
Di teras depan rumah besar Praja Bekti, Jelita duduk dengan tenang sembari menyesap kopi hitam dengan sedikit gula. Sore ini, Radhi memang pulang agak sore dari kantor, katanya sudah tidak tahan dan merindukan Jelita. Ah, wajar saja. toh memang dari dulu Radhi tidak bisa berjauhan dengan istrinya itu.
Niat hati Jelita ingin menunggu suaminya yang masih berbicara serius dengan Seno, menantunya, kini Jelita justru mendapati pemandangan yang menakjubkan. Aksa, cucu kebanggaannya muncul dari arah pintu gerbang utama, sambil mengayuh sepeda yang Jelita tau, itu sepeda Yasmin, kekasih Aksa.
Kening Jelita mengerut, merasa aneh. Sejak kapan memangnya Aksa pulang dari sekolah di sore hari? Dan lagi? apa ini? Mengapa Aksa tiba-tiba membawa sepeda kayuh? biasanya anak itu pemalas dan lebih suka mengendarai mobil sendiri.
Di belakang Aksa, tampak beberapa pengawal memakai baju penyamaran yang membaur bersama masyarakat sekitar. Senyum cerah Aksa sambil menggoda Yasmin, membuat Jelita tersenyum. Bersama Yasmin, Aksa tersenyum lebar. Biasanya, anak itu selalu jutek dan tidak murah senyum. Ah, tapi sepertinya Aksa memang sudah benar-benar jatuh cinta pada putri Inora dan Dion itu.
"Mengapa pulang di sore hari begini, Aksa?" Jelita bertanya dengan wajah datar. Yasmin yang memang sejak tadi jengkel pada Aksa, tak segan sama sekali untuk membeberkan bagaimana kelakuan Aksa seharian ini terhadap Yasmin. "Bukankah biasanya kau pulang siang?"
"Selamat sore, nyonya Lita. Mohon kesediaannya untuk saya membantu menjawab. Cucu anda ini, seharian ini sangat menyusahkan dan juga menyeret saya ke dalam beberapa malah besar." Ungkap Yasmin, membuat Aksa melototkan matanya lebar-lebar.
"Oh benarkah? Cucu nakalku ini berulah?" tanya Jelita sembari melangkahkan kakinya melewati anak tangga dari teras, menuju ke halaman tempat Yasmin dan Aksa berada. Alih-alih marah karena Yasmin membuka tabir kelakuan Aksa seharian ini, Jelita justru menggoda Yasmin. "Katakan, aku akan menghukumnya untukmu."
"Hei," Aksa menarik paksa lengan Yasmin, mengintimidasi Yasmin dengan tataoan matanya yang tajam, setajam silet itu. "Masalah besar apa? kau jangan memfitnahku. Oma akan menghajarku nanti."
"Biarkan. biarkan saja nanti kau dihukum oleh omamu. nyatanya kau memang membuat masalah sejak pulang sekolah tadi."
Baru saja Aksa ingin menimpali lagi kalimat Yasmin, Jelita lebih dulu menyelanya.
"Oh nak, mari masuk dulu ke dalam. Kau bisa menjelaskannya padaku. Aku tunggu." Jelita berlalu pergi, meninggalkan Aksa sambil menatap Aksa seolah berkata, 'Awas kau nanti!'.
"Oh Yasmin, bukan aku yang menyeret aku ke dalam masalah besar. Justru disini kau lah yang menyeretku ke dalam masalah. Astaga Yasmin. Kau tidak mengenal omaku. Aku akan dihajarnya habis-habisan nanti di arena latihan beladiri."
__ADS_1
Membayangkannya saja, membuat Aksa ngeri sendiri. Yasmin hanya bisa tersenyum licik, merasa ia bisa membalas kelakuan Aksa yang menyebalkan, melalui Jelita. kini, Yasmin sudah memiliki teman dalam kubunya.
"Kau pikirkan dan kau rasakan saja nanti." ungkap Yasmin sembari membawa barang belanjaannya tadi sewaktu di minimarket. Hal itu tentu saja membuat beberapa pengawal, pelayan dan juga Aksa merasa aneh melihat tingkah Yasmin. Barang yang sudah nyaman tadi diletakkan di keranjang sepeda yasmin, Kini Yasmin membawanya masuk ke dalam rumah.
