
"Kau berani berniat bermacam-macam denganku, ku tebas burungmu dan akan aku Gilas telurmu itu!!".
Alex bergidik ngeri membayangkan.
~part sebelumnya~
Dengan susah payah, Alex nampak meneguk salivanya, benar-benar kepayahan.
Selama hidup Alex dengan gelimang harta yang demikian melimpah, tak ada satupun wanita bersikap anggun namun berani.
Rata-rata dari mereka, lebih kepada memalsukan kecacatan moral mereka dengan keanggunan sikap dan penampilan elegan.
Aridha.......
Gadis ini demikian keras kepala dan kokoh pada pendiriannya. Ia tak akan berhenti hingga apa yang ia inginkan tercapai.
Wanita anggun dengan keras kepalaan yang tinggi, membuat sisi hati Alex merasa penasaran setengah mati.
Apa yang sebenarnya di miliki putri pemberani dari keluarga Praja Bekti ini?
Pesonanya mematikan, seperti Jelita muda.....
Sikap tenangnya mengagumkan, seperti Radhi muda.......
Mulutnya tajam, seperti Azkara sang kakak......
Bibirnya sensual seperti Radhi dan Santika.....
Namun keberaniannya........
Tak ada yang menandingi keberanian sang mama.....
Otak liar Alex mulai berfantasi....
Andai ia benar-benar bersanding dengan Aridha, mungkin hidupnya benar-benar monoton dan terasa seperti penjara.
Sedikit saja ia salah melangkah, Aridha mungkin akan menyeretnya dan melemparnya tanpa ampun.
Ya Tuhan....
Membayangkan saja Alex terasa megap-megap karna sesak nafas.
"Kau masih berniat mencicipi bibirku? menciumi ku hingga kau tak lagi penasaran? Coba saja.
Aku tak keberatan membuat hidungmu patah menjadi serpihan debu".
Aridha kembali bicara dan terkekeh pelan.
"Sayangnya aku tak tertarik melakukannya.
Pergilah, keberadaanmu selalu berhasil mengacaukan hidupku yang sudah mulai tertata".
Alex berkata acuh.
Aridha........
Dengan mudah, ia bisa membaca apa yang ada dalam benak Alex.
Di hadapan Aridha, Alex bak lembaran buku dengan emosi yang mudah dibaca.
Tidak seperti Alex yang biasanya selalu bisa menyembunyikan emosinya dengan baik.
__ADS_1
Tak jauh dari mereka, Daniel tersenyum.
Hatinya menghangat ketika melihat interaksi keduanya. Dadanya berdenyut nyeri saat membandingkan nasibnya dengan keberuntungan yang Alex miliki.
Reputasi Daniel dan Alex memang terbilang sama-sama buruk perihal wanita. Namun kini, Daniel terluka juga karna wanita.
Dita meninggalkannya tepat dua hari menjelang pernikahan mereka.
Penghinaan.....
Itu lantas di sebut sebagai penghinaan. Meski Chandra telah meminta maaf akan kelakuan putrinya, namun itu tak mengubah keadaan.
Beruntung saat ini, Chandra dan Dewi berbaik hati mengijinkan Daniel mengunjungi putrinya, Hana secara berkala.
Syukur masih bisa Daniel gaungkan.
Setidaknya, ia memiliki kesempatan untuk memperbaiki dosa masa lalunya dengan mencurahkan kasih sayang pada Hana......
Meski tanpa Dita.
*****
Hanum menggandeng erat lengan suaminya. Matanya tajam mengawasi lingkungan sekitar.
Senyumnya mudah menawan pria manapun ke dalam pesonanya.
Langkah Kara dan Hanum pelan menyusuri jalan menuju aula gedung.
Malam ini, diadakan sebuah pesta peresmian kantor cabang sebuah perusahaan milik kolega bisnis keluarga Praja Bekti.
Semua yang datang nampak berkelas dengan penampilan yang sangat glamor.
Tak jauh dari Kara, Radhi berjalan bersisian dengan istrinya yang bergelayut manja.
