
"Marcel? Kau, kau . . . kau baik-baik saja?" Aridha dan Alex sama syoknya. "Mengapa kau ada disini, sayang? Bukankah tadi Kau . . . ." Alex merasa darahnya seolah mengalir deras. Entah mengapa, melihat Marcel baik-baik saja, membuat Alex lega luar biasa.
Marcel tersenyum simpul, remaja itu kini bisa melihat setulus apa ayah biologis dan istrinya itu. Kasih sayang mereka benar-benar luar biasa.
"Aku sengaja membuat skenario, seolah-olah aku sedang dalam bahaya. Terima kasih, sudah berusaha datang dan melindungi aku. Maaf, tadi aku hanya sekedar bermain-main untuk mengetahui sebesar apa rasa sayang kalian terhadapku." Ungkap Marcel penuh sesal.
Aridha membuka matanya lebar-lebar. Apa kata Marcel tadi? Bermain-main?
"Kau mempermainkan kami sebagai orang tua?" Tanya Aridha dengan mata melotot. Entah mengapa, Ridha jengkel kali ini.
"Aku hampir mati jantungan karena mengkhawatirkan dirimu, dan kau dengan tega membohongi kami? Astaga, Marcel. Aku bukan ibu yang jahat meski kau bukan darah dagingku sendiri." Aridha menghampiri Marcel dan menjewer pelan telinga pemuda itu.
"Lain kali jangan kau ulangi, Marcel. Aku tak suka kau membuatku nyaris mati karena ide konyolmu ini." Ungkap Aridha.
__ADS_1
Tentu saja Marcel mendesis kesakitan dan mengusap telinganya yang terasa panas.
"Maaf, ma. Maaf karena membuat kalian khawatir." Ungkap Marcel sambil tersenyum manis.
"Lain waktu, kau harus membayar semua kekonyolanmu hari ini. Dengar, aku tak mau tahu, kau harus mengikuti perintahku. Hanya satu perintah." Ucap Aridha.
"Sudahlah, Yang terpenting sekarang Marcel sudah baik-baik saja. Tak ada yang perlu di khawatirkan." Alex menengahi.
"Marcel, mama dan papa pamit pulang dulu. Kau juga jangan pulang terlalu larut. Angin malam tak baik untuk kesehatan."
Enam teman Marcel yang juga turut memainkan perannya tadi, menghampiri Marcel dan memeluk bahu lelaki itu.
"Harusnya kau beruntung, Marcel. Kau terlahir memang tanpa ayah, tapi sekarang tuhan telah menghujanimu dengan berlimpah kasih sayang. Aku harap kau bisa menghargai mereka. Tidak banyak orang yang mau menerima kita dalam sebuah lingkungan."
__ADS_1
Seorang teman Marcel yang berada di sebelah kanan Marcel, menepuk bahu Marcel.
"Terima kasih banyak, untuk semu yang sudah membantuku misiku kali ini. Aku sudah tahu sekarang, dan aku akan memberi kesempatan pada papa, agar papa memperbaiki diri. Ibuku sakit dan belum juga pulih sepenuhnya. Mungkin dengan papaku yang berubah, akan merubah jalan hidupku yang selalu disembunyikan oleh ibuku."
Marcel menatap kosong tembok di depannya. Kilat matanya penuh makna kerinduan. Hanya saja, Marcel tak bisa memeluk Alex selayaknya anak yang memeluk ayahnya sendiri.
"Semua pasti ada sebab dan akibat. Lalu, bila boleh tahu, Jalan apa yang ingin kau tempuh setelah ini? Apakah kau akan memaafkan papamu dan memberinya kesempatan untuk memulai hubungan baik denganmu?"
"Entah, sepertinya itu ide bagus. Hanya saja, aku masih perlu waktu." Tegas Marcel kemudian. "Ya sudah, mari kita pulang. Terima kasih atas bantuannya hari ini. Sepertinya, aku perlu menjenguk ibuku dulu."
"Baiklah, sampaikan salam sayangku pada Tante Inora."
Marcel mengangguk dan berlalu pergi dari sana. Ada banyak hal yang ingin Marcel katakan pada Alex, hanya saja, itu tak sesederhana yang orang pikirkan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Marcel berdendang. Senyum tak lepas dari bibirnya. Ia sudah mulai percaya, bahwa ayahnya adalah orang baik. Memang benar, takdir lah yang tak membiarkan Alex dan Inora bersama-sama.
**