Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Pagi pertama pengantin


__ADS_3

Rinai gerimis membasahi tanah ibu kota pagi ini. Meski tak terlalu lebat, Namun cukup membuat basah dedaunan dan ranting yang bergelayut pada batang pohon.


Sepasang pengantin baru itu masih bergelung nyaman di peraduannya.


Bukan karena aktifitas ranjang semalaman, melainkan karna hawa dingin yang alam suguhkan.


Tak ada aktifitas ranjang, tak ada aktifitas panas layaknya Sepasang pengantin baru.


Arlan dan Alma, mereka masih beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan status baru mereka.


Kecanggungan jelas masih mereka rasakan antara satu sama lain.


"Mas.... Arlan,".


Lama tak ada jawaban. Dengkuran halus yang Arlan keluarkan, membuat Alma tersenyum.


Terpana?


Tentu saja........


Siapa yang tak terpana dengan kegagahan seorang Arlan, putra sulung Jelita Ayudya Praja Bekti?


"Mas.....".


"Hmmm....".


Arlan hanya menggeliat kecil dan kembali merapatkan matanya.


"Mas......".


Alma berusaha untuk mendekatkan diri pada Arlan. Ia dengan sengaja meniup pelan wajah Arlan yang demikian manis saat terpejam.


"Jangan menggodaku, Alma. Bagaimanapun aku laki-laki normal. Apa kau sudah siap kali ini, hm?".


Ucap Arlan lirih masih dengan memejamkan matanya.


Alma tersipu. kedua pipinya memerah menahan malu.


"Ayo ba...bangun".


Alma mendadak salah tingkah.


"Bangunlah dulu. Seorang istri harusnya bangun pagi ketika pagi hari, menyiapkan sarapan untuk suami, dan bersolek untuk tetap menjaga selera bercinta suami, bukan?".


Alma terdiam, mematung layaknya orang bodoh dengan wajah memerah karna merasa tabu dengan bahas Arlan kali ini.


"Ii...iya, mas. Aa aku bangun".


Alma tergagap.


Sayangnya, Alma tak bisa bangkit begitu saja tatkala pergelangan tangannya di cekal oleh Arlan. Arlan yang masih pura-pura memejamkan matanya.


"Mulai sekarang, biasakan untuk menciumi di pagi hari saat bangun tidur. Ayo lakukan".


Alma melongo layaknya orang bodoh. Sejurus kemudian, ia sadar bahwa pria yang yang ada di dekatnya ini adalah suaminya.


Maka, dengan keragu-raguan yang menggelayuti hatinya........


Alma serta Merta mengecup sekilas bibir Arlan yang merona karna tak pernah menyesap rokok.


"Boleh ku tau momen apa yang mengesankan bagimu selain akad nikah kemarin?".


Alma nampak bingung harus menjawab apa.


"Aku..... Yang berkesan selain saat akad, Adalah saat diadakannya prosesi pedang pora setelah pernikahan. Aku.... Seperti bermimpi bersuamikan mas Arlan".


Alma menunduk, menyembunyikan wajahnya.


Ada rasa aneh yang tetiba ia rasakan.

__ADS_1


"Iya, kah?".


Alma hanya mengangguk.


Arlan terkekeh pelan.


"Kau lucu sekali Alma. Ya sudah. Pergilah, bersihkan dirimu. Setelahnya kita sarapan bersama".


*********


"Apa ?!?"


Arlan demikian terkejut saat Ariana menyampaikan bahkan Dewi dan Chandra berada di rumah sakit saat ini.


Yang lebih mengejutkan lagi, sembilan tahun lalu, Dita menghilang dengan alasan tinggal sementara di pedesaan yang tak di ketahui semua orang, rupa-rupanya Dita tengah mengandung kala itu.


Arlan tak bisa menyembunyikan wajah tegangnya kali ini. Bahkan, Alma yang ada di sampingnya sedikit ngeri dengan raut wajah yang Arlan tunjukkan.


"Pria itu, berani-beraninya.......".


Arlan sampai menggemeletukkan giginya.


"Aku tak tau apa yang ada dalam pikiran Dita waktu itu kak, yang aku tau, Dita awalnya menyerahkan diri pada Daniel, Sayangnya......


Daniel dengan kejam mengajak serta Alex dalam aksi nekad mereka.


Ku pikir, Dita terlampau frustasi saat itu.


Dan kau tau, anak Dita berada di panti asuhan pinggiran kota, di besarkan di sana tanpa kasih sayang ibunya.