"Hei, barang belanjaannya mau kau bawa kemana, yasmin?" tanya Aksa sambil menghentikan langkah Yasmin. "Taruh di keranjang sepedamu saja. Kau ini, mengapa menyukai hak seribet ini?"
"Aku sama sekali tidak kerepotan, tuan muda Praja Bekti, Aku tak mengapa harus membawa barang-barangku masuk dari pada nanti hilang. Kau tau, harga krim kulit ini mahal dan aku tak mau kehilangannya."
Rasanya, Aksa dibuat berhenti bernafas seketika oleh Yasmin, kekasih bohongannya itu. Alasan yang konyol.dn sungguh tidak masuk akal, tentunya.
"Astaga, Yasmin. Kau ini tidak malu, ya? Buang jauh-jauh pikiran kotormu itu. Lihat, disini banyak pengawal setia Oma dan opa. Tapi kau berpikir takut kehilangan. Astaga, yasmin. Berpikirlah lebih masuk akal." ungkap Aksa yang terlanjur merasa lucu akan tingkah kekasih sewaanya itu.
"Nah, iya juga, ya? Aku rasa tapi tak masalah. nanti aku bisa pamerkan pembelianmu ini, pada Oma mu. Kau tau, ia tak akan marah dan juga ini sebagai bukti, kau dan aku cukup lama berada di minimarket." Jawab Yasmin sembari terus melangkahkan kakinya untuk bisa masuk ke dalam ruang tamu utama di kediaman Radhi.
"Aksa memaksa aku untuk membawanya pulang ke rumah dan juga makan siang bersama keluargaku. Bukan Maslaah makan siang yang aku miriskan, nyonya. Tapi yang membuatku heran, tuan muda ini menceritakan pada kedua orang tuaku, bahwa ia serius ingin menjagaku dan mencintaiku. Ayah dan ibuku jadi sedikit........"
Yasmin menghentikan kalimatnya, ketika ia merasa bahwa saat ini Yasmin salah bicara.
"Oh maaf, nyonya, aku.... oh begini, aku....."
"Tidak masalah. Aku akan mengikatmu dengan pertunangan bersama Aksa jika itu maumu."
Di saat yang bersamaan, Radhi muncul dan mendengar semua yang istrinya itu katakan. Lihat saja, bahkan Aksa dan Yasmin sama-sama melotot tak percaya.
__ADS_1
"Apa? Tunangan?"
Yasmin dan Aksa sama-sama merasa syok dengan apa yang Jelita ungkapkan.
"Jangan gila, Oma. aku dan Yasmin masih sekolah, mana bisa tunangan begitu. Tidak tidak, aku tidak mau." Aksa berkata tegas dan tidak mau dibantah. sayangnya, ia lupa bahwa saat ini Aksa tengah berhadapan dengan Jelita.
"Oma tidak gila, Aksa. Oma hanya menawarkan, apa salahnya?" Seloroh Jelita tak mau kalah. Yasmin yang masih syok, hanya diam di tempat dan juga tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ada apa ini? Kenapa pada ribut sendiri?" Radhi tersenyum-senyum menatap Yasmin dan Aksa bergantian, sebelum kemudian ia menatap istrinya yang duduk dengan anggun. "Apa masalahnya?"
"Aku menawarkan pertunangan pada sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara ini, sayang. Bagaimana menurutmu, sayang?" tanya Jelita sembari mengedipkan sebelah matanya dengan gaya genit ke arah Radhi.
"Ya jika mereka mau, aku pikir ini tak masalah. Apalagi mereka saling mencintai. aku rasa ini bagus."
Yasmin serasa dilolosi satu persatu tulangnya. Untuk menggeleng tegas saja, rasanya Yasmin seperti tidak mampu lagi.
"Oh tidak, Oma, opa. aku meminta maaf dan berjanji tak akan pulang sekolah dengan telat lagi. Oma dan opa bisa pegang kata-kataku."
Aksa mengiba, memohon agar ia tak tunangan dengan Yasmin. Aksa benar-benar tidak mau karsna ia ingin fokus sekolah dulu.
"Setiap hari kau selalu meminta maaf dan beejanji tak akan mengulangi lagi. Tapi semua janjimu itu bahkan hanya dusta, Aksa. Kau pasti akan mengulangnya lagi di lain kesempatan."
Aksa dan yasmin saling pandang, tak berkutik. Oya astaga, Yasmin dan juga Aksa sama-sama khawatir.
__ADS_1
**