Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Mengenali sisi hati


__ADS_3

Malam semakin merangkak larut.


Udara dingin Kian menusuk, menembus celah pori-pori yang telanjang.


Hanum....


Wanita itu kian merasa kedinginan, menanti suaminya pulang hingga larut.


Pintu terbuka dari luar, Kara muncul dengan wajah datarnya.


"Mas, sudah pulang? Biar ku siapkan air hangat dulu".


"Hmmm.....".


Usainya, tak ada pembicaraan apapun hingga Kara usai dengan mandinya. Pria bertubuh kokoh itu segera merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


"Hanum......".


Suara Kara demikian lembut dan lirih di telinga Hanum. Hanum yang sedari tadi hanya diam dan memejamkan mata, sontak membuka matanya kembali.


"Ya".


"Kau masih ingat Alex dan Daniel?


Teman sekolahmu dulu, dan mereka kakak beradik".


"Ya aku ingat. Apa terjadi sesuatu yang berkaitan mereka? Mereka dulu.....


terkenal suka bermain wanita".


"Dan Dita adalah korbannya".


Sahut Kara cepat. Hanum yang mendengar nama Dita di sebut oleh Kara, merasa tak nyaman. Ada segelintir hati yang terasa perih saat Kara menyebut nama Dita dengan pandangan mata nyalang.


Selama ini, bahkan nama Dita Kara haramkan meski hanya sekedar di sebut.


Dita mendadak merasakan firasat tak baik kali ini.


"Korban?"


Bibir Dita terasa kaku.


"Ya. Sembilan tahun lalu, ketika aku telah pergi ke new York, Dita melakukan kesepakatan dengan Daniel. Sayangnya, Daniel memanfaatkan Dita hingga sedemikian rupa. Membawa serta Alex untuk memperkosanya dan memperlakukannya bak wanita lacur".


Hening sesaat, Hanum hanya diam.


Mencari kata yang telat untuk menimpali ucapan kara, mencari bahas ayang tepat untuk mengimbangi emosi yang saat ini Kara tunjukkan.


Kilatan amarah memancar dengan jelas, menari lincah pada netra mata tajam Kara.


"Kau masih mencintainya?".


Hanum bertanya tepat pada titik sensitif yang Kara rasakan.


"Mungkin kah aku masih mencintainya?


Tidak Hanum. Bagiku semua wanita sama.


Tak semudah itu aku menumbuhkan rasaku lagi setelah segala sesuatu yang buruk ku alami".


Ada rasa lega yang luar biasa menyelimuti Hanum kala itu. Kelegaan yang lantas membuat berbagai prasangka buruk itu enyah seketika.


"Aku mencintaimu, mas. Sungguh.

__ADS_1


Aku tak mau bila kau menaruh hatimu pada wanita lain. Milikilah aku. Maka aku juga akan memilikimu seutuhnya. Bila kau telah meletakkan hatimu untuk seorang wanita, maka wanita itu hanya aku. Tidak boleh yang lainnya.


Berikanlah surga seperti yang kau ucapkan saat melamarmu di hadapan ibuku.


Berikanlah kenyamanan seperti yang kau janjikan di hadapan papa dan mama mu".


Sudut mata Hanum berair.


Satu hal yang Kara pahami tentang Hanum saat ini. Hanum adalah wanita rapuh. Kerapuhan yang Hanum tutupi dengan wajahnya yang cantik dan ceria.


Kara diam tak menjawab.


Sejujurnya, ada rasa bimbang dalam hatinya. Bimbang yang seketika menyeruak.


Yang di katakan Hanum adalah sebuah kebenaran. Bila Hanum tulus mencintainya, baiklah..... Kara juga akan melakukan hal yang serupa.


Perlahan, Kara mengikis jarak di antara mereka.


Menyingkirkan egonya sejenak. Mengecup bibir Hanum perlahan, nb merasakan manis yang membuat kara seperti ingin lagi dan lagi **********.


Kali ni, tak seperti malam-malam sebelumnya, Kara memperlakukan Istrinya dengan kelembutan yang nyata. Membuat Hanum terbuai dan melenguh penuh nikmat di bawah kuasa suaminya.


"Mmmmpphh.... akkhhhhhhh...... mas...... ssshhh....."


Suara Hanum membuat Kara semakin terbakar api gairah. Gairah yang tak pernah padam.


Dari sini kara perlahan mengenali sisi hatinya.


Kara merasakan nyaman saat bersama Hanum.


Namun untuk cinta, entahlah.......


Kara masih tak berani menyimpulkan.


"Mari nikmati malam yang telah larut ini, Hanum.


