
"Aku tak mau kau jadikan pionmu. Aku tak mau kau jadikan alat untuk kepentinganmu. Aku juga tak mau kau memanfaatkan ku sedemikian rupa. Aku tak pernah membuat masalah denganmu. Aku tidak......."
Ucapan Yasmin terhenti ketika wajah Aksa hampir saja menempel dengan wajahnya.
Dan debar jantung di dadanya semakin bertalu kencang tanpa bisa di kendalikan. Kurang ajar. Sepertinya Yasmin perlu ke dokter spesialis jantung dan hati setelah ini.
"Tidak apa?
Katakan saja, hmmm??"
Bibir Yasmin terasa tremo ketika akan menjawab. Otaknya seperti tengah berhenti bekerja saat ini.
Sumpah serapah Yasmin gaungkan dalam hati, meski Aksa jelas tidak mendengarnya.
"Ku mohon, jangan menggangguku"
Lirih Yasmin dan tak berani menatap manik Aksa yang terlihat tajam menghujam.
"Akan aku lakukan untuk tak mengganggumu asal.......
Kau disiplin dalam menjalankan kesepakatan kita, Yasmin. Apapun yang kau butuhkan, katakan padaku. Apapun bentuk bantuan yang kau inginkan dariku, sebisaku untuk memenuhinya.
Aku tak lagi menemukan gadis yang cocok untuk menjadi pelindungku dari para gadis-gadis liar yang melempar tatapan penuh minat terhadapku.
Kau satu-satunya wanita yang bisa melakukannya.
Aku tak akan melewati batasan ku, percayalah......
Kau akan aman di bawah status kekasih bohongan denganku".
Ungkapan Aksa yang lirih namun panjang lebar itu, nyatanya mampu membuat sisi lain di hati Yasmin merasa kecewa. Kecewa pada apa tepatnya, Yasmin tak begitu mengerti.
Entah siapa yang akan Yasmin salahkan.
"Ma...maaf aku... aku mengerti se-sekarang".
"Bagus. Jangan berpikir bahwa aku akan mencium mu.
Buang jauh-jauh pikiran kotormu karena, aku tumbuh dalam pengasuhan Radhi dan Jelita.
__ADS_1
Anak keturunan keluarga Praja Bekti pantang melakukan tindak asusila sebelum mengikat wanita dengan pernikahan".
Seolah tau apa yang tengah Yasmin pikirkan, Aksa menjawab apa yang menjadi sumber ketakutan Yasmin.
Semudah itukah Yasmin untuk di baca segala emosinya? Yasmin semakin bingung dalam menghadapi Aksa.
Aksa Gavin Praja Bekti.
Entah mengapa seperti teka-teki yang sulit di tebak arah alurnya.
Yasmin mengangkat wajahnya untuk menatap Aksa. Sayangnya, Yasmin benar-benar terjebak dalam penjara kejam netra mata Aksa yang membuatnya lumpuh seketika. Bahkan meski hanya sekedar untuk beranjak dari jebakan mata Aksa yang bening dan menghanyutkan.
Dan malam ini, adalah malam di mana Yasmin mengakui pesona Aksa, benar-benar tak di ragukan lagi. Yasmin kalah. Kalah oleh jerat mematikan yang Aksa tebar pada hatinya yang lugu dan penuh kepolosan.
Sayangnya, tidak semudah itu Yasmin akan mengungkap apa yang ia rasakan terhadap sosok yang berada tepat di hadapan wajahnya ini.
...
...
Pagi sudah menyapa seantero jagad dunia kota Jakarta. Suara burung berkicau nampak semakin mempertajam nyanyiannya. Di tambah, sesekali suara Desaubangin yang membuat pori-pori kulit membesar dengan tiba-tiba.
Yasmin sudah bersiap dengan pakaian sekolahnya. Ada 2 kotak bekal dengan ukuran yang berbeda tersaji di depannya.
"Jangan lupa habiskan makananmu, Yasmin.
Dan......"
"Dan apa, ma?"
"Bila boleh meminta, tolong jangan terlalu sering bersinggungan dengan keluarga Praja Bekti"
Lirih Inora menyerupai suara bisikan angin.
Ada nada getir di dalamnya. Jelas Yasmin sebagai anak yang memiliki kepekaan yang tinggi, menangkap kegetiran yang di sembunyikan Inora.
"Apa dulu mama pernah punya masalah dengan keluarga bermarga Praja Bekti?"
Raut wajah Yasmin sungguh menunjukkan ketertarikan dengan apa yang baru saja di ucapkan Inora.
__ADS_1
"Ya. Tapi ya sudah lah. Semua sudah berlalu."
Senyum hangat terpancar dari wajah Inora.
Wanita ini, tak ingin mengingat masa lalunya. Bila sampai putrinya sering bersinggungan dengan Aksa, bukan tidak mungkin Inora pasti akan kembali bertemu Alex.
Tidak. Jelas Inora tak mungkin bisa bertemu Alex setelah banyak tahun-tahun ia lalui dengan upaya keras melupakan Alex. Bersama Dion, ayah Yasmin, Inora bisa kembali bangkit dan perlahan mengubur perasaannya terhadap Alex.
Lagi pula, Inora jelas sadar siapa Alex dan tak mungkin ia mengusik Aridha, bukan?
Bahkan keganasan Aridha bila marah, tak jauh berbeda dengan Azkara, ayah Aksa.
"Katakan, ma. Apa yang sebenarnya pernah terjadi?"
"Jangan mengorek apapun yang sudah terkubur dalam dan lama sekali, Yasmin, bila kau tak mau melihat mamamu ini kembali gila".
Inora bangkit dan menjauh dari putrinya. Wanita paruh baya itu lantas menuju halaman belakang untuk menyiangi beberapa tanaman sayur dan buah yang sengaja Dion tanam.
Sungguh, Yasmin berada dalam rasa penasaran tinggi saat ini.
Yasmin bangkit dan kemudian menuju ke sekolahannya. Ada banyak tanya yang menari indah dalam otaknya. Seolah ia di tuntut oleh rasa ingin tahunya untuk segera mencari tau.
~~
~~
"Sayang, jangan terlalu cepat berjalannya. Tunggu aku dan kita jalan bersama, oke?"
Jemari Yasmin yang sedari tadi bergerak bebas, kini berada dalam genggaman Aksa yang sengaja menebar rayuan manis. Membuat beberapa mahasiswi sekolah nya benar-benar merasakan patah hati massal seketika.
"Aksa......."
Lirih Yasmin pada Aksa, berharap pria itu mau sedikit saja berkompromi saat ini.
Tapi ya tentu saja Aksa tetap lada mode menyebalkan dan tak suka di atur seorang Yasmin.
"Sepulang sekolah nanti, tunggu aku di mobilku. Aku sudah bawakan dress couple dengan kemejaku untuk dipakai pada acara pesta Tante Luna dan om Seno, dua hari lagi".
Dan detik berikutnya, Yasmin hanya mematung di tempatnya usai Aksa mencium pipi Yasmin dengan gerakan spontan.
__ADS_1
Entahlah, Yasmin membeku seiring degup jantungnya yang menggelepar dalam debaran tak tau malu itu.
🍁🍁🍁