
Sebulan berlalu semenjak kepergian Hanum.
Kara demikian kacau dan dirinya makin tak terurus.
Sebagian kecil waktunya, Kara pergunakan untuk bekerja dan sebagian besar lagi, Kara pergunakan untuk mencari istrinya.
Semua pegawai di kantor, semakin prihatin setiap kali mendapati keadaan presdir mereka, demikian kacau dan jauh dari kata rapi seperti biasanya.
Semakin Dingin dan sinis, sikap Kara semakin kejam setiap kali ada satu staf saja yang membuat kesalahan.
Kara bahkan tak segan-segan menghukum siapapun yang berani melanggar aturannya.
Jelita mulai khawatir dengan keadaan ini.
Kara semakin tak manusiawi. Hatinya seakan mati. Tak ada belas kasih dan tak ada toleransi.
Semua pegawai di perlakukan sama rata.
Malam ini, Kara pulang ke kediaman Praja Bekti saat malam telah larut. Wajahnya kusut masai.
Saat ia melewati ruang keluarga, Dirinya bertemu Radhi dan Jelita. Alma dan Aridha juga ada di sana.
"Malam, ma. Malam, pa".
Hanya sapaan ringan yang Kara lakukan.
Setelahnya pria itu berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban orang tuanya.
Mendapati hal ini, Jelita seperti di hadapkan pada petaka yang mengerikan.
Tak ada senyum menawan.
Tak ada kelembutan.
Tak ada gurau manja.
Tak ada kehangatan.
Tak ada kritikan pedas.
Yang ada hanyalah wajah letih dan keputus asa'an tanpa ujung.
Sedalam itukah Kara mencintai istrinya?
"Tidaaaak!!"
pr**ang.....
Suara gaduh tetiba terdengar dari dalam kamar Kara. Semua keluarga segera berhambur menghampiri tanpa menunggu lama.
Semua mata membola ketika kaca di kamar mandi hancur berantakan, pecah menjadi ribuan keping.
Kara meraung dengan tangan yang telah berlumuran darah.
Tangan kirinya menggenggam erat sebuah benda pipih memanjang, sesuatu yang kara temukan tepat di belakang shampo milik istrinya.
Jelita terkesiap saat ada dua garis merah dalam benda tersebut.
Mungkinkah?
Oh tidak, Jelita bahkan masih merasa ini hanya gurauan.
"Milik siapa ini, Kara?"
Tanya Jelita. Tatapan matanya terpaku ketika Kara menekuk kedua lututnya, melipat kedua tangannya di atas lutut dan menelungkupkan wajahnya di sana.
Tangan Lita gemetar seketika.
"Ja-jadi.... Hanum.... ha...hamil?"
Jelita seperti tak percaya. Keinginannya untuk memiliki cucu dari Kara setelah Ariana, kini akan terpenuhi.
Namun? Dimana keberadaan menantunya itu?
__ADS_1
"Temukan siapa pelakunya dan Kau akan segera mengetahui jalan mana yang harus ku tempuh, Kara.
Istri mu yang mengandung tak boleh terlalu lama pergi dari sini".
Tukas Radhi kemudian, setelahnya, Radhi berlalu pergi.
*******
Di sebuah rumah mungil di kepulauan yang jauh dari tempat tinggal Praja Bekti, Seorang wanita terbaring lemah. Tubuh ringkihnya sedikit berkurang bobotnya dari sebulan yang lalu.
Wajah cantiknya yang semula terlihat nampak segar, kini sedikit tirus dan pucat.
Selang infus masih setia menemani harinya. Ponsel dan segala sesuatu yang bisa ia pergunakan untuk menghubungi suami tercintanya, kini tak ada.
Tertinggal di rumah lawas atas perintah seseorang yang mengasingkannya di sini.
"Paman Arman.....
Kapan papa akan kembali kemari?".
Hanum bertanya dengan lirih.
Saat malam dimana ia mendapat kiriman pesan tentang fitnah suaminya itu, ia segera di bawa pergi oleh Arman, Orang kpercayaan Radhi yang telah di anggap sebagai saudara oleh Radhi.
Bukan tanpa alasan.
Radhi ingin Kara tegas dalam menyikapi hal ini.
Dalam rancangan rencana yang Radhi susun, Kara tak akan mengampuni siapapun yang menjadi otak dari fitnah tentang Kara.
Dengan kepergian Hanum, Kara akan semakin beringas dalam menghancurkan musuhnya.
Andai pun Hanum di kembalikan saat ini, Radhi yakin Hanum tentu akan meminta Kara untuk berhenti membalas kan dendamnya.
Kara mungkin saja goyah, mengingat ia telah di perbudak oleh cintanya sendiri terhadap Hanum.
Tidak.
