
Hanum perlahan mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang di tangkap retina matanya.
Di sofa tak jauh dari ranjang, Kara tengah memfokuskan pandangan pada laptopnya.
Penampilan casual nya demikian membuatnya lebih menawan berkali-kali.
Jemari kokohnya menari indah di atas keyboard laptop.
Sayangnya, Hanum merasa sakit saat semalam kara menumpahkan hasratnya dengan cara yang bahkan tidak pernah Hanum bayangkan.
Hanum kelelahan setengah mati akibat pergulatan panasnya semalam. Kara benar-benar telah memporak porandakan tubuhnya. Tulangnya terasa di lolosi satu persatu.
Tanpa terasa, ia merebakkan air mata.
Jadi?
Perlakuan kara selama ini, bukanlah tulus dari hatinya, melainkan demi tujuan tertentu dan mengambil keuntungan darinya.
Rasa cinta yang di pendamnya selama bertahun-tahun di manfaat kan Kara hingga sedemikian rupa.
Hanum terlanjur terjebak, Dengan ikatan pernikahan bersama seorang tirani seperti Kara.
Dalam hati, Hanum ingin berteriak. Memaki kebodohannya karna telah mempercayai tutur manis kara yang mengiminginya surga dalam pernikahan, di depan keluarganya.
Nyatanya......
Hanum di perlakukan bukan selayaknya istri, melainkan wanita lacur yang memuaskan hasrat liar seorang Azkara yang tak mudah padam.
"Kau telah bangun?".
Kara menghentikan aktifitasnya, fokusnya beralih pada sang istri yang terisak dalam ketidak berdayaan.
Suara bariton nya mengejutkan Hanum.
"Cepat bangun dan hentikan tangisanmu.
Bagi pemula memang terasa sakit. Tetapi nanti akan sembuh sendiri dan ku jamin akan membuatmu ketagihan.
Cepat bersihkan dirimu, karna mama telah mengomel semenjak tadi karna aku membuatmu terlalu kelelahan".
Kara tersenyum kecil. ia mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang, meraih wajah Hanum yang berlinang air mata, membelai lembut pelipis hingga bibir Hanum yang sedikit membengkak akibat ciuman kasarnya semalam.
Kara ingat, Teriakan dan rintihan Hanum, seakan menjadi irama merdu yang merasuk ke dalam telinga Kara.
"Mengapa kau tega, mas?".
Bibir Hanum bergetar. Nya semakin jelas terdengar.
"Tega? Aku mungkin tak akan sekasar itu padamu andai kau tak menolakku.
Sudahlah, Aku tak ingin berdebat dengan mu di hari ini. Bangkitlah dan bersihkan dirimu.
Hari ini, aku akan menemui pengacara keluarga mendiang ayahmu. Mengancamnya dan menyudutkan posisinya untuk mendapat bukti inti kecurangan mendiang ibu tiri ayahmu.
Dengar........
Aku tak akan setengah-setengah dalam mengambil tindakan.
Jadi, persiapkan dirimu.
Seno hari ini berangkat ke sigam untuk menjemput kakak dan ibumu.
Jadi, aku tak mau kau kacau balau seperti ini."
__ADS_1
Bibir Kara perlahan mendekat, mengecup pelan puncak kepala istrinya.
Dalam hati, kara mengumpat.
Sisi kelelakiannya mudah bangkit hanya dengan kecupan ringan.
Tidak, kara harus meredamnya hingga malam nanti. Atau Jelita akan memakinya sepanjang hari karna tak tau waktu dalam menggauli istrinya.
"Secepat itukah?".
Hanum mendongak, menatap netra mata Kara yang perlahan sayu.
"Ya".
Kara bangkit dan kembali duduk di sofa.
Melanjutkan diri menyelesaikan pekerjaannya untuk mengalihkan rasa tak nyaman yang tiba-tiba menyerangnya.
Perlahan, Hanum bangkit dan menuju kamar mandi. Jalannya sedikit tertatih.
Kara yang melirik hanya tersenyum tipis sebagai deklarasi pada dunia, bahwa dirinya, mendapatkan kegadisan Hanum.
Selama ini, sepanjang sejarah ia menyentuh wanita, hanya Hanum yang masih perawan.
Mengingatnya, membuat Kara merasakan euforia yang maha dahsyat.
**********
Di waktu yang sama, Di kediaman Adi Prama tengah geger.
Dian, calon pengantin Arlan di kabarkan telah menghilang. Bahkan, keluarganya pun tak tau kemana Dian
Bagaimana tidak geger?
