Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Menyuarakan isi hati


__ADS_3

Acara makan pagi menjelang siang kali ini lebih hening. Antara Ariana dan suaminya, Kara dan Hanum, Arlan dan Alma, serta Radhi dan nyonya besar Praja Bekti itu, larut dalam kebisuan.


Ada rasa segan dan entah lah.....


mereka terlampau kompak tadi malam melakukan olah raga berat hingga melewatkan waktu sarapan pagi sampai se-siang ini.


Aluna sedari tadi makan dalam diam, berbeda dengan Aridha yang masih menunjukkan kejengkelannya terhadap semua yang ada di sana, kecuali Aluna.


"Mas..... Kau tadi mengatakan......


Akan meeting dengan klien jam 11 siang. Apakah kantor papa sekarang membuat prosedur baru?


Mempekerjakan Presdir nya di akhir pekan di saat seluruh karyawan dan seluruh staf Divisi diliburkan?".


Aridha bertanya dengan santai, mengunyah makanan seraya melirik kakaknya yang juga santai menanggapinya.


"Aku hanya salah bicara tadi".


Ada rasa tak berdosa yang tampil di wajah Kara, membuat Aridha sebal setengah mati.


"Huh. persetan dengan salah bicara.


Oh ya..... ku dengar kau mengangkat seorang temanmu menggantikan kak Alma sebagai sekertarismu. Apakah itu kak Seno?".


Aluna mendengarkan dengan seksama.


Indera pendengarannya menajam ketika nama Seno di sebut oleh kakaknya.


"Memangnya apa urusannya denganmu?


Ku pikir akan lebih bagus bila kau selesaikan pendidikanmu hingga gelar S2 bisa kau miliki.


Belum waktunya kau mengurusi kantor apalagi mengurusku. Mama tak pernah mengajarkan hal demikian padamu, bukan?".


Jawaban Kara demikian tandas mengenai sisi sensitif Aridha.


"Bukan mengurus pekerjaanmu, kak. Apalagi perusahaan yang belum pernah ingin aku pelajari.


Bagaimana bila aku meminta papa untuk melamar kak Seno untukku?


Ku rasa akan seimbang bila aku juga menikah.


Sepertimu dan kak Arlan......".


Semua terhenyak, terkejut saat mendengar permintaan konyol Aridha.


Aluna......


Gadis itu sudah sejak lama demikian memiliki perhatian pada seorang Seno, kawan lama kakaknya semenjak Kara sekolah.


Saat mendengar perkataan Aridha yang demikian mematahkan hati Aluna, membuat Aluna di dera keputus asa'an.


Perasaan Aluna.......


Aluna merasa ia kalah sebelum berperang.


Layu sebelum berkembang.


Dan tumbang sebelum Petir menghadang.


Radhi dan Azkara, memusatkan pandangan tajamnya pada sosok Aluna yang menunduk menahan butiran kristal cair yang siap luruh kapan saja.


Mata Aluna memerah.


Ada yang tak beres.


Itulah spekulasi yang kara dan Radhi ambil.


Mungkinkah Aluna menaruh hati pada Seno?

__ADS_1


"Apa yang mendasari putri papa ingin segera menikah".


Radhi bersuara.


"Apa itu penting?".


Aridha melempar tanya balik.


"Tentu saja, Ridha. Karna pernikahan bukan permainan."


Jawaban Radhi tandas membuat Aridha terpojokkan.


Namun, Aridha tetaplah Aridha yang selalu pintar menjawab dan terkenal sebagai putri Radhi yang paling licik, selain Kara tentu saja.


"Lanjutkan makan. Kita akan membahasnya nanti".


Radhi menjawab tegas.


Bila terus meladeni Aridha, perdebatan saat makan tak akan pernah usai.


Seperti sungai yang tak kunjung bertemu dengan muaranya.


Seperti lautan yang tak kunjung bertemu dasarnya.


Seperti gunung yang selalu memiliki banyak persimpangan jalan, seperti itulah bila berdebat dengan Aridha. Tak akan pernah usai.


Berbagai tanya dan sesak mendominasi hati Aluna. Gadis polos yang demikian terdidik tindak tanduknya.


Hingga makan usai, Aluna mengungkapkan keinginan hatinya untuk segera berangkat pulang ke desa hari ini juga.


"Pa".


Aluna mendongak, menatap wajah ayahnya yang juga menatapnya.


Berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan menampilkan senyum manisnya.


"Ya, sayang. Ada apa?".


