
"Sayangnya, Aku sangat kejam pada lelaki, daripada kedua putramu yang telah kejam pada wanita dengan menggilir seorang gadis sembilan tahun lalu hingga terlahir seorang gadis kecil akibat perbuatan kedua putramu itu, nyonya Atmadja".
~part sebelumnya~
Terpaku!!
Semua orang terpaku dengan pandangan mata nyalang ke arah Daniel dan Chandra.
Jangan tanyakan seperti apa Kara.
Pria itu tentu tetap mempertahankan posisinya semula. Tidak beringsut barang se-inchi pun dari sana. Lengan kokohnya tetap bersiap menarik pelatuknya kapanpun ia ingin.
"Katakan apa keinginanmu?
Sebelum aku mengirim kalian semua pada malaikat maut satu per satu, menyiksa kalian dan melolosi satu per satu tulang kalian dari tempatnya, dan membiarkan jasad kalian berceceran dengan ngengat yang mengerubungi!!"
Hanum dan juga callista terkesiap.
Sekejam itukah seorang Azkara?
Bahkan, meski Hanum di perlakukan dengan tak baik oleh mereka, tentu Hanum tak akan sampai hati menyakiti orang itu hingga sedemikian kejam.
"Cukup, nak".
Liana bergetar hebat.
"Cukup sudah. Sekejam apapun kau menyiksanya, atau bahkan membunuhnya, tetap tak akan membuat mendiang Darrel kembali ke pelukan ibu.
Biarlah, ibu tak mau membuat Darrel menangis lirih di surga karna menyaksikan ibu sekejam keluarganya.
Ibu hanya ingin membuat Darrel bangga karna telah mencintai ibu".
Callista yang menopang tubuh ibunya, segera memeluk Liana erat. Di susul Hanum, mereka menumpahkan tangis sebagai deklarasi pada dunia akan duka mereka yang tak kunjung akhir.
dorrrrrrrr........
Suara tembakan terdengar nyaring dan cukup mengejutkan semua orang.
Semua mata tertuju pada Kara yang menggenggam pistol dengan erat.
Suasana seperti adegan slow motion dalam Film-film action.
Tegang.
Tak ada apapun yang terjadi.
Tak ada rintihan apalagi rasa sakit yang di teriakkan dengan penuh pilu.
Jantung Wira hampir saja melompat dari dalam rongga dadanya.
"Mas".
Hanum berlari ke arah Kara dengan langkah yang terasa berat, namun perlahan menjadi ringan. Tiba-tiba saja, Hanum menghambur ke dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
Dengan erat, Hanum memeluk erat suaminya. Menumpahkan tangis, meraung dan meneriakkan nama suaminya dengan suara bergetar.
Tak kan ia biarkan suaminya menjadi pendosa seperti keluarga tiri mendiang ayahnya.
Tidak. Hanum jelas tak mau hal itu terjadi pada Kara.
"Jangan....
Jangan lakukan, mas. Aku tak mau. Aku tak mau nanti sesuatu terjadi padamu".
Kara tersenyum tipis. Pistol yang sedari tadi di genggamnya, beralih ke tangan kiri Kara, tangan kanannya ia pergunakan untuk mengusap pelan punggung istrinya.
"Tidak, Hanum. Darah harus di bayar darah. Mata harus di bayar mata.
Percayalah..... atau bila tidak, aku tak kan keberatan menghabisi Daniel karna di adalah ayah biologis dari Hana, putri yang di lahirkan Dita".
Kara mempermainkan perasaan semua orang. Termasuk istrinya.
Kara.......
Pria itu tak akan pernah melenyapkan nyawa seseorang begitu saja bila orang tersebut cukup cerdas dengan tidak mengusiknya.
Apalagi Hanum, istri cantik dan imutnya itu tak menghendaki nya melakukan hal yang berlawanan dengan moral masyarakat.
"Di Dita......".
