
"Aku tak peduli bila esok hari kau memecatku dari kantor induk.
Aku hanya menyampaikan cintaku padamu yang sesungguhnya, mas......
Meski kau selalu menyangkalnya dan menyamakan aku dengan Dita.
Persetan bila kau nanti mendepakku.
Kau hanya tak tau bagaimana aku menjalani malam dengan kerinduan yang meletup-letup indah.
Kau hanya tak tau berapa ribu malam aku selalu menyematkan namamu dalam doaku."
~Part sebelumnya~
"Kau menembakku?".
"Tidak. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Meski nyatanya kau menolakku dengan sangat keras sembilan tahun yang lalu".
Hanum memalingkan wajahnya.
Biarlah.......
Andai ia dan Kara tak berjodoh, maka malam ini adalah malam terakhirnya dengan Kara.
Andai Kara tetap menolaknya dan tak memiliki rasa yang sama dengannya, sudah tentu Kara akan melemparnya dari perusahaan.
Hanum siap.
Hanum siap andai ia harus mengalami semuanya. Setidaknya ia lega bahwa Kara telah mengetahui perasaannya yang terdalam.
Bukan rasa abal-abal seperti yang Kara kira.
"Apa yang bisa kau persembahkan padaku?".
"Cintaku dan sepenuh hatiku, untukmu".
"Bagiamana jika aku mengincar tubuhmu".
Hanum mematung mendengar pernyataan yang kara buat.
"Kau ingin memanfaatkan tubuhku?
Begitukah? Bila benar demikian, maaf tuan Azkara......
Aku tetap tak akan melakukannya bersamamu meski aku dengan terang-terangan mengungkapkan perasaanku.
Jangan samakan aku seperti wanita bodoh dan murahan di luaran sana.
Bila kau mau, ayo kita menikah.
Dan bila kau tak bersedia menikahiku, Cari saja wanita acak yang bersedia kau permainkan begitu saja".
"Jangan terlalu naif, hei wanita sombong.
Kau pikir seberharga apa dirimu hingga memintaku menikahimu. Dalam mimpimu saja kau bebas berangan".
Kesinisan jelas tercetak dalam nada suara Kara.
Hanum diam tak lagi menanggapi. Ia tersenyum kecut menerima kata yang kara ungkapkan.
Sedang Kara, ia mengemudikan mobilnya perlahan dan mengantarkan Hanum kerumahnya tanpa sepatah katapun.
Kemudian melenggang pergi ke sebuah club' ternama.
Jujur saja, Kara baru pertama kali datang ke klub setelah kepulangannya dari new York.
Ia harus menuntaskan hasrat kelelakiannya.
Dulu, saat di new York, Kara sering kali mendatangi tempat seperti ini.
Dan dunia malam yang bebas, bukan lagi hal yang tabu bagi dirinya.
Dulu.......
Kara adalah anak yang manis tanpa kenal gemerlap dunia malam.
__ADS_1
Dita, karna Dita lah kara menjadi demikian liar.
Sudah berapa banyak wanita yang Kara jadikan pelampiasan?
Ada berapa ribu tetes air mata wanita yang Kara permainkan di new York?
Karna Dita, kara selalu melampiaskan kemarahannya pada wanita yang tak tau apapun perihal masa lalunya dengan Dita
Setibanya di klub, Kara segera memesan minuman pada seorang bartender.
Tanpa sengaja, ia menatap sang bartender dengan mata menyipit.
"Seno?".
"Azkara?".
Pria itu demikian terkejut saat netra matanya terfokus pada Kara.
Dialah Seno. Pria yang dulu menjadi demikian akrab dengannya sebelum Kara keluar dari kampusnya.
"Ya tuhan, kara? Benarkah ini Kau?".
Seno menatap kara tak percaya.
"Kemana saja kau sembilan tahun ini?
Ada banyak hal yang kau tak tau setelah kepergian mu.
Kampus demikian geger atas permasalahan mu waktu itu.".
"Aku pergi, lari dari masalah tepatnya".
Kara tersenyum kecil. Tangannya terulur menerima minuman yang telah di racik Kawan lamanya itu. Menghisapnya perlahan cairan merah memabukkan itu. Mencecap ya penuh dengan perasaan.
Kara ingat, dulu......
