
Di sebuah bilik kontrakan yang cukup sederhana, Lusi tengah duduk seorang diri dibalik jendela, dengan menatap cahaya bulan sabit yang tampak indah. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Sang adik, Shila, mungkin telah terlelap dan hanyut ke alam mimpi.
Gadis itu tengah memikirkan tawaran dari bos besarnya di kantor, Marcel. Entah apa yang akan terjadi, jika Lusi menolak tawaran Marcel. Mungkin setelah ini Lusi dan Shila akan diusir dari kontrakan, juga Lusi yang akan putus kuliah.
Sebenarnya, ini adalah kesempatan besar bagi Lusi untuk mendapatkan banyak uang. Bukan hanya tentang dirinya, tapi ini juga menyangkut tentang masa depan adiknya. Hanya Shila yang Lusi punya, sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa.
Dengan langkah gontai, Lusi bangkit dan menutup jendela kamarnya. Wanita itu juga menuju ke arah kasur usang peninggalan orang tuanya, tempat dimana Shila terlelap dengan nyaman.
Rintik-rintik hujan mulai terdengar di telinga Lusi. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan, dan hati Lusi dilanda mendung seketika saat mengingat nasibnya yang menyedihkan begini.
Diantara suara rintik hujan yang turun tak terlalu deras, sayup-sayup telinga Lusi mendengar pintu kontrakannya diketuk dari luar. Agaknya itu adalah tamu.
Di malam hari begini, siapa memangnya yang Sudi bertamu di rumah kecil Lusi selain ibu pemilik kontrakan? Sekali lagi Lusi pasrah, andai ia diusir dan malam ini harus bermalam di Pos Ronda. Hanya saja, bagaimana dengan Shila? Lusi tak mungkin membawa Shila untuk hidup sebagai gelandangan.
Benar saja, ketika Lusi membuka pintu, tampaklah ibu pemilik kontrakan yang datang.
"Iya, Bu." Ucap Lusi untuk pertama kali. Gadis itu menatap ibu pemilik kontrakan yang judes dan khas penampilan orang kaya.
"Jadi, sudah ada uangnya? Kalau tidak kuat membayar, terpaksa besok pagi kau harus angkat kaki dari sini. Meski rumah ini tak mewah, tapi percayalah, banyak yang mengantri dan sangat ingin menyewa tempat ini." Ucap pemilik kontrakan untuk menciutkan nyali Lusi.
"Maaf, Bu. Saya harus menunggu uangnya besok. Jangan khawatir, semua akan saya bayar lunas." Jawab Lusi dengan suara lirih. Gadis itu benar-benar tak tahu lagi harus bagaimana menyikapi semua ini.
"Aku sudah biasa mendengar ungkapan dari gadis banyak alasan sepertimu. Agaknya, kau perlu angkat kaki besok pagi, jika kau tak bisa membayar sem . . . ."
"Berapa biayanya?" Tanya seseorang pemilik suara khas dan dalam. Kalimatnya berhasil mematahkan makian ibu pemilik kontrakan.
Dia adalah Marcel, yang kebetulan sedang mencari informasi mengenai tempat tinggal Lusi. Dan betapa tak teganya Marcel, ketika didapatinya bahwa Lusi tinggal di daerah yang bisa dibilang kumuh ini menurut Marcel.
"Siapa kau?" Tanya pemilik kontrakan.
"Siapa pun aku, kau tak berhak tau. Urusan Lusi denganku yang belum bisa membayar biaya kontrakan, biar aku yang melunasinya. Katakan saja berapa nominalnya." Ucap Marcel dengan suara yang berubah dingin.
__ADS_1
Suara Marcell, nyatanya mampu membuat udara sekitar, seperti ditekan. Dingin angin disertai aura mencekam menakutkan, membuat Lusi merinding seketika.
"Kau, serius?" Tanya ibu pemilik kontrakan, dengan suara bergetar dan gentar.
"Aku bukanlah bayi yang suka mempermainkan ucapanku sendiri." Jawab Marcel semakin tak enak didengar.
"Baiklah, beri aku sepuluh juta karena ia sudah menunggak cukup lama."
Tanpa pikir panjang, Marcel segera memberikan selembar cek, bertuliskan sepuluh juta rupiah. Ia tak suka dengan orang kaya yang sok dan juga tak mempedulikan kesusaha orang lain.
Sebagai lelaki yang dulu semasa kecilnya selalu hidup dalam serba kesederhanaan, Marcel menjadi seseorang yang sangat peduli terhadap orang biasa. Ia sangat paham betul, bagaimana ia pernah terlambat makan akibat Inora mengalami terlambat menerima uang. Saat itu, Dion sedang kesulitan dalam mengirim uang pada Inora.