Jelita yang mendengar kabar itu segera bergegas pergi ke kediaman Adi Prama bersama Radhi.
Di kediaman Adi Prama, jasa wedding telah mendekorasi sebagian kecil ruangan untuk acara pernikahan Arlan.
Jelita memang membebaskan Arlan dan Ariana akan menggelar pernikahan dimana. Lagi pula, Jelita tak ingin menyimpan dendam pada adik dan adik iparnya.
"Apa yang terjadi, Arlan?"
Radhi dan Jelita muncul di ambang pintu, berjalan anggun menuju Arlan yang sudah kacau balau penampilannya, wajahnya kusut massai.
Sinar matanya menggelap.
"Dian pergi meninggalkanku tepat di hari menjelang pernikahan ini, ma.
Aku tak tau kesalahan apa yang ku buat.
Dia pergi begitu saja, padahal terakhir kali kami bertemu, semuanya baik-baik saja".
Arlan nampak frustasi, ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Selama hidup, barulah sekarang ia mengalami keputus asa'an.
"Apa sudah di cari?".
Radhi bertanya datar. Tak ada riak emosi apapun yang tersirat di matanya.
"Sudah. Bahkan aku telah mengerahkan seluruh koneksiku untuk mencarinya".
Di saat bersamaan, Kara datang.
__ADS_1
Dita yang mengetahui hal itu memilih beranjak pergi. Ia tak mau menjadi bahan olok-olok Kara kali ini.
"Kakak. Kau seorang aparatur negara. Bahkan jabatanmu cukup tinggi di usia muda. Mengapa dalam urusan wanita, Kau payah sekali?".
Kara tersenyum mengejek.
"Sialan kau!!".
Arlan menyikut perut adiknya yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Wanita yang baik tak akan meninggalkan mempelai prianya saat menjelang hari pernikahannya. Gunakan logika mu. Aku yakin kakakku ini tak cukup bodoh dalam berpikir.".
Semua tercengang. Kara tersenyum penuh arti. pendar matanya menunjukkan banyak rencana.
Entah apa itu. Yang Jelas, Ini merupakan bagian dari rencananya.
Ia ingin membuka mata semua orang, menunjukkan....... Siapa sebenarnya sosok Dian.
"Ya. Wanita itu tak cukup baik untuk mendampingi hidupku.".
Kara menyentuh tepat di titik sensitif Arlan. Sinar matanya semakin menggelap.
"Tersenyumlah. jangan sedih di hari menjelang pernikahanmu. Aura tampanmu akan hilang bila kau terus seperti ini."
"Bodoh. Kau kira aku tak kacau. Kau pikir aku akan menikahi diriku sendiri? Pernikahan akan batal Karan Dian tak ada.".
ucap Arlan lirih. Ia menunduk. merasa tak berdaya.
"Pernikahan batal? Nama baik Adi Prama yang jadi taruhannya, nak. Kita harus mencari Dian secepat mungkin. Nama Adi Prama akan tercoreng. Undangan bahkan telah sampai pada tangan seluruh kolega papa mu".
Dewi angkat suara.
Segala sesuatu telah Dewi persiapkan matang. Bila pernikahan batal, bukankah Chandra akan menanggung malu?
"Baiklah. Bagaimana bila kau menikahi wanita lain saja? Itu akan membuat lebih baik, bukan? Demi menjaga nama baik keluarga om Chandra".
"Bagaimana mungkin?
Mana ada wanita yang mau menikah dengan ku? Jaman sekarang tak mungkin ada gadis yang bersedia menjadi pengantin pengganti, Kara? Kau tau, pernikahan tanpa cinta itu tidak lah benar. Dan aku tak mau mempermainkan ikatan suci pernikahan.".
Arlan berkata dengan nada berapi-api. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya ini.
"Bagaimana bila ku katakan ada kandidat yang cukup bagus untuk kau jadikan istri?
Dia wanita yang manis, meski agak cerewet.
Perlahan, ku pastikan ia akan jatuh pada pesonamu, dan berlutut di kakimu untuk memohon cinta padamu.".
"Siapa?". Chandra yang sedari tadi diam, tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
Kara mengambil ponsel di saku celananya.
Jemarinya dengan lihai mengetik ponselnya.
Sesaat, semua membeku saat Kara berbicara dengan seseorang di ponselnya.
"Halo, Alma......
Datanglah ke kediaman om Chandra sekarang Juga.
Datanglah dengan cepat sebelum ku penggal kepalamu saat ini juga".
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1