Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Kemurkaan Aridha


__ADS_3

'Ah..... bibir mas Arlan rupanya terasa manis dan aku suka......


Ya tuhan suamiku.....


mengapa tidak dari dulu kau menikahiku??'


Alma membatin dalam degup jantung yang kian menghentak hebat saat tubuhnya dikuasai oleh Kungkungan suaminya.


~part sebelumnya~


Pelan namun pasti, Arlan menghirup aroma wangi yang menguar dari tubuh istrinya. Naluri nya sebagai pria dengan gesit memenuhi secara perlahan apa yang raganya butuhkan.


Alma menegang, wajahnya pucat pasi.


Aliran darahnya seketika terhenti saat itu juga.


Dengan berani, Arlan menempelkan bibirnya di tengkuk Alma.


Bak aliran listrik bertegangan tinggi sentuhan lembut Arlan demikian memporak porandakan pertahanan Alma.


Alma hanyut......


Alma terbuai.......


Alma tergoda.......


Alma mabuk......


Alma sungguh menikmati, menikmati kecupan-kecupan lembut yang Arlan berikan.


Tanpa bisa di kendalikan, desis nikmat dan erangan laknat Alma lolos begitu saja, semakin membuat Arlan terbakar api gairah.


Dengan cepat, Arlan membalikkan tubuh Alma dan segera meraup lembut bibir istrinya yang demikian menimbulkan rasa penasarannya selama dua malam terakhir.


Merasa tak mendapat penolakan dari Alma, Arlan pun segera memperkasar ciumannya.


Sayangnya, tak ada protes sama sekali dari Alma. Maka kesadaran Arlan kembali.


Dengan spontan, Arlan mengehentikan cumbuannya dan segera bangkit dengan nafas yang telah memburu, memejamkan mata dan berusaha meredam gejolak nafsu yang siap meledak kapan saja.


"Alma... aku... Bolehkah?".


Tatapan mata Arlan demikian sayu. Seakan memperlihatkan pada istrinya bahwa dirinya tak sanggup lagi bila harus memendam sesuatu yang menuntut untuk di ledakkan dari dalam dirinya.


Dengan mantap, namun malu......


Alma mengangguk perlahan.


Maka, Arlan segera kembali meraup bibir Alma, ********** lembut. Jantung nya berpacu dengan sangat cepat, Mata Arlan kian satu, Darahnya seakan berlari cepat dan berkumpul pada satu titik di pangkal pahanya.


Dengan tak sabar, Arlan melucuti pakaiannya sendiri dan Alma untuk ia lempar ke sembarang arah. Tubuh Alma demikian molek, jauh lebih memukau dari yang Arlan bayangkan saat fantasi liarnya muncul.


Dengan pelan, Arlan berusaha menembus gawang kesucian yang Alma miliki. Harta yang selama ini di jaga oleh Alma dengan segenap jiwanya.


Saat hentakan pertama, Alma meringis menahan sakit.


Sayangnya....... Arlan di butakan oleh kenikmatan yang baru kali ini ia rasakan.


Hentakan demi hentakan yang Alma terima, terasa sakit di awal permainan.

__ADS_1


Namun, Alma menuntut lebih setelah ia merasakan sakitnya berganti menjadi kenikmatan surgawi.


Sungguh, Arlan tak pernah merasakan nikmatnya mencumbu wanita di atas ranjang.


Dan.........


Takdir Tuhan telah membawa Alma ke atas ranjang Arlan, mempersembahkan tubuhnya untuk Arlan nikmati....


Hingga pagi menjelang, mereka benar-benar melakukan olah raga ranjang yang demikian melelahkan.


*******


"Sialan......!! Apa yang sedang mereka semua lakukan di dalam kamar?".


Aridha tak bisa lagi menahan diri ketika waktu sudah menunjukkan pukul 9.37.


Pagi telah hampir merambah siang, waktu sarapan Aridha dan Aluna terlewat hampir tiga jam. Namun, semua keluarganya tak ada yang turun untuk sarapan.