Usai memberikan cek pada ibu pemilik kontrakan, pemilik kontrakan itu berlalu begitu saja, dari sana, meninggalkan Marcel, dan juga Lusi berdua saja. saya gerimis seperti ini.
"Aku kedinginan akibat angin bercampur hujan, kau tak ingin mempersilahkan aku masuk ke dalam?" Tanya Marcel kemudian. Lelaki itu menatap Lusi, yang linglung dalam waktu singkat.
"Oh, astaga. Apa yang aku lakukan? maaf, tuan. Mari masuk. Tapi maaf, tempatnya emm . . . jauh dari kata layak untuk Anda bertamu." Lusi yang merasa dibantu oleh olpahlawan di depannya ini, sontak saja kehilangan gaya ketusnya pada Marcel. Hal ini tentu saja membuat Marcel menang.
Kini, keduanya telah duduk di sebuah kursi yang bisa ambruk kapan saja. Marcel tak menyangka, dibalik keberanian seorang Lusi yang seringkali memancing pertikaian, nyatanya Lusi adalah orang yang sangat sederhana.
"Sebentar, tuan. Mau kopi?" Tanya Lusi pada Marcel.
"Malam begini, aku tak terbiasa mengkonsumsi kopi, Lusi. Beri aku teh saja." Pinta Marcel.
"Maaf, tuan. Aku tak memiliki teh. Tapi jika malam tak biasa mengonsumsi kopi, bagaimana jika aku buatkan minuman jahe panas saja? Ya agar tuan tak masuk angin juga." Ungkap Lusi.
"Boleh. Asal kau tak mencampur sianida di dalamnya." Ungkap Marcel, membuat Lusi kembali jengkel pada tuannya itu.
Lusi berlalu begitu saja, meninggalkan Marcel untuk membuat minuman jahe panas. Hingga tak lama kemudian, Lusi kembali dengan membawa segelas besar minuman jahe dengan aroma khas jahe yang menyeruak.
"Kau tinggal bersama siapa disini, Lusi?" Tanya Marcel sambil menyesap minumannya.
__ADS_1
"Saya hanya tinggal berdua dengan adik, tuan. Usianya baru dua belas tahun, dia sudah tidur di dalam." Ungkap Lusi apa adanya.
"Orang tuamu?"
"Sudah lebih dulu ke surga."
"Oh, maaf." Ungkap Marcel. Harusnya marcel tidak menanyakan hal itu.
"Tak apa, tuan. Sudah terbiasa."
"Adikmu masih sekolah?" Tanya marcel menyelidiki.
"Ya. Hampir lulus sekolah dasar dan hampir masuk sekolah menengah pertama. Tapi entah, bila aku tak memiliki cukup uang, mungkin adikku tak akan lanjut kuliah untuk sementara waktu."
"Bagaimana jika kau terima saja tawaranku, dan aku akan membiayai sekolah adikmu. Uang yang tadi aku bayarkan pada pemilik rumah ini, juga aku anggap lunas, bukan lagi hutang. Ini semacam sebuah . . . simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Jika kau bersedia membantuku, aku pun akan membantu kesulitanmu."
Tak ada pilihan lain untuk itu, selain menerima saja tawaran Marcel padanya.
"Baiklah, tuan aku akan terima. Hanya saja, bagaimana jika nanti wanita yang kau sukai Itu, tetap tak bisa menerimamu sebagai kekasihnya? Aku bahkan akan terus berusaha untuk membantumu mendapatkan cinta gadis itu. Hanya saja, apa yang akan terjadi ke depannya? Kita tak tahu, bagaimana kehendak Tuhan. Hanya Tuhan yang maha membolak-balikkan perasaan manusia."
Inilah yang menjadi kekhawatiran Lusi, andai Lusi menerima tawaran Marcel.
Menjadi makcomblang Marcel dengan seorang gadis, membuat Lusi takut sendiri, andai nanti cinta Marcel mendapat penolakan.
"Aku tak akan menekanmu, dan yang terpenting kau sudah bersedia memberiku bantuan."
**
Hai, readers. Kisah Marcel dan Lusi akan dikemas dalam judul "Sekadar cinta Figuran."
Doakan semoga bisa publish bareng dengan kisah "Unwanted Husband" ya. Kisah Ira dan Juna juga akan tetap lanjut bulan depan.
__ADS_1
Terima kasih banyak.