Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Ekstra episode 7


__ADS_3

Akhir pekan yang ditunggu-tunggu Yasmin telah tiba. Aura kebahagiaan terpancar dari wajah Yasmin dan Aksa secara bersamaan. Kini, keduanya sudah tak sabar untuk bisa menjumpai putra semata wayang mereka yang katanya, sudah mulai aktif berlarian kesana kemari.


Saat ini, sepasang suami istri itu sudah tiba di bandara ibukota. Sopir dan dua orang pengawal, tampak menunggu Aksa dan Yasmin.


Setelah Yasmin dan Aksa sudah bertemu dengan sopir, kini keduanya sudah menaiki mobil dan bersiap untuk pulang. Banyak ocehan Yasmin berkali-kali mengungkapkan rasa tak sabarnya untuk bertemu dengan Giovanni.


"Mas, kira-kira, apa nanti Giovanni tak kaget dengan kedatangan kita? Kita memang tak bertemu setiap harinya, akan tetapi kan, kita sering berkomunikasi." Ungkap Yasmin.


"Tenanglah, sayang. Kau akan segera menemui dan memeluk anak itu." Ucap Aksa kemudian. Sejujurnya tak hanya Yasmin, namun juga Aksa demikian sangat rindu pada Giovanni.


"Kata mama Hanum dan ibu, Giovanni semakin sehat dan tubuhnya yang mengembang. Ya Tuhan, pasti dia sangat tampan." Ucap Yasmin lagi.


"Ya, sepertinya begitu. Oh ya, sepertinya kita sudah nyaris sampai." Ucap Aksa kemudian.


Yasmin hanya mengangguk di tempatnya. Wanita itu lantas membuang pandangannya ke arah luar jendela, melihat sekeliling halaman luas kediaman Praja Bekti dan menuju ke arah garasi mobil.


Tentu di teras depan udah ada Oma Jelita yang menggendong Giovanni, Hanum, Inora dan juga Aridha dan Hesti yang menunggu kedatangan pewaris generasi berikutnya kerajaan bisnis miliki praja Bekti. Semua mata memandang dan menyambut kedatangan Yasmin bersama Aksa.


"Ya tuhan, astaga, Giovanni . . . . putraku semakin tampan saja. Astaga, lihatlah dia, sayang. Ia tampak dan sangat menggemaskan." ucap Yasmin kemudian.


Setalah memberi salam pada semua anggota keluarga yang menyambut mereka, Yasmin lantas membawa Giovanni ke dalam gendongan. Ia bahkan sangat gemas dan ingin sekali rasanya menggigit Gio. Begitu juga dengan Aksa yang sangat merindukan putranya.


"Apa kabar?" Radhi muncul di ambang pintu, sambil membenarkan letak kacamatanya. Pria paruh baya itu tak kalah rindu dengan cucu kesayangannya itu. Bahkan, Radhi berharap, satu bulan lagi Aksa harus sudah siap menggantikannya di perusahaan.


"Baik, opa. Astaga, aku dan yasmin sangat merindukan opa. Bagaimana kabar opa? Maaf baru bisa pulang, Aksa harus mengurus segalanya sendiri disana, termasuk kelulusan Aksa." Ungkap Aksa lagi.


Radhi terkekeh kemudian. Lelaki itu tahu betul, sejak kecil, Aksa selalu manja olehnya dan Jelita.


"Ayo masuk. Kau harus menceritakan bagaimana pengalamanmu menjalani pendidikan di LA."


Radhi menuntun menuntun mereka semua ke ruang keluarga di lantai bawah. Percakapan hangat tersengat begitu menyenangkan bagi mereka.

__ADS_1


"Oh ya, sekalian saja, aku ingin mengumumkan pengumuman penting tentang Yasmin." Ucap Aksa kemudian. Lelaki itu menatap semua orang yang menatapnya. Hanya ayah dan adik Aksa saja yang tak bisa hadir, Lantaran adik dan ayah Aksa Ify telah berada di Aussie. Hanya Hanum yang tinggal.


"Ada apa?" tanya Aridha, mewakili tanya semua orang yang ada disana.


"Giovanni akan segera memiliki adik, Yasmin tengah mengandung lagi, dan Suai kandungannya sudah tujuh Minggu." Ungkap Aksa, Sabil fokus menatap istrinya penuh cinta.


"Astaga, kau ini masih belum dewasa beruk, tapi sudah mau punya anak dua." Ucap Aridha sambil tertawa dan melempari Aksa dengan bantal.


Kabar gembira ini, benar+benar terasa semakin lengkap dan hangat dalam keluarga Praja Bekti.


