Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Cinta tak pernah pandang bulu, pada siapa ia akan berlabuh, dan kapan ia akan datang dan juga pergi.


Cinta tak pernah bertanya, pantaskah ia datang pada seseorang dengan masa lalu kelam?


Cinta juga tak pernah berpikir, apa yang akan terjadi di masa depan.


Cinta memang unik, memiliki konsep yang demikian dalam, dan nyaris tak memiliki alasan, mengapa ia datang, dan juga mengapa ia pergi.


Di sudut balkon, Alex merenung seorang diri. Ia bahkan tak menyadari kehadiran istrinya yang kini telah berdiri di sampingnya, dengan bertumpu dagu pada teralis besi berkualitas terbaik.


Banyak hal yang Aridha rasakan, Alex banyak berubah yang entah karena apa. Bukan cintanya yang berubah, namun sikapnya yang akhir-akhir ini lebih pasif dan bahkan selalu pasrah serta lebih banyak diam.


"Jangan kira kau bisa menyembunyikan sesuatu dariku, mas. Aku bahkan tahu dan bisa merasakan bagaimana kau banyak berubah seperti mengacuhkan aku." Ridha berbicara lirih, namun tegas.


Alex tentu saja mengalihkan pandangannya ke arah Ridha. lelaki itu terkejut, mendapati istrinya telah berada di sampingnya dengan tatapan mata sendu.


"Sayang, sejak kapan ada disini? Mengapa bicara begitu?" Alex meraih dan menggenggam tangan istrinya, Ridha pun tak menolak.


"Beberapa waktu ini, kau sudah berubah, mas. Kau lebih acuh dan sering kali asik dengan duniamu. Kadang aku berpikir, apa aku memiliki salah padamu?" Ridha menatap lurus ke langit, menatap kosong langit-langit yang malam ini bertabur bintang dengan rembulan sabit.


"Kau ini bicara apa? Aku berubah apanya? aku mencintaimu, cintaku padamu tak akan berubah." Alex segera mendekat, melepas genggaman tangan mereka dan memeluk istrinya dari samping.


"Jangan berpikiran yang macam-macam. Jangan khawatir, aku mencintaimu. Dan itu sangat."


"Tapi aku merasa begitu, mas. Kau sering menyendiri sekarang. Apa aku memiliki salah padamu? Katakan jika memang kau ada masalah." Ridha diam, memejamkan mata dan menikmati aroma parfum maskulin Alex yang sejak dulu ia sukai.

__ADS_1


"Aku memang ada masalah, masalah yang sangat berat." Alex pikir, ia tak akan bisa menyembunyikan apa pun dari istrinya. Lebih baik, Aridha mendengar semuanya dari pada harus berakhir Ridha mendengarnya dari orang lain.


"Masalah apa? Mengapa tak bercerita padaku? Katakan. Apa kau butuh dana?" Tanya Ridha yang dijawab gelengan kepala oleh Alex.


"Tidak. Kau tau aku sudah banyak uang seorang. Bahkan Tania sokongan dari mama Lita dan papa Radhi, aku sanggup membuatmu dan Hesti hidup mewah. Ini . . . masalah lama."


Aridha mengernyitkan keningnya. Ia tak berpikir yang macam-macam. Hanya saja, sudut hati Aridha terusik saat ia mendengar bahwa Alex sedang dilanda masalah lama.


"Katakan. Jangan sembunyikan apa pun dariku."


"Sebelum menikah denganmu, kau tau aku adalah pemain wanita. Kau juga tahu, bahwa hidupku sangat buruk dan tak terkendali. Saat aku masih menyandang remaja nakal, bagaimana jika aku telah menghamili seorang wanita?"


Aridha diam, tak bergeming dari tempatnya. Ia sungguh takut, bila instingnya selama ini benar. Semoga saja, Alex tak akan menyakiti hatinya.


"Lalu?"


Baru saja alex membuka mulutnya hendak menjawab, ponsel Ridha bergetar, dan Alex melihat bahwa si pemanggil adalah Aksa.


"Dia tak akan meneleponmu bila tak ada hal penting. Tidak apa, angkat saja." Titah Alex.


"Tidak. Aku tak ingin kau menceritakan masalahmu setengah-setengah. Teruskan."


Dan Alex tak segera meneruskan. Ia tahu, tahu betul bahwa saat ini, Aksa pasti akan menceritakan bahwa ia memiliki kakak ipar yang sangat mirip dengan Alex. Alex bisa menebak itu.


"Angkat saja." Sadar Alex tak mau dibantah, Alex menyuruh Aridha mengangkatnya.

__ADS_1


Beruntung pengendalian diri dan kontrol emosi Aridha sangat kuat. Wanita itu masih bisa bersikap santai, saat hatinya menerima sebuah ungkapan menyakitkan suaminya.


Menghamili wanita di masa lalu, bukanlah perkara mudah bagi Aridha.


"Apa, Aksa? Ada apa?"


"....."


"Aku sedang ada urusan dan bicara penting dengan Om Alex."


"....."


"Ya, baiklah. Aku akan mengajak om Alex untuk turun."


"Mari turun, Aksa ingin bicara penting." Baru saja Aridha berbalik hendak melangkah, Alex mencegah langkah Aridha.


"Apa pun yang akan terjadi di masa depan, berjanjilah untuk tak terpengaruh, Ridha. Kau istriku, aku mencintai dan menyayangimu dengan segenap yang aku punya. Kumohon, jangan sampai kau berpikir aku telah mengkhianatimu. Percayalah, sejak menemukanmu dan menjadikanmu kekasih hingga istri, hanya kau yang aku cintai dan aku tak pernah mengkhianatimu."


Di tempatnya, Aridha tersenyum dengan perasaan tak menentu.


"Aku percaya, mas. Mari turun ke lantai bawah."


Meski tampak biasa saja, siapa yang tahu jika saat ini perasaan Aridha saat ini terasa tercabik. Sehebat itu si singa betina itu menyembunyikan riak emosinya di dasar hati.


**

__ADS_1


__ADS_2