Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Sebersit Curiga


__ADS_3

"Kau yakin tak akan ikut denganku malam ini?".


Kara kembali bertanya entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Aku merasa kurang sehat mas. Berangkatlah dan hati-hati di jalan."


Ungkap Hanum lembut.


Bukan tanpa alasan, Hanum hanya tak ingin bila nanti terlihat lemah dan mempermalukan suaminya di depan kolega-kolega bisnisnya.


Ia hanya perlu istirahat untuk beberapa waktu ke depan.


Kara menghampiri istrinya dan mengecup pelan keningnya penuh rasa sayang, sebelum kemudian ia berlalu pergi melangkahkan kakinya mantap.


Wanita ini, adalah wanita yang beberapa waktu lalu Kara perlakukan dingin tanpa menghiraukan perasaannya, hingga Kara sadar bahwa Hanum adalah wanita lembut penuh keistimewaan.


Sejak musibah yang terjadi beberapa waktu lalu, Kara semakin meningkatkan kewaspadaannya dan keposesifan nya terhadap sang istri.


Entah mengapa, Malam ini kara enggan berpisah dengan Hanum.


Perasaannya mendadak tak nyaman.


Gundah gulana yang entah karna apa.


Sepanjang Jalan, ada banyak rencana yang Kara susun untuk masa depannya bersama Hanum. Bahkan Kara berencana untuk membeli rumah dan tinggal berdua saja dengan Hanum.


Menghiasai rumah mereka dengan tangis dan tawa ceria buah hati mereka kelak, menaungi keluarga kecilnya penuh dengan kehangatan dan limpahan kasih sayang.


Seperti Radhi......


Pria itu adalah sosok yang Kara jadikan panutan. Sosok tegas dan penuh wibawa, Sosok yang mampu membuat Jelita, sang mama menangis histeris saat Radhi terluka.


Diam-diam, Kara tersenyum seorang diri ketika membayangkannya.


Mungkinkah rumah tangganya bersama Hanum akan abadi hingga maut yang memisahkan?


Setibanya di sebuah restauran ternama di ibukota, Kara telah di sambut oleh beberapa kolega bisnisnya.


Semua berjenis pria. Hanya satu wanita saja yang datang sebagai kolega bisnisnya.


Sesaat mata Kara terkunci oleh kedalaman netra mata Wanita itu.


Warna gaun biru laut nya, berhasil menyeret Kara ke arah sebuah pesona.


Sebagai pria yang banyak bertemu dan bermain wanita, Kara menyadari bahwa wanita di hadapannya ini sangatlah mempesona. Lekuk tubuhnya demikian molek dan mudah memancing gairah pria normal.


Kara juga demikian memukau dengan setelan jas hitamnya. Tak dapat di pungkiri oleh wanita itu, bahwa pewaris tahta kerajaan bisnis Praja Bekti memang lah pria rupawan dengan segudang pesona, dan mungkin....... akan sulit untuk di taklukkan.


"Oh tuan muda Praja Bekti, senang bertemu denganmu".


Seorang pria berusia sekitar pertengahan empat puluhan, menyapa penuh takzim.


Di akui atau tidak, Meski usia Kara masih muda, namun jiwa kepemimpinannya sangat kuat.


Seolah-olah, Kara memiliki kekuatan memerintah siapapun hanya dengan jentikan jari dan kibasan tangan.Tak peduli orang itu berusia jauh di atas Kara sekalipun.


"Terima kasih tuan Ditya....


Kurasa kau juga semakin menawan di usiamu yang semakin mapan.


Tidak tertarikkah untuk memiliki istri lebih dari satu?"


Kara sengaja menggoda Pria yang ia sebut Ditya ini.


"Oh tidak, istriku lebih cantik daripada wanita manapun."


"Selain lihai dalam bisnis, kau rupanya cukup setia juga".

__ADS_1


Kara terkekeh dan di sambut kekehan pelan juga dari Ditya.


Setelahnya, Kara juga di sapa oleh beberapa pria yang juga termasuk kliennya.


Terakhir, seorang wanita muda berusia sekitar Awal tiga puluhan.


Wanita dengan manik mata hitam legam. Sinar matanya memiliki kedalaman tanpa dasar.


Seolah-olah warna hitamnya, adalah lambang dari kelamnya jiwa sang pemiliknya.


Si wanita tersenyum kecil.


Memandang wajah dan menatap netra mata Kara membuatnya mengingat sosok Radhi yang memang terkenal tampan.


"Selamat malam, tuan Kara.....


Senang bertemu denganmu. Perkenalkan, aku Holy. Utusan dari CTR grup".


