Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Konflik makan malam


__ADS_3

"Ma...maafkan aku, Hanum".


Lirih Dita yang menyerupai suara bisikan angin.


Wajahnya nampak pucat dengan mata yang mulai cekung. Bahkan pipinya juga nampak sangat tirus.


Hanum sangat prihatin melihat keadaan Dita ini. Sebagai wanita, siapa yang sanggup melihat salah satu kaumnya di siksa hingga sedemikian rupa?


Terlebih lagi, suaminya lah yang menjadi pelakunya.


"Dita.... Kau...."


Hanum meneteskan air matanya perlahan.


Sedih itu mencuat.


Luka itu kembali ke permukaan saat ingat foto suaminya dalam rangkulan wanita lain karna ulah Dita.


Namun kini.....


Melihat Dita yang terbaring tak berdaya dalam keadaan yang amat sangat menyedihkan, membuat Hanum merasa suaminya terlampau kejam membalas sakit hatinya.


Hampir saja Hanum limbung bila saja Suaminya tak menopang tubuh ringkihnya.


"Sayang, kau lelah?"


Kara bertanya dengan suara lembut.


Dita.......


Wanita itu merasakan nyeri di hatinya, menikmati kesakitan nya seorang diri tanpa seorang pun yang peduli.


Sayangnya, kesadaran diri membuat Dita harusnya memang menerima apapun keadaannya.


"Mas.......".


Tanpa kata lagi, Hanum menggeleng ke arah kara, suaminya. Kemudian pandangannya beralih pada Dita.


"Apa harapan mu sekarang, Dita?"


Hanum bertanya dengan suara bergetar.


"Tidak ada.


Hanya sebuah keinginan receh agar kau dan suamimu Sudi menyerahkan maaf untukku.


Siapakah aku, Hanum.


Aku hanya sampah yang tak berhak memiliki harapan lagi.


Aku.... Aku tak berharga lagi di mata siapapun saat ini."


Pedih, sakit, luka......


Kini bersarang erat dalam hati Dita.


"Andai... andai aku di beri kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku ingin memutar balik keadaan dan waktu.


Sayanganya, semua tak lagi berarti. Maaf, maaf karna telah berusaha mencelakaimu dan mengahancurkan rumah tanggamu.


Bila boleh aku meminta untuk yang terakhir, aku ingin bertemu Daniel dan Hana untuk menyampaikan maafku.


Selebihnya, aku pasrah kan hidupku pada semesta yang lebih tau harus bagaimana nasib diriku ke depan".


Dengan susah payah, Dita menyampaikan keinginan terpendamnya yang berwujud kalimat panjang.


Persetan andai Kara tak mengabulkannya, Dita tak mengharapkan apapun lagi dari pria itu.

__ADS_1


Hanya saja, Dita berusaha menyampaikan keinginan hatinya yang mustahil ia raih.


"Pasti. Kau akan segera bertemu Daniel dan putrimu, Hana.


Aku akan memintanya langsung pada suamiku".


Hanum menggenggam erat jemari Dita yang terlihat lentik dan rapuh. Ada senyum hangat yang coba ia tawarkan pada Dita. Senyum yang mengundang persahabatan.


Kara sempat terhenyak dengan kalimat terakhir istrinya. Kara tak salah lagi, wanita yang ia nikahi ini adalah wujud dari bidadari yang tuhan utus untuk mendampingi hidupnya.


"Te-terima kasih, Hanum. Andai tuhan memberi kesempatan, aku tak keberatan mendapat kutukan langsung darimu.


Kesalahanku, amat fatal"


Dita semakin terisak memejamkan matanya.


"Mas, pertemukan lah Dita dengan Hana dan Daniel. Lihat, kita telah kembali bersama dan kau membalasnya dengan sangat kejam.


Ku mohon....".


Senyum manis terlontar dari bibir kara untuk Hanum, istrinya seorang.


"Dia sudah lebih dari cukup menerima balasannya. Jangan menghukumnya dengan tidak manusiawi. Kita.......


Aku percaya kau tak serendah itu.


Kau suamiku yang berhati baik, bukan?"


"Ya. Aku akan bawa Daniel dan Hana kemari, untukmu. Hanya untukmu"


Sekali lagi, perasaan Dita terhempas jatuh ketika menyaksikan suami istri di hadapannya ini saling berpeluk mesra.


Kini.....


