
Malam telah larut. Makan malam telah usai dua jam yang lalu.
Semilir angin menghembus perlahan, menyeruak memasuki tiap sisi ventilasi pada jendela. menambah kesejukan khas di larut malam.
Tak seperti malam-malam sebelumnya.
Malam terasa sangat mencekam. Aura dingin mendominasi tiap hembusan angin yang bersemilir.
Hanum duduk dan termenung lama.
Ada rasa resah.... Khawatir.... Gelisah.... dan berbagai rasa tak nyaman lainnya.
Malam ini adalah malam pertamanya bersama sang suami. Namun, hingga kini Kara tak kunjung datang.
Semenjak mentari merapat ke peraduan, hingga menampakkan sinar senja kemerahan......
Kara pergi entah kemana.
Sebelum pergi, sayup-sayup Hanum mendengar suaminya itu menghubungi seseorang bernama Seno.
Sayangnya, Hanum tak terlalu jelas mendengarnya.
Hingga waktu terus merangkak naik, Hanum melaluinya dengan terus menunggu suaminya.
Dilirik jam dinding di dekat pintu kamar mandi, Bahkan waktu sudah menunjukkan jam 22.47.
Hanum bingung harus mencari suaminya kemana. sedang semua orang, mungkin telah terlelap dan berkelana dalam dunia mimpinya.
Desahan nafas lelah bercampur khawatir, terus meluncur begitu saja dari bibir Hanum. Hingga suara pintu kamar pengantinnya terbuka dengan kasar.
Sosok tinggi menjulang suaminya itu, masuk dengan langkah pelan. matanya sedikit memerah. Bau alkohol menyeruak begitu saja saat Hanum mendekat.
Sesaat membuat Hanum mematung tak percaya.
Kara mabuk. Ya, pasti saat ini suaminya itu tengah mabuk. sayangnya, langakahnya masih bisa teratur dan tubuhnya tetap tegap nan kokoh.
Sepintas, Hanum menegak ludahnya kasar saat indera penciumannya menangkap Harum wangi maskulin bercampur keringat.
Membuat sisi terasing dalam dirinya mulai berkelana liar.
"Mas..... kau..... mmphhhh?".
Tak sempat Hanum melanjutkan kalimatnya, Kara segera membungkam bibir istrinya dengan ciuman kasar.
Sesaat, Hanum terkesiap.
Tubuhnya menegang seiring dengan gelenyar aneh yang membuat darahnya mendidih akibat kobaran panas gairah suaminya.
Tangan nakal Kara mulai menyusup ke area punggung Hanum.
Cumbuan mereka perlahan saking menuntut.
Hanum pun mulai terbuai yang menjadi lupa diri.
"Mmmmpphh.... ahhhh....".
Desahan laknat itu mulai lolos begitu saja dari bibir Hanum.
Kara semakin terbakar api gairah. Matanya menyala penuh nafsu. Amarah yang semenjak siang tadi di tahannya, Kini akan ia lampiaskan pada istri, yang katanya..... sangat mencintainya semenjak sembilan tahun lalu.
Kara semakin memperdalam ciumannya.
Semakin menuntut dan semakin berlaku kasar.
Dengan gerakan tiba-tiba, kara mendorong kasar istrinya ke atas ranjang pengantin bertilam putih mereka.
Saksi atas keliaran dan kerakusan seorang Azkara Putra Praja Bekti.
"Desahkan namaku sepanjang malam ini, Hanum. kau mencintaiku, bukan?
__ADS_1
Maka layani aku, puaskan aku."
Hanum tak sanggup.
Perlakuan kasar suaminya seakan tak menghargai Hanum, bahkan Hanum merasa di rendahkan karna di perlakukan layaknya seperti jalang sejati.
"Ja...jangan. Heen....hentikan, mas....".
Tubuh Hanum bergetar hebat. Ia merasa telah di lecehkan.
Sayangnya, pelakunya adalah suaminya sendiri.
Mungkin, saat ini dirinya tengah di perolok oleh seisi dunia.
"Kau menolakku?".
Wajah Kara merah padam.
Ia mulai murka. Emosinya mulai tersulut.
Jiwa iblisnya mulai tergugah dan bangkit.
Selama ini, tak pernah ada seorang wanita pun yang berani menolak keinginan seorang Kara.
Bahkan, kebanyakan wanita, berani dan rela berlutut dan bersimpuh di kaki Kara untuk bisa di jadikan partner seksnya.
Tubuh Kara demikian menggiurkan kaum hawa, membangkitkan rasa iri para kaum Adam.