"Malam juga nona Holy. Senang bertemu denganmu".


Kara membalasnya dengan suara datar. Nadanya sarat akan keangkuhan dan dingin. Raut wajah dan sinar matanya sulit untuk di deteksi.


Kara memanglah sengaja memasang tinggi-tinggi tembok pembatas. Ia tak mau wanita manapun melangkahi batasan yang ia pasang hingga sedemikian rupa.


Dengan anggun, Holy melangkah mendekati kursi yang di tempati Kara. Dengan begitu, Holy merasa dirinya bisa dengan mudah memperhatikan Kara dan meraba tentang bagaimana karakter Kara lebih jauh lagi.


Sedang Kara sendiri, Tak menampik bahwa wanita di hadapannya ini memanglah wanita yang memiliki pesona kuat.


Namun Kara tetaplah Kara yang cerdik. Ia tak ingin terperdaya hanya dengan penampilan fisik.


Sebersit rasa curiga muncul di kepala Kara....


Kewaspadaannya meningkat beberapa kali lipat.


Gerak gerik wanita di sampingnya ini memanglah tak mencurigakan, namun instingnya sangat kuat.


Dalam diam, Kara akan menyelidiki tentang wanita yang bernama Holy itu.


Seorang wanita berusia sekitar awal dua puluhan tengah menggenggam ponselnya dengan ragu.


Senyum tak jua hilang dari bibirnya.


Rasa suka,


Rasa bahagia,


Rasa gembira,


Tengah menyelinap ke dalam Palung hatinya.


Menggigit bibir bawahnya, Ia menggumamkan nama pria yang usia nya terpaut jauh berada di atas usianya. Senyum lembut nan menawan kembali terbit dari wajahnya.


"Mas, Seno".


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikirannya yang mulai liar.


Membuat surai-surai rambutnya yang bergelombang indah juga ikut bergoyang senada dengan gelengan kepalanya.


Kemudian menghela nafas panjang untuk meredam gejolak hatinya yang menghentak penuh rasa. Maka, jemarinya segera mendial nomor sang pria yang belakangan mengisi kekosongan hatinya.


Nada tersambung lama, tanpa jawaban.


Hingga terputus dengan sendirinya...... Luna kecewa.


Ah, tidak apa..... mungkin masih sibuk.


Begitu pikir Luna.

__ADS_1


Hampir saja ponsel Luna mendarat ke atas nakas, Seringnya terdengar nyaring. Membuat pemiliknya berjengit kaget.


"Mas Seno?".


Matanya membola dengan sempurna. Degub jantungnya mendadak kencang tak beraturan.


Maka, dengan segera, Luna menerima sambungan telepon.


"Halo".


Suara bass di seberang sana membuat Luna terpaku. Sesaat, Luna seperti terseret.


"Halo".


Kembali terdengar, Luna segera berbicara dengan gugup.


"Ii-iiya mas Seno".


"Nona Luna, ada apa?"


"Emm tidak ada.... itu... emm.... "


"Katakan saja, nona. Ada apa? Apakah ada yang ingin di sampaikan?"


"Aku.... emm apa benar mas Seno akan kemari? Maksudku mengunjungiku ke desa?".


"Ya, nona benar. Tapi.... ini atas perintah nyonya besar untuk mengantar sesuatu pada nona".


Luna merasa kecewa.


Ah, andai Seno datang atas kemauannya sendiri. Dengan alasan rindu, mungkin?


Entahlah.....


"Oh, begitu ya?".


"Ya. Apakah ada hal lain yang hendak nona ungkapkan?"


"Aku...."


"Ya...?"


"Tidak kah mas Seno.... Oh kurasa tidak.


tidak ada yang ingin aku katakan".


Hening. Di seberang sana, Seno tengah mati-matian mengendalikan hatinya yang menghentak dahsyat.


Ada rindu dan gelisah yang menyapa ketika alunan suara lembut Luna menyelinap masuk ke dalam gendang telinganya.


"Aku merindukanmu, nona".


Lirihnya kemudian. Membuat Luna membeku seketika. Euforia tengah menyusupi hati Luna saat ini.


"Katakan, katakan sekali lagi, mas!".


Luna gemetar hebat.


"Apa yang perlu aku katakan?".


"Ulangi sekali lagi".


Seno terkekeh.


"Untuk apa nona? Toh ini hanya perasaan sepihak. Maaf bila lancang".


"Aku juga merindukanmu, mas".

__ADS_1


Luna berkata dengan suara gemetar. Seno tak kuasa menahan gejolak hatinya yang membuncah penuh cinta.


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2