Dita benar-benar ikhlas melepas perasannya terhadap Kara. Baginya, Kara adalah masa lalunya.


Terlalu percaya diri jika Dita menyebut nama Daniel.


Kenyataannya, Daniel pun belum tentu mau beristrikan wanita cacat seperti dirinya. Hanya Hana lah masa depan yang menjadi alasan Dita menjadi kuat.


"Terima kasih, terima kasih".


Hanya itu yang bisa Dita ucapkan dengan bibirnya yang bergetar.


Semoga ini menjadi awal yang baik ke depannya.


*****


Di ruang makan keluarga Praja Bekti, Suasana nampak hangat terasa.


Arlan dan Alma di paksa Chandra untuk tinggal bersama mereka di kediaman Adi Prama, sedang Ariana dan Anton, suaminya..... telah tinggal di rumah milik Anton.


Di meja makan, Jelita, Radhi, Kara, Hanum, Aluna dan Aridha duduk di kursi mereka masing-masing.


Dan jangan lupakan si tampan yang lembut, Seno. Pria itu bahkan di undang langsung oleh Jelita untuk hadir dalam acara makan malam kali ini.


Malam kali ini, ada maksud tersembunyi dari Jelita dan Radhi.


Melihat senyum dan tatapan yang saling di lemparkan putri bungsu Mereka dengan Seno, membuat Jelita dan Radhi merasa mantab untuk segera menyatukan mereka.


"Jadi, kapan kalian akan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius Seno, Luna?"


Suara Radhi membuat kedua orang yang di maksud menegang. Mereka tak menyangka Radhi akan bertanya dengan gamblang.


Bukan apa-apa, Seno dan Luna memutuskan untuk menjalin hubungan diam-diam.


Hingga nanti mereka siap, barulah Seno akan. benar-benar melamar Luna secara resmi.

__ADS_1


Sayangnya, Seno lupa siapa Radhi dan Jelita ini. Mereka memiliki banyak orang kepercayaan, memiliki mata dan telinga di mana-mana.


Sial......


Seno meremehkan hal ini.


"Pa, aku....."


"Apa?"


Radhi memandang lekat putri bungsunya yang nampak lebih mungil di banding Aridha yang tinggi semampai.


"Ap...apa papa.... merestui kami?"


Radhi dan Lita saling pandang. Hanum dan Kara benar-benar terkejut karna Radhi akan bertindak secepat ini.


"Tentu. Apa alasan papa dan mama bila harus menolak dan menentang hubungan kalian?"


Ada bunga yang bertebaran di banyak ruang di hari keduanya, Seno dan Luna.


"Tapi.... nona Luna masih menjalani pendidikan, tuan".


Seno menyuarakan isi hatinya.


"Siapa bilang bahwa kuliah tak boleh sambil menikah?"


Tanya jelita yang berhasil membungkam keduanya.


"Bila kalian sama-sama yakin, apa yang kalian tunggu?


Tidak baik bila berlama-lama menjalin hubungan tanpa kejelasan dan kepastian.


Mama tak suka dengan hal seperti itu, Luna.... Seno....."


Tambah Jelita.


Senyum malu-malu terus terukir di bibir dua insan yang saling jatuh hati itu.


Sedang Radhi, memandang putrinya yang lain, Aridha.....


Gadis itu memandang balik papanya dengan pandangan mata yang berkaca-kaca, sorot matanya terluka, sinar cinta yang biasa gadis ceria itu tunjukkan, kini redup sudah.


Aridha merasa, kedua orang tuanya pilih kasih dalam memperlakukan putra putri mereka.


Bila Seno dan Luna segera mereka restui, lantas..... mengapa Alex dan dirinya tidak?


Aridha menggeleng pelan.


Hatinya yang berdarah, tak kuat lagi menahan pedih yang membabi buta.


Dirinya perlu menenangkan pikiran dan meluapkan amarah dan air mata yang siap meledak saat ini juga.


Tanpa minum, Aridha bangkit dan hendak pergi.


Selera makannya lenyap seketika.


Suasana di meja makan ini terasa bukan main malam keluarga bagi Ridha, melainkan konflik yang berkedok makan malam keluarga.


Sekali lagi, Aridha merasa muak pada keluarganya untuk pertama kalinya.


"Maaf, aku sudah kenyang dan harus segera kembali".


Ucapnya tanpa menunggu siapapun menyahutinya.


Radhi memiliki firasat tak baik setelah makan malam ini.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2