
"Untuk apa kita perlu berrepot-repot ria untuk wanita sampah seperti dia, kak?
Andai saja kak Arlan tak mengancam ku, aku mana Sudi ikut menjaga wanita sialan ini".
~part sebelumnya~
Saat ini, Radhi dan anak-anaknya tengah berkumpul di ruang keluarga.
Begitu juga dengan Jelita yang menyuarakan sikap hangatnya.
Membawa berjuta kebahagiaan dan rasa syukur yang mengharu biru dalam hatinya.
Bahkan Arlan dan istrinya, Ariana dan suaminya, Kara dan Hanum, beserta Aridha dan Aluna......
Tak ada yang lebih membahagiakan dari ini bagi Radhi dan istrinya.
"Jadi, mengapa kau berkata bahwa Dita adalah sampah yang harus kau singkirkan, Ridha?"
Siang tadi, Saat Arlan baru saja tiba dari luar untum membeli makanan untuk Alma, tanpa sengaja telinga tajamnya mendengar kalimat Ridha yang demikian menusuk hati Dita.
"Kau pikir, apakah sampah harus di piara dan di jadikan barang koleksi? Begitulah kakak tertua? Ataukah si wanita murahan itu bisa kau daur ulang layaknya sampah yang tak mudah di urai oleh tanah?
Aku tetap pada pendirianku, bahwa aku benar. Dan tak salah akan hal itu. Terserah kak Arlan akan memiliki bagaimana. Aku tak peduli".
Alma yang ada di samping suaminya mulai gentar bila harus berhadapan dengan Adik Kara yang sama menyebalkan ya dengan Kara ini.
Semua saling pandang. Hanya Kara yang memahami apa yang ada dalam kepala Aridha kali ini.
Aridha....
Entah kekuatan apa yang di milikinya, hingga membuat gadis itu tetap tenang mengungkapkan isi hatinya yang sedikit..... abnormal.
"Bukan begitu, Ridha.
Dengar......
Dita itu juga manusia, sama seperti kita.
Dita juga wanita, sama sepertimu......."
"Oh satu lagi. Jangan samakan aku dengan anak pungut itu, kau tau, kak?
Antara aku dan dia.... jelas berbeda".
Aridha berkata dengan angkuhnya.
Berbeda dengan Aluna yang cenderung bersifat lembut, Aridha justru lebih barbar dan terkesan pemberani. Memiliki pembawaan kuat dan tangguh untuk ukuran wanita.
"Dengarkan dulu, kakak belum selesai bicara".
"Ya ya ya ya ya..... Katakan saja, aku akan mendengarnya dengan baik".
Arlan menghela nafas nya lembut.
Ada beban berat yang tetiba harus di pikulnya saat menjadi saudara tertua. Bagaimana tentang tindak tanduk adiknya, Arlan juga memiliki tanggung jawab untuk membenarkan ketika salah satu dari saudara-saudari nya melakukan kesalahan.
"Setidaknya perlakukan mereka dengan baik. Meski seburuk apapun Dita, tapi lihatlah.......
Nasibnya tak lebih baik dari kita.
__ADS_1
Bahkan.....
Tuhan telah memberinya hukuman sedemikian rupa padanya hingga ia mengalami kedukaan tanpa dasar".
Arlan menjelaskan panjang lebar, mencoba membuka hati dan membeberkan fakta pada Ridha.
"Yang kakakmu katakan ada benarnya, Ridha".
"Entahlah, pa. Entahlah, kak. Aku rasa......
Aku memiliki pemikiran yang berseberangan dengan kalian kali ini.
Entah baik atau buruk, itulah isi hatiku yang sebenarnya".
Aridha mulai menyuarakan isi hatinya.
Arlan dan Radhi, merasa bingung sendiri dengan kekeras kepalan yang di miliki Aridha.
Berbeda dengan Ariana dan Aluna, Aridha cenderung lebih keras kepala dan terkadang, suka membangkang.
"Ekhm....."
Kali ini Kara bersuara.
Kara merasa perlu mencoba untuk membuka hati adiknya yang sekeras batu ini.
"Aridha. Lakukan saja apapun sesukamu.
Jangan membuatmu terkesan terkurung dan terjajah kebebasanmu dalam berpendapat. Itu hakmu dalam berpendapat tentang Dita.
Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu kau harus tau dan perlu kau jaga sebagai batasanmu"
"Terima kasih kak".
