Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Ekstra episode 5


__ADS_3

Di suatu malam yang sunyi, Alex tengah duduk seorang diri di balkon kamarnya bersama Aridha. Sepasang suami istri itu tengah menikmati berdua, dengan masing-masing ditemani secangkir teh jahe hangat.


Keduanya baru saja menyelesaikan pekerjaan di ruang kerja, dan sepakat untuk menikmati waktu berdua saja. Beruntung saat ini Hesti tengah ikut Radhi dan Jelita untuk menghadiri sebuah pesta. Jadi, Alex dan Aridha bisa sedikit tenang tanpa direcoki oleh Hesti.


"Bagaimana tadi? Maksudku, pembicaraan dengan Inora. Apakah kalian sudah mendapatkan kesepakatan?" Tanya Aridha yang penasaran. Ia sudah tahu dan mendengar sendiri apa yang suaminya dan Inora perbincangkan tadi. Hanya saja, Aridha masih sangatlah penasaran dengan pengakuan Alex.


"Tak ada kesepakatan apa pun. Inora menolak pemberianku, juga melarangku untuk memberikan sebagian hartaku pada Marcel." Jawab Alex sambil menyesap tehnya pelan-pelan.


"Benarkah? Lalu, bagaimana jawabannya?" tanya Ridha lagi.


"Tak ada jawaban apa pun. Inora berkata bahwa tak seharusnya aku melakukannya. Menurut Inora, Marcel memang darah dagingku, hanya saja, tak ada surat resmi dari lembaga hukum yang menyatakan bahwa Marcel putraku. Jadi ia tak berhak mendapatkan hartaku." Jawab Alex jujur. lelaki itu tak ingin menyembunyikan apa pun dari sang istri, termasuk tentang Marcel.


"Tak apa, kita bisa membujuk Marcel pelan-pelan. Biar bagaimana pun, aku tak ingin kau pilih kasih terhadap Hesti dan Marcel. Berikan kasih sayangmu lebih besar pada Marcel untuk menebus kesalahanmu. Kau harus bisa membuat Marcel tak merasa dibuang. Mungkin, ia bisa memaklumi bahwa, dulu kau tak tahu akan kehadirannya." ucap Aridha kemudian.


"Aku kadang berpikir, sayang. Bagaimana jadinya saat itu, andai Inora datang dan menangis padaku, untuk meminta pertanggungjawaban. Aku tak bisa bayangkan apa jadinya bila aku berpisah dengan mu." Alex meraih tangan istrinya, mengecup pelan dengan lembut dan hati-hati.


"Mungkin memang beginilah takdirnya, sayang. Apa pun masa laluku, sudah kubilang bahwa aku sanggup menerimamu apa adanya tanpa syarat." Ucap Aridha kemudian. Wanita itu benar-benar tak mampu jika harus dijauhkan dari Alex.


"Aku tak menyangka bahwa, Inora benar-benar gila karena ku."


"Sudahlah, mungkin memang seperti ini jalannya. Oh ya, kau tak ingin menengok kak Daniel dan istrinya? Kita sudah lama tak mengunjungi mereka." Kata Aridha mengungkapkan keinginannya.


"Kita akan mengunjungi mereka jika kau ingin. Mungkin, akhir pekan kita bisa agendakan untuk jalan-jalan. Hesti juga ajak sekalian." Sahut Alex.


"Semoga saja Hesti bersedia ikut. Anak itu, entah mengapa membenci Hana dan menjadikan Hana sebagai alasan enggan kesana. Sejak kabar Hana yang menyukai Aksa mencuat, Hesti jadi membenci sepupunya sendiri." Aridha menggelengkan kepalanya tak berdaya. Anita itu tak tahu lagi bagaimana caranya untuk membujuk sang putri.

__ADS_1


"Aku yang akan bicara sendiri padanya nanti. Sebesar apa pun kebenciannya pada Gihana, Hana tetaplah saudaranya. Ia tak boleh saling membenci."


"Ya, aku setuju."


**


Di dapan kamar sederhana Dion dan Inora, keduanya tengah berbincang di malam yang sangat dingin ini. Ada banyak kebahagiaan yang Dion miliki, terbukti dari pendar matanya yang berbinar penuh sukacita.


Selepas bertemunya Alex dengan sang istri, kini Dion bisa melihat ada beban yang lepas dari hidup Inora. Sedalam apa pun cinta Inora pada Alex, nyatanya Dion tak peduli, asal ia bisa memiliki Inora seutuhnya. Cinta Dion begitu nyata.


"Bagaimana perasaan dirimu sekarang? Apakah sudah lebih baik?" tanya Dion kemudian. Tentu saja Inora mengangguk mengiyakan. Tak ada yang lebih membahagiakan dari hal ini.


"Ya. aku sudah lebih lega. Hanya saja, aku tak salah kan, seandainya aku menolak semua yang ingin Alex berikan pada Marcel?" Tanya Inora pada Dion.


