba beberapa hari lalu?"


Santika merenggangkan diri dari Kara.


Ia tatap mata tajam Kara.


Sungguh, ini bak mimpi yang menemani malam-malam Santika.


Kara terkekeh perlahan.


"Jangan berlebihan. Putra Oma yang tampan itulah yang mendesakku untuk segera mempelajari segala sesuatu tentang perusahaan."


Sindirnya pada Radhi.


Kemudian Kara menghampiri dan memeluk Ratna sejenak. Dan tanpa sengaja, Netra mata Kara menangkap siluet seorang wanita yang amat di bencinya setengah mati.


Sekelumit hatinya mendadak menggelap.


Sekelumit hatinya tiba-tiba merangkul kebencian.


Dita.


Wanita itu adalah Dita.


Sejenak Kara menatap wanita itu intens.


Semua orang menatap Kara yang pandangannya demikian datar.


"Kak.....".


Mata Aluna berkaca-kaca. Ia merasa terabaikan disini.


"Tidak kah ada yang merindukanku?"


Sontak kara meraih Adik kecilnya ke dalam pelukan. Ada rasa sayang yang demikian nyata di mata Kara.


Meski mereka tak tumbuh bersama dan berbeda tempat, namun tentu masih ada ikatan batin yang kuat diantara keduanya.


"Aku merindukan dirimu hei gadis manis.


Dengar, akhir pekan nanti, aku akan menjemputmu untuk berjalan-jalan.


Mentraktirku makan apa saja yang kau mau, dan membelanjakanmu sebanyak yang kau ingin".


Tukas Kara.


"Baiklah...


Tentu saja aku mau asal bersama Kak Ridha."


Mata Luna tak jadi menangis. Berubah berbinar seketika.


Ridha pun bersorak girang saat ada agenda terbaru jalan-jalan dengan saudara-saudarinya.


"Baiklah, aku akan menjenguk opa dulu sebentar. Tapi sebelum itu, Bisakah kalian berdua mengusir sesuatu yang menyesakkan di ruangan ini?".


Kara menatap kedua adiknya lekat-lekat.


Seketika pandangan Aridha tertuju pada Dita yang menunduk dengan linangan air mata.


🍁🌻🌻🌻🍁


Kalau tiba-tiba neng Tia ngilaang, itu artinya neng Tia lagi khilaf yaπŸ˜‚πŸ˜‚


Getok aja kepalanya pake apa kek, gituπŸ˜…


Maklum lah, urusan dunia nyata demikian menyita waktu dan cukup melelahkan, terutama hati kemarin.


Semoga aja neng Tia tetep bisa up ya......

__ADS_1


Makasih semua yang udah dukung.....


Aku sayang kalianπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2