"Bisakah papa dan mama mengantar Aluna pulang ke rumah Opa dan Oma Tika di desa?


Ada beberapa tugas kuliah yang harus Luna selesaikan segera."


Kara menatap lekat wajah cantik adiknya, Luna.


Permintaan Aluna kali ini, menguatkan asumsi Kara tentang perasaan spesial adiknya terhadap kawan lamanya, Seno.


"Bila papa tak bisa mengantarmu, biar kan mas yang mengantarmu, Aluna.


Lagi pula, kakak akan membawa kakakmu, Hanum untuk ke sana.


Tidak menginap, malam nanti kakak akan pulang.".


Kara tak menunggu persetujuan dari istrinya.


Yang ia tau, Hanum sudah pasti setuju dengan usulannya kali ini.


"Baiklah, Luna rasa akan menyenangkan bila mas dan kak Hanum juga ikut mengantar".


Secercah senyum kembali terbit dari bibir Luna, meski jelas di paksakan.


*********


Siang ini, Kara tengah duduk berdua dengan istrinya di halaman belakang.


Di sana, terdapat kolam kecil dengan ikan-ikan yang berenang dengan gesit.


Bermacam bunga indah melambai-lambai tertiup angin, semakin menghidupkan suasana dan menambah keromantisan bagi Hanum.


"Num".

__ADS_1


"Ya, mas...."


"Aku....berencana mengajakmu untuk konsultasi ke dokter. Mari kita membuat program untuk kehamilanmu. Kau setuju?"


Hanum menatap suaminya. Senyumnya lebar Hatinya terlampau berbunga-bunga ketika suaminya demikian ingin garis keturunannya terlahir dari rahim dirinya.


Suka cita Hanum rasakan.


"Baiklah, mas. Kurasa lebih cepat lebih baik".


Maka, dengan perlahan, kara menarik istrinya yang duduk di sampingnya untuk mendekat.


Hanum menurut tanpa perlawanan.


Dulu.....


Kara sangat menepis keberadaan Hanum.


Namun kini......


Entah apa yang mendasarinya, Kara semakin candu ketika berdekatan dengan Hanum.


"Hanum, bila nanti aku berhasil menggulingkan Wira Atmadja dan hak mu dan ibu serta kakakmu telah kau genggam, Apakah kau masih akan berdiri tegak untuk tetap bertahan di sisiku?".


Kara menyuarakan isi hatinya.


"Tentu saja, mas. Aku sangat mencintaimu.


Aku tak butuh harta apapun lagi bila telah delta denganmu. Bukankah kau sudah kaya meski tanpa aku mendapatkan hak warisku?".


Hanum tersenyum menggoda. Sebelah matanya mengerling nakal ke arah Kara.


"Diamlah, num. Kurasa berhentilah menggodaku.Apa kau tak juga lelah setelah hampir semalaman melayaniku?".


Kara hanya melirik Istrinya. Ia tak mau hasratnya bangkit kembali bila menatap wajah lembut istrinya.


Hanum tertawa renyah menanggapi kalimat panjang suaminya.


"Oh ya, mas. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Bila boleh aku berpendapat, kurasa......


Gihana, putri Dita memiliki kemiripan garis wajah dengan Daniel. Bukan Alex.


Apa mas merasakan hal itu saat menatap manik mata Hana?"


Hanum berkata dengan pendar mata serius. Ia sedikit menyondongkan tubuhnya ke arah suaminya.


"Ya. Instingku berkata demikian. Aku telah mengambil rambut Daniel sebagai bahan tes DNA dengan Hana. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk hasilnya".


Kara mengangguk-angguk paham.


Begitu juga Hanum yang rupanya sependapat dengan suaminya.


"Lantas, apa rencanamu?".


Hanum bertanya dengan penasaran.


"Aku akan dengan senang hati menyebar luaskan video tidak senonoh Dita, Daniel dan Alex sembilan tahun lalu.


Nantinya, wajah Dita dalam video tersebut akan di manipulasi hingga sedemikian rupa hingga tak seorangpun mengenalinya".


"Untuk apa?".


Hanum mengernyit heran.


"Untuk membuat kericuhan dalam keluarga Wira Atmadja. Bila video tersebut tersebar hingga kepada para pemegang saham perusahaan Atmadja, Maka sudah bisa di pastikan, sahamnya akan anjlok drastis.


Saat itulah, aku bisa dengan mudah memanipulasi data untuk mengalihkan seluruh aset dan kepemilikan, serta perusahaan itu atas nama kakakmu dan dirimu".


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2