Hening sesaat.
Tak ada yang berani membuka suara, hingga suara bariton Radhi yang penuh wibawa, kemudian memecahkan kebisuan diantara keluarga besar praja Bekti.
"Ketahuilah anak-anakku.....
Hidup bukan hanya perihal harta, kekuasaan, wanita dan tahta.
Hidup juga tentang cinta. Ada banyak hal yang harus kalian ketahui.
Manusia mungkin bisa hidup dalam kesederhanaan tanpa tahta, kekuasaan, dan harta. Tapi sungguh tak mungkin bila makhluk Tuhan yang bernama pria, tak membutuhkan wanitanya, suatu saat kelak".
Semua anak-anak Radhi demikian terkesima saat Radhi mulai membawa mereka dalam sebuah wawasan akan pentingnya cinta.
"Ada berapa banyak pengusaha ataupun milyuner, tetap bertahan dalam kepuasan mereka perihal harta?
Toh pada akhirnya, banyak diantara mereka yang berbondong-bondong mensedekahkan harta mereka, namun nyaris tak ada dari mereka yang mensedekahkan wanitanya.
Kalian tahu? Di sinilah peran cinta."
Sejenak, Radhi memandang anak-anaknya penuh kasih sayang.
"Yang memuja harta, akan terpenjara dalam hawa nafsu untuk mengeruk dan saling memiliki.
Yang memuja tahta, akan senantiasa terpenjara dalam kemewahan dan berambisi dalam memiliki.
__ADS_1
Yang memuja kekuasaan, akan senantiasa terpenjara dalam keangkuhan dan tak jauh dari sifat arogan.
Dan yang memuja cinta, akan senantiasa terpenjara dalam pesona wanitanya.
Jadi kesimpulannya......
Hidup ini tentang sebuah penjara".
Jelita lantas memandang suaminya haru. Ada genangan yang jelas terlihat di sudut mata seorang Jelita. .Perlahan namun pasti, jemari-jemari sepasang suami istri ini saling bertautan, saling meremas perlahan untuk saling menguatkan.
"Jadi, bila boleh papa memberi kesimpulan....
Jangan merendahkan kaum perempuan, anak-anakku. Sejatinya, peran perempuan demikian penting selain dari kelangsungan generasi kita sebagai manusia.
Dita......
Kalian boleh mencemoohnya, Sayangnya......
Lihatlah sebuah realita, bahwa wanita juga berhak bahagia.
Itu hak kalian bila kalian tak menyukainya, hanya saja.....
Jaga sikap dan jaga perasaannya.
Bila Dita adalah seorang wanita pendosa sejati, Maka hanya tuhan yang memiliki kuasa untuk menghukumnya.
Terutama kau, Kara. Jangan lagi mendendam atas embel-embel masa lalu yang sejatinya telah usai. Papa yakin bahwa keturunan papa, adalah anak-anak yang memiliki moral tinggi".
Demikian petuah yang Radhi berikan sangatlah mengerut sisi manusiawi anak-anaknya.
Sementara Kara dan Hanum,sepasang pengantin yang masih terbilang baru itu, Saling menautkan jemari, seperti yang Radhi dan Jelita lakukan.
"Terima kasih, pa. Terima kasih atas segalanya.
Papa memang terhebat".
Ariana bangkit dengan mengusap pelan perutnya, menghampiri Radhi dan memeluknya.
Menenggelamkan wajahnya di dada Radhi, ayahnya. merasakan kehangatan pelukan seorang ayah, meski bukan ayah biologisnya.
"Kebahagiaan anak-anak dan istri papa adalah yang paling utama. Papa tak ingin anak-anak papa terjebak dalam lingkaran dendam yang menyesatkan".
Hanum demikian takjub terhadap sosok ayah mertuanya ini.
Tanpa Hanum sadari, Kara berbisik lirih di telinganya. Bisikan yang tentu masih di dengar banyak orang.
"Ayo tidur.... dan hangatkan aku".
Bisikan lirih Kara demikian mengandung nada sensual yang membuat semua orang tercengang akan sikap karat yang tidak tahu malu itu.
ππ»π»π»π
Semoga part ini bisa bermanfaat ya para readers sekalian.
Semoga banyak yang menyadari, sejatinya perempuan juga memiliki hak kebahagiaan.
Di jaga perasaanya tanpa harus di sakiti.
Salam santun dari neng Tiaβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1