Sayangnya, malam ini, di malam pengantinnya, Istrinya menolak untuk melayaninya.
Sungguh ego Kara terasa mulai tergores oleh istrinya.
"Aku tak kan menolakmu bila kau memperlakukanku dengan lembut".
Ucap Hanum dengan mendorong tubuh kekar Kara.
sayangnya, Kara jauh lebih kuat di banding Hanum.
Kara murka.
Kara marah.
Kara emosi.
Kara tak terima.
Kara lantas kembali meraup tubuh ideal istrinya. Mencumbui dengan kasar. Tanpa ampun dan tanpa kelembutan.
Hanum, wanita itu bahkan di buat merintih di bawah Kungkungan Naga jantan yang bernama..... Kara.
Menghabiskan malam dengan penuh rasa.
*********
"Kita lumpuhkan kekuatan milik Wira Atmadja dari dalam.".
Radhi saat ini tengah berada di dalam ruang kerjanya bersama Kara.
Ayah dan anak ini tengah berdiskusi tentang rencana untuk menghancurkan keluarga dan usaha milik Atmadja, sebelum perusahaan Adi Prama di kuasai Wira Atmadja.
"Heh..... Aku tak menyangka aku harus menyelam dan meminum air di saat yang bersamaan.
Mungkin, om Chandra dan Tante Dewi akan semakin membenciku setelah ini.
Mengingat selain aku telah melukai putrinya, Aku juga akan membatalkan rencana pernikahan mereka.".
Kara tertawa miris.
Radhi mengerti.
__ADS_1
Bagaimana pun, Kara telah membentuk kekuatan batin tersendiri dengan Dewi dan Chandra sebagai orang tua.
Meski tak di pungkiri, Kara seringkali memperolok Chandra dengan tajamnya perkataan, kasarnya bahasa, dan pedasnya kalimat.
Begitu juga dengan Chandra. Tak pernah sedikitpun Chandra marah pada Kara.
Sikap mereka, terbilang seperti permusuhan.
Tapi siapa sangka, di balik sikap Kara dan Chandra yang seringkali berdebat, di belakang itu semua, sebuah simpati dan empati pada nurani mereka, saling terikat satu sama lain.
"Ini demi kebaikan usaha om mu, Kara.
Sebagai saudara dan kerabat dekat, Tega kah kita bila melihat Chandra terpuruk dan jatuh di tangan menantu dan besannya?".
"Kau benar ayah.
Sebenarnya...... aku tak tertarik dengan harta dan seluruh aset milik keluarga Atmadja.
Karna aku lebih dari sekedar mampu bila untuk mencukupi kebutuhan istriku.
Hanya saja ..... Aku tak kan tinggal diam bila ada pihak lain yang mengusik keluargaku".
Radhi mengangguk paham.
"Persiapkan Dirimu, kara.
Eok hari, kita akan secara terang-terangan datang memancing Atmadja untuk keluar sebagai sang antagonis".
"Aku mengerti."
Usai perbincangan pagi itu, Kara segera beranjak ke lantai atas menuju kamarnya.
Saat membuka pintu, kara sama sekali tak merasa bersalah atas sikapnya semalam terhadap Hanum, istrinya.
Hanum masih terlelap dalam tidurnya, menjelajahi alam mimpinya dengan wajah damai.
Semalam, Kara telah melampiaskan amarahnya pada Hanum.
Tidakkah Kara merasa iba atas tubuh istrinya yang ia gulat kasar diatas ranjang semalam?
Tidak.
Kara sama sekali tak merasa menyesal.
Entah mengapa, Kara merasa tak nyaman saat melihat istrinya kelelahan hingga terlelap saat hari menjelang siang.
Sayangnya, rasa tak nyaman itu, Kara tepis sejauh mungkin.
Kara tak akan merasa kasihan pada wanita manapun, sekasar apapun perlakuannya.
Hati Kara terlampau beku.
Sebeku kutub Utara.
Satu wanita yang membuatnya menjadi demikian kejam, tak berperasaan, tak bernurani.
Mengingat kejadian sembilan tahun lalu, membuat Kara di dera amarah yang kembali meletup-letup.
"Dita......
Namamu telah ku haramkan.
Hati ku yang terlanjur kau gores hingga menembus bagian terdalam, tak kan ada satupun yang bisa mengobati luka itu.
Kau........
Dengan senang hati aku bila harus menghancurkanmu hingga ke titik terdalam kepercayaan dirimu".
Ucapnya Lirih dengan mata tak lepas dari raga wanita yang ia gagahi hampir semalaman.
__ADS_1
Matanya menyala penuh luka.
🍁🌻🌻🌻🍁