Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Kedatangan Kara


__ADS_3

"Aksa, aku... Tidak, hentikan."


"Kau istriku, Yasmin. Malam ini kau milikku."


Dan malam ini, Aksa menjadi lelaki dewasa yang sesungguhnya.


**


Pagi menyapa, Kara dan Hanum tiba sekitar dua jam lalu di kediaman Praja Bekti, tepat saat anak cucu Radhi semua masih bergelung nyaman dalam selimut meneruskan ukiran mimpi.


Hanya Radhi, Seno dan juga Jelita yang menyambut Radhi. Semalam ketika Jelita mengabari Luna bahwa Kara akan segera tiba, Luna sudah merengek pada Seno agar berangkat ke kota saat itu juga.


Langkah tegap Kara demikian berwibawa dan penuh kharisma. Seorang istri yang selama ini ia cintai, mengekor di belakang dengan wajahnya yang tetap cantik di usianya yang sekitar awal empat puluhan.


Tatapan tajam dan juga sorot tegas Kara, masih menjadi idola para wanita hingga saat ini. Terbukti Hanum yang sering kali mengeluh akibat banyak rekan bisnis Kara yang kebanyakan wanita, mengincar Kara.


"Jam berapa ini, ma? Sarapan pagi sudah hampir di mulai, tiga puluh menit lagi. Tapi Aksa dan istrinya belum juga ada tanda-tanda keluar kamar. Apa mereka kesiangan? Atau memang mama lupa memberi tahunya?" Tanya Kara pada Jelita yang tengah sibuk memasang anting koleksinya.


Hanum ikut duduk di samping Jelita. Wanita itu sejujurnya sangat lelah akibat perjalanan jauh, tapi pagi ini ia tak sabar untuk melihat menantu dadakannya itu, sekali pun harus memaksakan tubuhnya.


"Semalam mama sudah memberi tahunya. Tapi agaknya anak itu masih bercanda gurau dengan istrinya di dalam kamar." Jelita menjawab sambil menatap ke arah tangga yang masih sepi.

__ADS_1


"Bercanda? Bercanda apanya? Mereka kerap kali bertengkar seperti anak kecil." Ungkap Radhi sambil meneguk secangkir teh melati buatan istrinya.


"Apa, apa Hanum saja yang membangunkan Aksa, ma? Hanum sudah tidak sabar ingin bertemu anak nakal itu." Ungkap Hanum menimpali. Tentu saja Radhi tersenyum dan mengangguk pada Jelita sebagai tanda memberi izin.


"Tentu saja boleh, sayang. Bangunkan saja. Ini adalah kejutan untuk mereka, kejutan tapi mereka sudah tahu semalam."


"Bagaimana jika aku ikut?" Kara yang bermulut pedas itu......


Lihat saja, sebentar lagi pasti Aksa akan disemprot habis-habisan oleh Ayahnya.


"Ya sudah, bangunkan saja Aksa. Jika memang belum bangun, jewer telinganya, atau siram pakai ember." Radhi tersenyum hangat. Membayangkan Aksa akan bersungut-sungut tak suka jika acara tidurnya diganggu.


"Ayo mas, kita ke atas juga. Aku ingin tahu bagaimana reaksi anak itu nanti." Ajak Jelita pada Radhi.


"Baiklah, ayo."


Radhi dan Jelita menyusul Kara ke lantai atas. Siapa sangka, Alex dan Aridha keluar dari kamarnya, yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Aksa.


"Ayo, Ridha. Kita beri kejutan Aksa. Lihat, kakakmu baru datang." Jelita menunjuk Hanum yang merentangkan tangannya pada Aridha. Tentu saja Aridha berhambur ke dalam pelukan Hanum.


"Kakak, aku merindukanmu." Keduanya berpelukan, saling melepas rindu, sebelum kemudian Aridha juga memeluk Kara. "Bukalah pintunya, kak. Aku bisa tebak, Aksa pasti akan gembira melihat kak Hanum ada disini dengan kakak Kara."

__ADS_1


Hanum menatap Kara. Tangannya mendadak mengeluarkan keringat dingin akibat gugup. Tak seperti biasanya, perasaan Hanum mendadak tak enak tanpa sebab. Padahal, harusnya Hanum bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan putra dan menantunya.


"Sayang, Jantungku..... mendadak berdegup lebih kencang. Aku gugup sekali. Bagaimana ini?" Tanya Hanum pada Kara.


"Tidak apa-apa. Buka saja. Atau... aku yang membukanya?"


"Tidak, tidak. Biar aku saja."


Klek.....


Alangkah terkejutnya mereka semua, ketika mendapati Aksa dan Yasmin sedang..........


**


Di lanjut besok. Istia mau tidur dulu, ngantuk 😂


Coba tebak, Aksa lagi ngapain sih?


jangan lupa dukungannya, ya. Banyakin komen, like, dan kasih ulasan baik tentang cerita ini.


Terima kasih banyak untuk semua.....

__ADS_1


__ADS_2