Dengan tenaga yang seakan tak pernah habis, Kara demikian memacu keperkasaannya dengan menggauli istrinya hingga beberapa kali sesi percintaan.


Nafsunya seakan tak pernah padam. Senantiasa menuntut lebih dan ingin lagi dan lagi. Mengulang berkali-kali hingga Hanum pasrah menjerit nikmat di bawah kungkungannya.


Beruntung, Hanum termasuk dalam kategori wanita kuat dalam mengimbangi nafsu gairah suaminya.


**********


Matahari perlahan merangkak naik ketika Hanum mengerjapkan matanya perlahan. Beberapa kali hingga ia menyadari nafasnya terasa sesak.


Di liriknya tangan kokoh suaminya melingkar di perutnya. Hanum tersenyum.


Tak seperti pagi-pagi sebelumnya yang pernah ia lewati, Kali ini kara mendengkur halus di sampingnya. memeluknya penuh keposesifan.


"Kau sudah bangun?".


Kara bersuara serak khas baru bangun dari tidur.


"Selamat pagi, mas".


Hanum tersenyum lembut. Tangannya perlahan terulur menyentuh sisi rahang wajah suaminya.


"Hmmmm pagi".


Kara kemudian merubah posisi miringnya menjadi terlentang. Mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Mas akan bekerja lagi ini?".

__ADS_1


"Tidak, kurasa. Aku harus menemui paman Arman dan memastikan rencana esok".


"Esok?".


"Ya. Esok. Esok aku akan menyerang perusahaan yang semestinya menjadi hak mendiang ayahmu, Hanum.


Bukan karena aku serakah ingin menguasainya, karna aku ingin memperjuangkan hak mu dan kakakmu yang mereka kuasai."


"Secepat itu?".


Hanum bertanya pelan. Hatinya mendadak perih saat mengingat mendiang ayahnya yang tewas karna terbunuh oleh kerabatnya sendiri.


"Kau ingin aku melakukannya kapan, hm?".


Hanum menggeleng dan tersenyum.


"Bangunlah dan buatkan aku kopi dengan sedikit gula. Ingat. Aku tak suka manis-manis.


Hari ini aku akan mengajakmu menemui putri yang di lahirkan di ta di panti asuhan di pinggiran kota. Bersiaplah".


"Apa? Pu...pup putri Dita?".


Hanum terkejut setengah mati.


Benarkah Dita telah memiliki anak?


"Ya. Anak Dita. Anak hasil perkosaan yang di lakukan Alex dan Daniel sembilan tahun lalu. Papa berencana untuk mengambil anak itu dan menyerahkan pada om Chandra agar lebih terawat. Bagaimana pun, anak itu tak berdosa."


"Oh ya tuhan, benarkah?".


"Hmmm".


"Apakah kita.... kesana bersama Dita?".


Kara menggeleng saat Hanum demikian penasaran akan hal ini.


"Tidak. Dita tengah kritis setelah menjalani operasi ringan tadi malam. Kau tau?


Daniel dan Alex bahkan ingin kembali menggilir Dita untuk di kuasa kembali.


Aku tak menyangka anak-anak Atmadja demikian bringas bak binatang liar".


Kara menggeleng kecil. Tak habis pikir dengan kelakuan kakak beradik itu.


"Ja...jadi apakah Alex dan Daniel mengetahui bahwa Dita melahirkan putri, benih di antara mereka?".


"Tentu saja mereka tau. Sayangnya, Om Chandra murka setelah tau bahwa pelaku pemerkosaan Dita adalah mereka berdua.


Jadi, tak ia biarkan Alex dan Daniel mengetahui keberadaan anak itu".


Kara menerawang jauh.


Matanya menatap kosong langit-langit kamar bercat putih miliknya.


Semalam, Chandra demikian murka dan ingin menghabisi Daniel dan Alex. Andai Jelita tak memiliki kemampuan bertarung, tentu mamanya Kara itu tak akan mampu menghalau Chandra yang akan menyerang kakak beradik itu dengan membabi buta.


Kara dan Radhi yang kembali ke ke tempat itu demikian terkejut saat keadaan lingkungan di sana kacau balau.


"Ya tuhan. Aku tak menyangka Dita akan memiliki nasib sesial itu. Apakah Tante Dewi baik-baik saja semalam?".


"Ku rasa kau terlalu banyak bicara, sweet heart.


Biarkan aku menguasai kembali liang senggama mu sekali lagi, maka aku akan menjawab segala tanya mu."

__ADS_1


Kara tak memberi kesempatan istrinya untuk menjawab. Ia segera menyerang Hanum dengan garang, mencumbunya kembali tanpa lelah.


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2