Seluruh makanan di meja telah dingin. Aridha dan adiknya Aluna seperti merasa tak lagi berselera untuk makan.


Sayangnya, perutnya berprotes ria minta di isi.


"Aku khawatir. Apa jangan-jangan, terjadi sesuatu pada keluarga kita, dan hanya kita yang selamat, kak?".


Aluna mengernyit curiga.


Di keluarga Praja Bekti, hanya Aluna yang paling muda. Jadi tak di salahkan bahwa Aluna lah yang paling polos. Jadi, tidak heran sama sekali.


"Kau ini polos atau bodoh, Luna?".


Aridha bertanya dengan jengkel.


Ungkap Aluna apa adanya.


Aridha diam sejenak, jiwa pemberontaknya itu seketika meronta tanpa bisa di kendalikan.


Maka, Aridha bangkit dan berjalan cepat menaiki tangga. Aluna yang menyadari gelagat tak nyaman dari kakaknya lun ikut bangkit menyusul kakaknya.


Langkah Ridha semakin cepat, namun terasa lambat untuk Ridha sendiri. Kesabarannya sudah habis. Api amarah terasa bak di ubun-ubun, membakar kewarasan dan membabat habis kendali dalam dirinya.


Ridha harus memberi pelajaran pada empat pasangan yang masih bergelung nyaman itu.


Duak.....


Duak.....


Duak.....


Dubragh......


Aridha marah. Aridha murka.


Hingga salah satu pintu berjejer itu terbuka. Kara muncul dengan mata setengah terbuka.


"Apa yang kau lakukan, Ridha? Luna?


Tidak kah kalian lihat hari masih gelap?".


Kara meracau seakan ia terbangun tengah malam.

__ADS_1


"Apa? Pagi ?!?"


Aluna dan Ridha saling pandang, menyahut bersamaan.


"Apa matamu buta? Atau telingamu tuli?


Ini sudah hampir siang. Sebentar lagi jam sepuluh.


Ya tuhaaan.....


Kutukan apa yang menimpa kakakku hingga siang kau bilang malam?!?".


Aluna yang ada di samping Aridha menunduk takut. Sejujurnya, Aluna tak pernah bersikap demikian. Apalagi, Aluna selama ini tumbuh di desa, berkembang di bawah ajaran dan didikan Santika yang memang tindak tanduknya mencerminkan wanita lembut.


"Siang?".


Kara membuka matanya lebar-lebar.


"Ya tuhan, aku ada meeting jam 11 siang ini".


Kara segera menutup pintu dengan cepat.


Di waktu yang bersamaan, pintu kamar Ariana, Arlan dan Radhi terbuka.


Suami Ariana, Arlan dan papanya muncul Engan wajah polos tanpa dosa.


Melihat ini, Aridha semakin murka.


"Apa yang kalian lihat? Tidak tahukan ini sudah siang? Gara-gara aku dan Aluna menunggu kalian, aku belum sarapan hingga se-siang ini".


ucap Ridha dengan berapi-api.


"Siang?".


Arlan bertanya dengan tak percaya.


"Benarkah?",


Radhi dan suami Ariana bergumam bersamaan.


"Jangan banyak tanya!!


CELAyT MANDI DAN AYO SEGERA SARAPAN, AKU LAPAR!!!"


Tanpa menunggu lagi, pintu kamar Arlan, Radhi dan Ariana tertutup bersamaan.


Aridha dengan wajah marah, segera berbalik dan pergi ke meja makan, menyuruh pelayan untuk memanaskan makanan yang telah dingin.


Hari ini adalah hari buruk untuk Aridha.


"Aluna, Bagaimana bisa orang yang sudah menikah bisa menjadi gila semuanya. Untuk mengimbangi mereka, bagaimana bila aku menikah juga? Mengimbangi mereka yang telah kehilangan kewarasannya semenjak memiliki pasangan?".


Aridha tersenyum-senyum sendiri.


Aluna khawatir.........


Sangat khawatir.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


Neng Tia ngetik nya sambil ngerasa panas dingin sendiriπŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2