Kara harus tegas kali ini. Tidak akan ia biarkan Kara bertemu Hanum bila Kara tak membereskan pelakunya dengan tuntas.
Taukah kau apa itu artinya?
Di balik kelembutan dan kearifan seorang Radhi, Radhi tak ubahnya malaikat kematian yang sangat membahayakan bagi siapapun yang mengusiknya.
Radhi bisa lebih kejam dari Jelita.
Tapi ia tak ingin memperlihatkan kekejamannya terhadap dunia. Ia melakukan semua itu demi menjaga anak turunannya agar tak menjadi lemah, dan tak menjadi kejam seperti dirinya.
"Dua hari lagi. Bersabarlah, nak. Papa Radhi akan datang. Suasana di san masih sangat genting".
Arman tersenyum lembut penuh pengertian.
Hatinya sejujurnya ikut tergores ketika mendapati fakta ini.
Seminggu yang lalu, Arman berhasil menyusup ke persembunyian Dita, merekam percakapannya dengan Holy.
"Apa mas Kara baik-baik saja?".
"Tentu. Suamimu sedang membereskan kekacauan di sana. Bersabarlah, Semua akan baik-baik saja. Setelah Masalah di sana usai, kau akan kembali ke sana.
Percayalah, papa Radhi juga sebenarnya tak tega memisahkan kau dari keluarganya, tapi ini demi keamananmu."
"Aku percaya papa. Tapi, boleh kah aku menelepon Mas Kara?"
"Tidak untuk sekarang, bersabarlah.
Ngomong-ngomong apa Kau ingin sesuatu?".
"Tidak. Aku sedang tak ingin apapun saat ini".
Arman tersenyum kecil.
Menatap wajah teduh Hanum, membuat Rasa iba tumbuh dalam hati Arman.
__ADS_1
"Baiklah, istirahatlah. Kehamilanmu sangat lemah untuk saat ini. Kau juga tak bisa menelan sedikitpun makanan. Bila suamimu tau, dia pasti akan sangat cemas.
Segeralah sehat agar bisa segera kembali ke ibu kota".
Hanum mengangguk.
*****
"Aku telah mendapatkan bukti konkret dari masalah ini".
Kara menatap Seno dengan seksama ketika kalimat Seno terlontar malam ini.
"Katakan!".
"Dita adalah otak dari semua konspirasi ini.
Kau masih ingat dengan Holy? Utusan dari CTR grup?".
"Apa kaitannya?".
"Wanita yang ada dalam foto itu bersamamu, dia adalah Holy. Holy di peralat oleh Dita.
Putranya yang berusia kurang dari tiga tahun, di jadikan sandera oleh Dita agar Holy mengikuti perintahnya. Dan pada akhirnya, Holy tak berdaya di bawah perintah Dita si rubah licik itu".
Wajah datar yang sedari tadi di pertahankan oleh Kara, kini mendadak menggelap. Netra matanya mengobarkan gairah dendam yang luar biasa.
"Aku sudah menduga. Tapi aku tak juga mendapatkan bukti.
Kumpulkan data detailnya secara lengkap, Seno.
Aku tak akan segera menghukumnya.
Aku ingin bermain-main dulu dengannya".
Ungkap Kara kemudian.
Seno segera berlalu pergi.
Mata Seno menunjukkan keterkejutan ketika Jelita telah berdiri di ambang pintu ruang kerja Kara.
"Kerjamu bagus Seno, Pergilah dan segeralah beristirahat.
Esok adalah hari terlelahmu".
Jelita menepuk pelan punggung Seno beberapa Kali, Sebelum kemudian masuk dan berbicara pribadi dengan Putranya.
"Dita telah kembali tiga hari yang lalu, Kara.
Bagaimana bila kau pergunakan Hana untuk bermain-main dengan Dita seperti Dita mempermainkan Holy dengan Putranya?".
"Tidak."
Jelita terkejut mendengar penolakan idenya dari putranya.
"Lantas?".
"Pertama-tama, aku harus menemukan keberadaan Holy. Bagaimanapun juga, holy harus dihukum karma dia telah ikut andil dalam tragedi ini.
Andai wanita itu terus terang padaku, aku pasti akan membantunya mengambil kembali putranya.
Sayangnya..... Ia tak cukup cerdas mengambil langkah.
Setelah holy, Barulah aku akan membuat Dita mati dalam kehidupannya, Karna mati secara harafiah akan terlalu enak untuknya.
Mengambil sebagian besar daya hidupnya untuk ku buat ia membayar lunas Hutang luka Hanum. Aku bersumpah!".
"Kau benar-benar putraku".
Jelita tersenyum bangga. Tubuhnya bangkit dan menuju jendela ruang kerja Putranya.
Malam semakin larut. Purnama nampak menggelap di langit lepas.
Seperti hati Kara yang telah beku di tempa perpisahan dengan Hanum.
__ADS_1