**


Pagi ini di kantor Alex, Marcel tengah sibuk dan matanya fokus menatap layar laptopnya. Pemuda itu kini tengah memeriksa hasil kerja para bawahannya.


Waktu telah nyaris memasuki sore hari, ketika Lusi datang dengan membawa sepiring Irisan buah apel dan nanas diatas nampan.


"Ini, tuan." Kata Lusi sambil meletakkan sepiring Iriana buah tadi. Tak lupa, segelas air putih tampak membersamai piring tersebut.


"Jadi, bagaimana, Lusi? kau udah siap menjalankan misi pertama hari ini?" tanya Marcel tiba-tiba, membuat Lusi terdiam dan menatap penuh keyakinan pada Marcel."


"Aku sudah siap, tuan. Hanya sa . . . ."


"Saat kita hanya berdua, jangan memanggilku dengan sebutan tuan, kau mengerti?" Tanya Marcel kemudian. Tentu saja Lusi hanya mengangguk.


"Mari duduk di sofa. Kita perlu bicara santai. Jangan khawatir, hari sudah nyaris sore, bukan?" Lusi mengangguk dan ikut Marcel untuk duduk di sofa di sudutruangan


Andai keduanya tidak sedang berada di dalam kantor, Lusi lebih tertarik untuk menghajar Marcel saja, karena sudah seenaknya mengatur-atur Lusi.


"Oh ya, ambil ini. Ini adalah tabungan dengan rekening atas namamu. Tanda tanganmu sudah di sahkan saat kemarin kau menanda tangani berkas kosong. Ini adalah bentuk bayaranmu. Terimalah, semoga kau bisa menyekolahkan adikmu." Kata Marcel, sambil mengulurkan sebuah amplop berisi kartu rekening beserta buku tabungannya.


"Tap, tapi . . . Apa ini tak terlalu berlebihan, tu . . . eh, Marcel? Anda sudah membayarkan tunggakan kontrakan, dan juga sudah memberikan sejumlah uang untuk, membantu biaya kebutuhan sekolah Shila dan kebutuhan kamu sehari-hari.

__ADS_1


"Itu tak seberapa, aku hanya ingin membantu, karena kau juga sudah bersedia membantuku. Percayalah, aku tulus dan aku tak mungkin meminta kau mengembalikannya."


Dengan tangan bergetar, Lusi lantas menerima amplop yang diangsurkan oleh Marcel. Ia menerima dengan perasaan tak menentu. Menjadi makcomblang Marcel dengan wanita cantik gemulai itu, entah mengapa membuat Lusi seolah merasa semakin tak menentu hatinya. Antara takut dan khawatir, Lusi jadi semakin bimbang.


Beruntung, biaya sekolah Shila dan juga biaya hidup dengan gaji pas-pasan, membuat Lusi kini benar-benar meneguhkan hatinya untuk mengikuti perintah Marvel, sang majikan.


"Terima kasih banyak, Marcel" Ungkap Lusi kemudian.


"Jangan lupa untuk mengatakan saja apa yang jadi kebutuhanmu, Lusi. Aku dengan senang hati akan membantu, karena kau sudah banyak membantuku." Tukas Marcel kemudian.


"Baiklah. Aku akan selalu setia menunggu banyak informasi darimu. Kuharap, kau bisa tutup mulut dan merahasiakan semua ini dari papa Alex, dan juga dari semua orang, termasuk mama Ridha juga, kau mengerti?"


"Ya." Lusi hanya bisa mengangguk paham mendengar permintaan Marcel.


Tanpa Lusi sadari, bahwa ini adalah awal dari riak gejolak asing dalam hidupnya. Gadis itu tak menyadari, bahwa ketika bantuan Marcel datang dan masalah hidupnya dibantu Marcel untuk mengatasi, namun justru akan menumbuhkan prahara paling besar sepanjang hidupnya.


Marcel Dinata . . . .


Lelaki itu adalah lelaki rumit, dan tak sesederhana yang Lusi pikirkan.


**


Terima kasih buat yang udah ngikutin cerita penuh typo ini. Maaf, kerap kali update malem dan mata udah susah melek. Semoga pada suka, ya.


Mulai besok, akan update kisah Hana dan Tirta yang dikemas dalam judul "UNWANTED HUSBAND", dan juga kisah Marcel dengan judul, "SEKADAR CINTA FIGURAN." Kisah Ira dan Juna juga akan tetap lanjut besok, ya.


Terima kasih. Jangan bosan-bosan mampir, ya. Salam santun dari Istia.♥️


Sampai jumpa di karya berikutnya.


**

__ADS_1


__ADS_2