
Bulan menggantung indah di langit ibukota. Suasana sejuk mulai terasa menyengat, karena waktu telah memasuki dini hari.
Di kamar Aksa dan Yasmin yang luas itu, Aksa baru saja membersihkan diri usai pertempuran malam bersama istrinya. Lelaki itu kian hari kian gagah saja setiap waktunya. Entah mengapa, Yasmin yang dulu sering mengumpat Aksa, kini justru menggilai pemuda itu.
"Kau tak mandi?" Tanya Aksa yang mengenakan piyama kimono nya. Matanya menyorot lembut menatap yasmin, seolah Yasmin adalah separuh jiwanya.
"Mandilah air hangat jika kau takut dingin."
"Aku lelah." Lirih Yasmin. Wanita itu mengantuk sebenarnya. Hanya saja, belakangan ia tak akan bisa tidur jika Aksa tak berada di ranjang yang sama dengannya. Astaga, Aksa mendadak bak nikotin yang membuat candu.
"Apa aku terlalu keras, tadi?" Aksa duduk di ranjang, bergeser mendekat dan mengusap kepala Yasmin. "Maaf."
"Ya. Setiap malam kau bahan selalu keras. Aku saja seolah seperti kewalahan menghadapimu." Yasmin menjawab pelan.
"Kau harus segera hamil, jika ingin melanjutkan kuliah, Yasmin. Ini persyaratan gila Oma. Jadi maaf kalau, aku terkesan memaksamu setiap malam." Ujar Aksa sambil tersenyum manis.
"Ya Tuhan, mengapa harus punya anak dulu sebelum kuliah?" Erang Yasmin.
__ADS_1
"Tenanglah. Ini tak akan lama. Lagi pula itu hanya setahun, bukan? Sabarlah dahulu. Oh ya, mulai Minggu depan, aku sudah mulai mengikuti kuliah. Aku harap, kau mampu mengerti aku. Pagi aku harus kuliah, dan siangnya aku harus mengurus bisnis yang diberikan Opa, serta sorenya hingga malam, mungkin aku harus mulai mempelajari tentang seluk beluk perusahaan opa yang akan diwariskan padaku. Aku harap, kau mau mengerti andai aku tak bisa menemuinya lagi setiap waktu." Ucap Aksa.
Inilah akhirnya, Aksa benar-benar sangat takut andai nanti ia tak bisa berbagi waktu adil dengan pekerjaan, pendidikan, dan juga rumah tangganya.
"Bagaimana jika aku rindu?" Tanya Yasmin sambil tersenyum jahil.
"Aku juga pasti akan merindukanmu." Aksa mengusap pipi istrinya.
"Aksa, bagaimana jika seandainya . . . saat diluar dan kau tak sedang bersamaku, Hana menggodamu?" tanya Yasmin.
Entah mengapa, Yasmin tiba-tiba ingat tentang Hana yang sangat berambisi untuk mendapatkan suaminya itu.
"Kau cemburu? Jangan khawatir, sweetheart, aku akan selalu menjaga hatiku untukmu. Dengarkan aku, aku juga ingin menyampaikan beberapa hal padamu terkait dengan Hana. Aku juga sebenarnya, baru tahu fakta ini dari salah satu pengawalku."
Aksa mulai memasang raut wajah serius.
"Ada apa, Aksa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya yasmin tak mengerti.
__ADS_1
"Ya. Aku baru tahu bahwa sebenarnya, Tante Dita adalah anak dari hubungan gelap om Chandra dan asistennya di masa lalu. Kau tau yang lebih mengejutkan dari ini?"
Yasmin menggelengkan kepalanya.
"Tante Dita di masa lalu telah memisahkan mama dan papaku. Setelah diketahui papa bahwa dalangnya adalah Tante Dita, papa telah membuat Tante Dita lumpuh hingga sekarang ini."
Yasmin terkejut bukan main. Wanita itu mendudukkan tubuhnya secara spontan.
"Lalu, apa yang terjadi?" Tanya Yasmin.
"Saat itu, beruntung saat SMA, Tante Dita mengandung dan melahirkan Hana, putri biologis om Daniel. Maka saat itulah, mama yang mengemis kebebasan untuk Tante Dita."
Yasmin semakin tak karuan. Rasanya, kisah orang tuanya yang tiba-tiba menghadirkan Marcel dan dikenalkan sebagai anak sulung Inora. Dan lihat sekarang, ini tentang Hana yang rumit.
"Dan kau tahu? Kak Marcel adalah anak hasil skandal om Alex dan ibu Nora di masa lalu." Ucap Aksa.
Untuk ke sekian kalinya, Yasmin kembali syok.
__ADS_1
**