Juga Arlan dan Alma. Mereka mendapat undangan resmi dari pemilik perusahaan.Terlebih, Arlan memiliki prestasi yang cukuo gemilang dalam profesinya. Menjadikannya menjadi incaran para pengusaha untuk di jadikan menantu.
Sayangnya, Ia telah beristrikan Alma.
Wanita cerewet namun tegas dan pemberani.
Mata Jelita dan Radhi awas membaca lingkungan sekitar.
Bagi mereka, Keselamatan Hanum yang paling utama. Mereka tak tau saja bahwa sebenarnya tak ada yang mengincar Hanum, melainkan Kara lah yang menjadi objek buruan.
Ketika mereka memasuki aula gedung, semua mata terpaku pada sosok pasangan Kara dan Hanum.
Setelan jas dan celana hitam, di padu dengan kemeja berwarna kuning gading, membuat Kara mudah memikat hati wanita manapun.
Jangan lupakan istrinya yang juga nampak menggoda. Dengan dress brukat kuning gading pres body yang di padukan dengan satin warna hitam, membuat siapapun yang melihatnya berdecak kagum.
Wajah Hanum nampak sempurna dengan polesan make up tebal berwarna natural. Rambut nya di sanggul ke atas sedemikian rupa hingga memperlihatkan leher jenjangnya, menyisakan Surai rambut yang bergelombang manja di sisi pelipis kanan dan kiri.
Sempurna.......
Kata yang sangat pantas di sematkan pada Kara dan Hanum.
Usai berbasa-basi sebentar dengan pemilik acara, Kara segera membimbing istrinya untuk mendekat ke arah Radhi dan Jelita.
"Sayang, jangan pergi kemanapun selain ke arah mama dan papa, mengerti?".
"Mengapa, mas? Apa ada sesuatu yang mencurigakan?".
__ADS_1
Hanum bertanya dengan harap-harap cemas. Matanya nampak menunjukkan kegelisahan.
Kara tersenyum menenangkan.
"Sejauh ini tak ada yang mencurigakan di sekitar sini. Semua nampak aman-aman saja.
Hanya saja.......
Intuisiku mengatakan, ada yang mengintai kita.
Aku merasa keberadaanmu tak aman disini."
"Oh, apakah ini mendesak?".
"Tidak juga. Hanya saja.....
Tak ada salahnya untuk tetap waspada, bukan?".
"Ya, aku mengerti".
Dari jauh, Kara bisa melihat kedua orang tuanya yang berbincang dengan salah satu kolega bisnis.
Setelan linen hitam Yang Radhi kenakan nampak serasi dengan gaun yang Jelita kenakan.
Gaun hitam dengan aksesoris emas yang melekat pada tubuhnya, membuat Jelita nampak seperti Ratu malam ini.
"Oh, sayang......Jangan jauh-jauh dari kami, mengerti?".
Suara Jelita nampak mengintrupsikan menantunya. Ada ke khawatiran yang Jelas jelita rasakan untuk menantu kesayangannya ini.
"Baiklah, ma."
"Kara, papa menangkap sesuatu yang tak enak, beberapa orang yang mencurigakan tengah mengawasi pergerakan kita.
Tetap perketat penjagaan istrimu.
Jangan lupakan senjata sekecil apapun untuk melindungi diri"
"Aku juga merasakan hal yang sama, pa."
Hanum nampak panik.
"Ba-bagaimana ini, mas? Apa kita akan pulang saja?".
"Sayang, tenang saja. jangan khawatir, tenangkan dirimu, oke?
Tak akan ada yang berani menyakitimu.
Selama mama hidup, kau di bawah perlindungan keluarga kami".
Jelita menggenggam lembut jemari menantunya yang terasa dingin.
"Baiklah, ma.".
"Ma, aku titip istriku dulu. Aku akan pergi sebentar ke toilet."
Kara berlalu pergi. Menyisakan Jelita dan Radhi yang memiliki firasat buruk.
Dalam hati, Hanum tak henti-hentinya meyakinkan dirinya bahwa suaminya akan kembali.
Entah mengapa, perasaannya mendadak tak nyaman. Seperti enggan di tinggal Kara kali ini.
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