Seno lah yang selalu menganggap kara sebagai orang biasa, tanpa embel-embel orang kaya yang patut untuk di jilat, seperti teman-teman kara lainnya, penjilat
"Astaga. Aku...... oh begini saja, beri aku nomor ponselmu dan aku akan menghubungi mu nanti.
Ada banyak hal yang harus kau tau."
Di saat yang bersamaan, seorang wanita muda berusia pertengahan dua puluhan datang menghampiri Kara,
Pandangannya menggoda dan Suaranya bernada sensual.
"Butuh teman malam ini, Beib?".
Kara mengamati sekilas, Wajahnya lumayan, tubuhnya pun sintal.
Maka, dengan gairah yang sudah meletup-letup semenjak kara tadi bersama Hanum, Kara segera meraup kasar bibir sang wanita.
Menuntun wanita itu keluar klub dan segera mencari hotel berbintang terdekat.
Tak jauh dari mereka, Seno demikian terkejut atas kelakuan Kara yang sangat jauh berbeda dengan Kara yang Dulu.
Seno seperti tak percaya.
**********
'Bila hari ini aku telah melepas segala kegundahan rasa yang ku miliki di hadapanmu, Ku harap kau tak menyesali pertemuan denganku'
Hanum tak segera tidur saat ia telah selesai membersihkan diri.
Hanum berdiri tegak di dekat Jendela kamarnya.
Hanum sedang mengamati sisi-sisi hatinya yang tak Hanum kenali.
Mungkinkah perasaan yang selama ini di milikinya benar-benar cinta? Atau obsesi semata.
Ia merenung lama, Membersamai sisi hatinya yang terluka saat mendengar Kara menganggapnya sama seperti Dita.
Sebenarnya, sedalam apa luka yang kara miliki?
Separah apa luka Dita ciptakan untuk Kara?
__ADS_1
Mungkinkah Tuhan merestuinya andai Hanum ingin mengobati luka hati Kara?
"Num.... belum tidur?" Alma tetiba terjaga dari tidurnya.
Malam ini, Alma sengaja tidur di kamar Hanum.
Saat wanita itu tak juga terlelap, membuat Alma curiga.
"Sebentar lagi, kau tidurlah lagi".
Ucap Hanum dengan tersenyum.
"Apa yang kau pikirkan sampai enggan tertidur?"
"Mas Kara mengajakku tidur dengannya, tentu saja aku menolak".
Alma melotot mendengar pernyataan sahabatnya ini.
"Ya tuhan, benarkah? Lalu?".
"Tentu saja aku meminta pernikahan padanya.
Setidaknya, tuhan tak akan murka bila aku melayaninya".
Hanum memejamkan mata, senyum manis terukir di wajahnya yang lembut.
Ia mengingat ucapannya tadi saat bersama Kara.
"Ini gila. Benar-benar gila!!".
Alma berteriak histeris karna tak percaya.
********
Kara........
Pria itu tengah mencumbui pelacur acak yang ia pilih sendiri.
Permainannya demikian panas, ia memperlakukan sang wanita dengan sangat brutal.
Sungguh, Kara hanya ingin melampiaskan segenap nafsu yang hadir hanya karna ia berdekatan dengan Hanum.
Ada apa dengan Kara kali ini?
Pikiran Kara tengah di panda atau kebingungan.
"Baru kali ini aku menjumpai wanita yang tak mudah untuk ku seret ke atas ranjang ku.
Siapa sebenarnya gadis itu?
Beraninya dia menolakku!!
Tidak, Aku harus segera mendapatkan dirinya, bagaimana pun caranya".
Dan Kara, selalu menyebut nama Hanum di sela-sela cumbuannya.....
Mendesahkan nama Hanum di tengah-tengah permainan panasnya.
Sekilas Kara bingung pada dirinya sendiri.
Mungkinkah Kara mulai jatuh hati pada Hanum?
Ataukah hanya obsesi semata?
"Lihat saja, dalam waktu dekat.......
Kau akan mengemis untuk bisa menghangatkan ranjang ku, Hanum.
Kau boleh menolak hari ini, tapi untuk besok, siapa yang tau?"
Otak Kara semakin menggila.
🍁🌻🌻🌻🍁
Maafkan neng Tia yang lagi khilaf yak😂 baru bisa up.
__ADS_1
Jangan lupa tetep dukung yah biar neng Tia tetep semangat dan rajin up tiap hari.
Makasih buat semua,🥰🥰🥰🥰🥰