Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Semua Sama


__ADS_3

"Alma, Berikan aku kopi dengan sedikit gula".


Demikian lah sang Kaisar Kara memberi titah.


Suara bariton dan wajah tampannya nya terkadang membuat Alma kehilangan fokus hingga sebegitu rupa.


"Baik, boss".


"Oh, tunggu Alma".


Dan Alma pun sigap mengurungkan niatnya untuk melangkah.


"Mulai besok, sediakan sedikit buah-buahan segar di dalam lemari pendingin.


Aku suka buah."


"Baik, boss".


"Dan satu lagi".


Alma kembali berbalik dan menatap boss nya.


"Ya?".


"Hanum.....


Kau mengenalnya?".


"Tentu boss.


Siapa yang tak mengenal Hanum.


Hanum adalah sahabat saya yang menduduki kursi salah satu staf divisi keuangan.


Hanum juga........


Banyak laki-laki yang mengejarnya, karna dia memang cantik".


"Sahabatmu?".


"Ya.".


"Semua wanita sama".


Senyum Kara demikian menunjukkan kesinisan.


Alma yang berdiri di hadapan Kara pun tak mengerti.


"Maksudnya, boss?"


"Tidak ada. Cepatlah pergi. Aku butuh kopi sekarang".


Alma pergi meninggalkan Kara dengan berjuta tanya memenuhi otaknya.


Mungkinkah Kara dan Hanum terlibat masalah?


Mungkinkah Hanum pernah memancing amarah pria itu?


Mungkinkah kesinisan Kara karna Hanum adalah wanita masa lalu?


Mungkinkah?


Mungkinkah?


Mungkinkah?


Barbagai tanya itu muncul menyerupai kuncup bunga yang bermekaran.


Jumlahnya tak terhitung.


Hingga Alma kembali ke ruangan Bossnya.


Wanita itu tengah mendapati bossnya tersenyum sendiri, namun senyumnya penuh teka-teki, entah apa yang di pikirkan ya, Alma tak mengerti.


Apakah mungkin boss tampannya ini orang gila baru berkedok tuan muda?


Entahlah........


"Bos? Mengapa senyum-senyum sendiri?".


"Apa Maslah nya denganmu?".


"Oh, ti tidak....".


Alma mendadak takut mendapat tatapan tajam dari Kara.


"Aku sedang ingin membalas seseorang".

__ADS_1


Ungkap Kara tiba-tiba.


Alma sedikit terkejut.


"Siapa bos? Memangnya, siapa yang berani memancing amarahmu?".


"Seorang wanita".


"Haaaaa?".


Kara tergelak saat ia melihat ekspresi Alma yang demikian aneh.


"Aku pernah di lecehkan......


Oleh seorang wanita".


Alma syok luar biasa mendengar Kalimat Kara.


"Apa bos pernah di perkosa? Begitukah?".


Kara segera melempar pulpen yang sedari tadi di mainkan ya, ke arah Alma.


"Pikiranmu terlalu liar, Alma".


"Bos, bukankah pelecehan itu identik dengan pemerkosaan? Aku tidak salah kan, bos?".


Kara mendesah panjang.


Sepertinya Hari-hari kara ke depan penuh dengan emosi bila ia harus memiliki sekertaris se-bodoh Alma.


"Lupakan. Yang jelas, kau harus membantuku dalam misi balas dendam ku nanti."


"Apa itu termasuk dalam poin kontrakku bekerja padamu, bos?".


"Sekali lagi kau bertanya, ku pastikan kau bukan hanya kehilangan pekerjaanmu, melainkan juga akan kehilangan Kepalamu".


"Ba baik bos".


Alma mendadak mundur dan kembali ke mejanya di depan ruangan Kara.


Sedang Kara, ia lebih memilih mempelajari berkas-berkas yang di berikan oleh sekertaris Radhi. Dalam beberapa waktu ke depan, Kara harus sudah bisa mengetahui tentang latar belakang dan seluk beluk perusahaan secepat mungkin.


Menjadi pewaris tahta, percayalah bahwa itu tidak lah mudah.


******


Hari telah menapaki waktu senja.


Hanya titik-titik bintang yang terlihat indah di angkasa yang gelap.


Sudah satu jam, Hanum menunggu Kara di loby. Entah Kara lupa atau masih sibuk mengerjakan sesuatu. Yang Jelas, Hanum merasa harus bersabar lagi menunggu kemunculan Pria itu.


Hingga suara derap langkah terdengar oleh Hanum. Hanum tersenyum lega saat matanya menangkap sesosok pria jangkung berjalan mendekat ke arahnya.


"Selamat malam, mas".


Hanum tak lagi menyapa dengan bahasa formal, karena saat ini telah melewati jam kerja.


"Ya".


"Kurasa, ponsel itu tak lagi ku butuhkan.