Aku paham, papa Chandra pasti lah berat melakukan itu, tapi ya.......


Kembali lagi, nama baik keluarga taruhannya".


Ariana menimpali. Wanita itu nampak menawan, Garis wajahnya, semakin dewasa justru semakin mirip dengan ayah biologisnya, Chandra.


"Lalu, bagaimana keadaan Dita, sekarang?


Aku tak habis pikir, mengapa papa tak memberi tahuku".


"Papa tak ingin membebanimu dengan masalah Dita. Apa lagi mama, mama adalah orang yang paling terpukul atas semua ini.


Kau tau??


Mama Dewi selalu menyalahkan dirinya atas kemalangan yang Dita alami".


Arlan memejamkan matanya, tangan lembut Alma perlahan meraih telapak tangan Arlan, meremasnya perlahan, menyalurkan kekuatan dan ketenangan, berharap Arlan tetap bisa menjaga kendali dalam dirinya.


Sejenak, Arlan dan Ariana tercengang, memandang tangan Arlan yang di genggam erat oleh Alma.


"Mas.... Jangan terlalu emosi.


Dari pada kau merasa tak nyaman, ayo kita lebih baik ke rumah sakit untuk mengunjungi Dita.


Mama Dewi dan papa Chandra, pastilah mereka butuh kita sebagai anak untuk menguatkan mereka".


Ada kisi-kisi hati seorang Arlan yang tetiba menghangat seketika.


Ada kehangatan yang menjalar ke seluruh sudut hatinya.


Ada rasa nyaman yang perlahan menyusup ke dalam Relung jiwa Arlan.


Ada sejumput rasa yang perlahan memercik di antara kemelut hari Arlan.


Sejenak.........


Arlan luluh atas perhatian dan rasa empati yang di curahkan Alma.


Alma........

__ADS_1


Bahkan Arlan melihat sinar mata wanita ini menunjukkan ketulusan murni.


Di akui atau tidak, Arlan merasa yakin untuk terus belajar membuka hati untuk Alma.


"Yang di katakan Alma benar, kak".


Ariana yang melihat kedekatan mereka menimpali.


Bila Ariana membiarkan dua sejoli ini larut dalam tatapan mata yang saling mengunci, maka keromantisan Mereka kali ini tak jua segera berakhir.


"Baiklah, Alma... bersiaplah. Tolong ambilkan dompet, ponsel dan kunci mobil di dalam laci nakas".


Ala mengangguk dan dengan kaku, melepas tautan tangannya.


Sesaat setelah Alma berlalu, Ariana memandangi punggung wanita cantik dan pemberani yang menjadi kakak iparnya kali ini.


Sifat dan sikapnya yang apa adanya, lugu dan tanpa di buat-buat, membuat Ariana merasa yakin, bahwa istri pilihan Kara untuk saudara tertua mereka, Arlan........ adalah pilihan tepat.


"Ku rasa Alma wanita yang baik, kak.


Kau tertarik membuka hatimu?".


Ariana bertanya lirih. Tangan kanannya mengusap perlahan perutnya yang terkadang bergerak-gerak aktif.


"Ya. Dia wanita yang cukup menyenangkan.


Cukup baik bila ku jadikan teman.


Entahlah.......


Sampai detik ini, aku masih tak bisa melupakan Dian.


Dimana gadis itu? Aku tak mengerti apa yang dia pikirkan hingga meninggalkanku tepat dua hari sebelum pernikahan".


Tatapan mata Arlan nyalang.


Ada banyak emosi yang ia ungkapkan lewat netra gelap matanya.


"Ku rasa......


Mungkin inilah jalan bahwa kalian tak berjodoh.


Alma....... kurasa dia wanita baik-baik dan cukup bersahaja.


Dia wanita yang sederhana.


Dan entah mengapa, aku merasa bahwa Dian tak sesederhana yang terlihat."


Hening sesaat.


"Maksudmu?".


Arlan nampak menyipitkan matanya.


"Ku pikir akan lebih baik bila kau menggali lebih dalam tentang identitas Dian yang sebenarnya".


"Entahlah.....".


Hingga Alma muncul dari arah tangga, mengulas senyum manis penuh pesona.


"Mas, sepulang dari rumah sakit, bolehkah bila.....mampir dulu ke hotel?


Aku...... Ingin bertemu ibuku dulu sebelum beliau pulang ke kampung".


Pinta Alma.


Arlan hanya menganggukkan kepala nya setuju.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2