Suara lirih Daniel, membuat semua orang mengalihkan tatapan mereka ke arah pintu yang baru terbuka.
Dita muncul, menggendong Hana bersama Chandra dan Dewi yang mengiringinya.
Kebencian, amarah, kekecewaan, dan rasa jijik bersatu membentuk gumpalan padat di hati Dita.
"Dita..... ku mohon. Me..men....mendekat....lah..."
Suara Daniel demikian lirih, menyerupai hembusan angin malam.
Dita diam, tak bergerak sedikitpun.
Air matanya meluruh, mengingat betapa Dita pernah di lempar pada jurang keterpurukan oleh pria menyedihkan di depannya ini.
"Kita bertemu tuan Wira. Calon besan. Aku tak menyangka..... pertemuan kita malam ini karna sebuah tragedi yang diawali putramu sembilan tahun lalu".
Chandra tersenyum pedih, namun suaranya ia buat se-datar mungkin. Meski Dita bukan darah dagingnya, namun bertahun-tahun lamanya, kesehariannya hidup bersama Dita. Bagaimana mungkin Chandra tak merasakan pedih saat mendapati kenyataan bahwa Dita di perlakukan dengan sangat kejam oleh dua pemuda sekaligus.
Wira tak bisa menjawab walau sepatah kata pun.
"Di...dia.... anak Daniel?".
Nyonya Atmadja terbata. Tubuhnya gemetar hebat.
"Ya, secara biologis. Tapi keluarga kalian tak sedikitpun memiliki hak atas anak ini.
Karna kami...... membesarkan gadis kecil ini tanpa campur tangan kalian".
__ADS_1
Dewi menjawab dengan nada sarkatis.
Dita diam saja. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Tak memiliki kekuatan sama sekali.
Hanya mendung di wajahnya untuk memperlihatkan dukanya.
"Na...namanya Hana?".
Nyonya Atmadja kembali bertanya.
Air mata Dita kian deras mengalir. Ia semakin erat memeluk Hana.
"Ya. Gihana Mayang Sari. Gadis kecil yang tak menyandang nama ayahnya di belakang namanya.
Tertawalah Daniel.....
Tertawalah sepuas yang kau mau.
Kau berhasil mengahancurkan hidupku sekarang. Kau berhasil".
Dita menangis pilu.
Hanum melepaskan diri dari pelukan suaminya. Ia mendekat ke arah Dita dan mengambil alih Hana dari pelukan Dita.
"Sudah Dita. Aku tau apa yang kau rasakan. Percayalah, keluargamu masih sangat mempedulikan mu. Kau tak sendirian".
Hana hanya mengamati obrolan orang dewasa yang tak ia mengerti kemana arahnya.
Pandangan matanya terpaku pada sosok Daniel yang juga menatapnya.
"Om itu.... siapa ma?".
Hana bertanya polos. Ia bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari Daniel. Telunjuk kanannya menunjuk Daniel penuh rasa ingin tahu.
"Dia bukan siapa-siapa, Hana. Ayo kita pulang".
Cukup sudah, Dita tak tahan lagi.
"Dita, ku mohon. Beri aku kesempatan untuk.......".
Dengan Cepat, Dita segera menyela ucapan Daniel.
"Jaga batasanmu, Daniel. Kau bukan suamiku. Kau bukan ayah Hana. Jadi jangan meminta lebih padaku!!".
Pandangan mata Dita beralih pada Hanum.
"Hanum, berikan Gihana padaku. Aku ingin pulang".
Belum sempat Hanum menyerahkan Hana, tetiba Daniel bersuara kembali.
"Bunuh aku, Dita. Bunuh aku sekarang. Aku tak peduli lagi sekarang. Tapi ku mohon luluskan satu permintaanku. Ijinkan aku memeluk putriku, sekali saja, sebentar saja".
Dita menatap tajam Daniel.
__ADS_1
"Dalam mimpimu, Daniel".
🍁🌻🌻🌻🍁