Ambil saja bila kau membutuhkan".


Ucap Kara ringan.


Hanum tersenyum menanggapi.


"Bila ponsel itu, tidak kau ambil sekarang juga, maka itu artinya, aku yang telah mengambil ponselmu.


Aku tidak terbiasa mengambil sesuatu yang bukan milikku. Karna itu bukan karakterku".


Hanum menjawab santai.


"Bukankah memang kenyataannya kau yang mengambilnya?".


"Ya. Akan tetapi itu untuk ku kembalikan pada yang memilikinya".


"Bagaimana bila aku tak menginginkannya lagi?".


"Berikan pada yang lebih membutuhkan".


"Baiklah, ambil saja ponsel itu".


Ungkap kara yang hendak melangkah pergi meninggalkan Hanum.


Sayangnya, kalimat Hanum mampu menghentikan langkah Kara saat itu.

__ADS_1


"Tapi aku tak membutuhkannya".


Kara menggeram marah karna wanita ini tak juga menyerah.


"Baiklah, aku akan mengambilnya sekarang."


Pada akhirnya, kara Luluh untuk pertama kalinya pada seorang wanita yang bukan ibu dan saudari-saudarinya.


Entah sejak kapan, namun yang Jelas, Kara mengikuti saja apa yang Hanum katakan meski ia marah.


Hanum bersorak kegirangan dalam hatinya.


Butuh perjuangan yang besar untuk mendekati seorang Kara yang seringkali kata-kata tajamnya menyakiti perasaan orang lain.


Tidak masalah. Hanum akan tetap berusaha.


Bukankah sesuatu yang berharga membutuhkan perjuangan?


Hanum yakin akan kemampuan dirinya.


Perlahan........


Dengan Cara perlahan, Hanum pasti bisa menaklukkan Kara.


Keyakinan Hanum demikian kuat bahwa cintanya pasti akan terbalaskan suatu saat kelak.


Hingga mobil Kara terparkir di sebuah rumah kontrakan milik Hanum.


Terlihat, Alma tengah berbincang riang bersama Sasa, sepupu Hanum.


Mereka memang tinggal bertiga dalam satu rumah itu. Alasannya, demi menghemat biaya tempat tinggal yang pada akhirnya di bagi sepertiga setiap orangnya.


Alma yang mengetahui bahwa Hanum di antar Kara, sangat terkejut setengah mati.


Hanum?


Sejak kapan mereka terlihat dekat seperti ini?


Bukankah bos Alma itu baru saja tiba dari new York dan telah tinggal di sana selama sembilan tahun?


Oh baiklah, Hanum butuh penjelasan pada Alma nanti.


Lain Alma lain Sasa.


Sasa terlihat bingung karna pada dasarnya, Sasa tak tau perihal kedekatan Hanum dengan seorang Pria.


"Bos?".


Alma menyapa Kara yang berwajah demikian angkuh saat Kara mengekoro Hanum dari belakang.


"Apa yang kau lakukan di sini?". Kara bertanya dengan nada sinis seperti biasanya.


"Tempat tinggalku disini, bos".


"Masuk, mas".


Hanum mengajak Kara masuk, membuat Sasa dan Alma tercengang. terlebih saat Kara mengikuti saja langkah Hanum meski raut wajahnya terlihat kian menggelap, menahan marah.


Sontak pikiran Alma berkelana dengan liar melewati batasannya. Mengambil spekulasi sepihak tanpa pikir panjang.


Ia berpikir, Hanum bermain dukun atau paranormal diam-diam.


Di dalam.......


Hanum memberikan ponsel milik kara pada Kara.


"Ini, mas....


lain kali hati-hati ya.".


Kara menerimanya, dan tiba-tiba........


Dunia Kara seolah terhenti saat itu. Interaksi langsung antara kulit Kara dan Hanum, menciptakan gelenyar aneh yang di rasakan keduanya.


Ada getaran tak kasat mata yang menjalar ke seluruh saraf sepanjang tubuh.


Terlebih saat pandangan mata mereka bertemu tanpa melepas tangan Hanum yang bersentuhan dengan Kara.


Mereka berdua.........


merasakan jantungnya berdegup kencang, degup jantung itu, semakin liar menghentak di antara darah yang berdesir hebat penuh sensasi. Ada rona kemerahan yang nampak di kedua pipi Hanum, bak kuntum-kuntum sakura yang berjatuhan di musim semi.


Hanum akui, Hanum memang telah jatuh cinta pada Kara semenjak sembilan tahun yang lalu.


Tanpa Kara sadari,


Kara juga telah jatuh hati pada sosok wanita ini.

__ADS_1


Meski egonya terlampau tinggi untuk mengakui, hanya karna ia masih trauma akan pelecehan yang ia terima di masa lalu akibat ulah Dita".


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2