"Entah. Yang pasti, aku merasa bahwa ini tak baik. Aku tak ingin sedikit pun harta Alex untuk Marcel. Pikirkan saja, ada nyonya Aridha yang patut dijaga perasaannya. Kau tahu sendiri, mas. Aku tak ingin bersinggungan dengan keluarga Praja Bekti, sebenarnya." Ungkap Inora lirih.


"Sekarang aku ingin bertanya, bagaimana sosok Alex sebenarnya di matamu saat ini?"


"Dia baik, sejauh ini dia bertanggung jawab pada keluarganya. Hanya itu."


"Jadi kurasa, tak ada yang memilik niat jahat, tak ada yang memiliki niat ingin menyakiti. Percayalah, mungkin tuan Alex memang benar-benar berubah, dan juga nyonya Aridha, sebagai keluarga Praja Bekti, tak seburuk yang orang-orang rumorkan tentang mereka. Ada beberapa hal yang memang terkadang Mamou mendasari seseorang melakukan sebuah tindakan keji."


Pelan tapi pasti, Dion ingin istrinya membuka mata dan hatinya untuk melihat dan menerima ketulusan Dion dan Inora. Bukan maksud Dion untuk haus akan harta Praja Bekti yang melimpah tak habis tujuh turunan itu, hanya saja Dion merasa Inora perlu melepaskan lukanya sepenuhnya.


Marcel memang terlahir sebagai putranya, namun dunia tak akan menyangkal, bahwa Alex adalah ayah biologisnya. Ketika Alex hanya diam saja dan tak menikahi Inora kala Inora mengandung, itupun karena Inora sendiri yang bungkam. Jadi, bukan kesalahan Alex sepenuhnya, kan?

__ADS_1


"Aku tak tahu harus apa sekarang, mas. Hanya saja, aku tak ingin masa lalu menjadi alsan mereka bisa mendekati Marcel begitu saja, sementara dulu kita lah yang mati-matian membesarkan anak kita." Lirih Inora.


"Aku paham. Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu. Hanya saja, bisakah kau melepaskan lukamu. Dari sikapmu yang seperti ini, kau menunjukkan bahwa kau tak bisa merelakan Alex. Kumohon, demi aku dan Yasmin, jangan lagi memiliki pemikiran buruk tentang mereka. Tuluslah dalam memaafkan tuan Alex."


Dion menggenggam erat tangan istrinya yang terasa dingin, menyalurkan kekuatan tanpa kata. Meski Inora hanya wanita miskin dan berpenampilan biasa saja, namun cinta di hati Dion hanya untuk Inora. Bahkan dulu pernah, Dion dikejar-kejar oleh wanita cantik rupa dan kaya raya, namun nyatanya hari Dion telah terpaut pada Inora.


"Maksudmu, apakah aku harus menerima saja apa yang hendak Alex berikan pada Marcel?" Tanya Inora lirih.


"Ya. Jika ini memang sudah jalan terbaiknya, kurasa kau perlu melakukannya. Tenang saja, ada aku yang akan selalu disampingmu. Kau harus bisa, Nora. Aku yakin dan sangat yakin bahwa kau sangat bisa melalui ini semua."


Tak terasa, air mata meleleh di mata Inora. Wanita paruh baya itu benar-benar bahagia dan sangat terharu akan kebaikan suaminya itu. Tapi entah, Hati Inora tak seluas itu untuk menerima kenyataan hingga sekarang.


"Baiklah, aku akan mewujudkan apa yang kau inginkan. tapi entah jumlah satu hal padaku, mas. Berjanjilah bahwa Alex dan istrinya tak akan mengambil Marcel dariku. Dia putraku, mas. Aku tak ingin . . . Aku tak mau nila nanti mereka seenaknya padaku."


"Tapi, kau berjanji untuk tetap bisa melepaskan Alex dari hatimu, kan?"


"Ya, akan aku lakukan." Janji Inora kemudian. Dion hanya bisa menghapus air mata istrinya itu, tak ingin Inora menangis terlalu lama.


Cinta memang selalu begitu, tak butuh banyak kata untuk mendeskripsikan pada dunia. Banyak perlakuan kecil yang bisa menunjukkan pada semesta, bahwa ada sebuah rasa yang suci yang berhak dimiliki dan diberikan pada orang lain.


Rasa Inora pada Alex memang tak pernah putus. Hanya saja, berkat kesabaran Dion, kini Inora sudah bisa lebih baik. Dalam hati Dion, Dion ingin sekali istrinya itu bisa terbebas dari kekangan rasa takut dan cinta yang berlebihan. Semoga saja, ke depannya Inora bisa lebih mampu mengendalikan diri dan menekan rasa dihatinya untuk Alex.


Dion memang sesabar itu.


**

__ADS_1


__ADS_2