Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Awal kemelut dua hati


__ADS_3

Kara menatap tajam adiknya.


Ada banyak tanya yang ia simpan jelas dalam memorinya.


Usai makan malam, Luna yang tak tau apapun bertanya-tanya pada semua orang, tentang apa yang terjadi lada saudarinya itu.


Tak banyak yang Radhi katakan.


Mungkin hanya sedang datang bulan hingga membuat mood Aridha memburuk.


Sebuah kebohongan kecil, namun mampu membuat rasa bersalah yang demikian besar di hati Radhi selaku orang tua.


Katakanlah......


Radhi tak adil. Tapi tidak.


Semua yang Radhi lakukan, adalah mengupayakan yang terbaik pada keluarga, terutama anak-anak yang menjadi prioritas utamanya.


Saat ini, ia tengah menyusun siasat untuk meluruskan apa yang bengkok dalam keluarga, tanpa menyakiti hati siapapun, dan tanpa menyalahkan siapapun.


Sebisa mungkin, sebagai ayah, ia menjaga hati anak-anak agar tak terluka nantinya.


Dalam ruang kerja Kara, ia dan Aridha duduk berseberangan di sofa, saling menghadap dan saling menatap tajam.


"Apa yang kau lakukan itu bukanlah ajaran dasar dalam keluarga Praja Bekti, Ridha. Bila kau telah kenyang dan selera makan mu hilang, harusnya kau tak meninggalkan meja makan. Tunggulah dulu barang sebentar.


Apa lagi di meja makan ada tamu yang har......."


Dengan cepat, Aridha mulai menyela kalimat panjang kakaknya.


Cukup sudah. Aridha tak tahan lagi dengan penghakiman keluarganya terhadap Alex, sementara seni dan Aluna harus menempuh jalan mulus untuk kisah romansa nya.


"Harus di hormati? Begitukah maksudmu, kak?


Oh, aku lupa. Seno orang yang istimewa di depan kalian. Aku lupa."


Aridha menatap santai ke arah Kara yang menyilang kan kedua tangannya, kaki kanannya ia topangolkan ke atas lutut kiri.


Sungguh, sangat menampakkan aura dingin dari wajahnya yang nampak kaku.


Radhi......


Pria paruh baya itu memilih mengamati saja apa yang kedua anaknya ini perdebatkan.


"Jaga bicaramu, Ridha. Sebagai kakak, aku juga berhak memberimu pengetahuan tentang apa itu sopan santun."


"Ya ya ya ya.....


Kau memang saudara tertua. Aku tau itu.


Itu hakmu melakukan apapun yang kau mau.


Bukankah itu artinya, kau juga harus berlaku sama sepertiku, membiarkan aku melakukan apapun yang menjadi hakku?".


Tatapan Aridha kian menantang.


Tak ada rona gelisah ataupun pandangan ketakutan. Yang ada hanyalah, keberanian.


Seperti Kara yang juga mampu mendominasi, Aridha juga mampu membuat aura sekitar mendingin tiba-tiba.


"Tetapi mengambil keputusan dan bertindak di luar batas dan melewati norma yang di tetapkan keluarga kita, itu bukan sesuatu yang di benarkan, Ridha.

__ADS_1


Sadarlah. Aku tak suka melihat saudariku terluka oleh ulah pria seperti Alex. Kau terlampau berharga, kau permata dalam keluarga ini.


Percayalah, kami semua melakukan ini demi kebaikanmu".


Aridha bangkit berdiri.


"Persetan dengan omong kosongmu itu!!


Kau juga tak lebih baik dari Alex yang suka mempermainkan wanita. Tapi kini, bukankah kau telah berubah? Demi istrimu Hanum?


Apa Alex tak boleh melakukan hal serupa?


Aku kecewa, benar-benar kecewa.


Aku harus memulai hubungan romansaku bersama pria terkasihku, tapi kau justru mengirim orang untuk berusaha mengganggu Alex. Kau pikir aku tak tau?


Lakukan sesukamu dan aku akan melakukan apapun sesukaku.


Percayalah, bos Kara yang terhormat,


Bila kau terus menelanku dan menyakiti Alex, Sesuatu yang kau pikir aku tak mampu melakukannya, aku akan lakukan.


Tak peduli bila harus pergi dari sini.


Aku mencintai Alex secara membabi buta, bila kau ingin tau hal itu".


Langkah Aridha ringan meninggalkan. ruang kerja kakaknya.


Tak mempedulikan sama sekali teriakan Kara dan papanya.


Hari Ridha terlampau luka saat ini.


Ia benar-benar kecewa saat mendengar kabar dari temannya yang ia utus menjaga Alex, memberinya kabar bahwa pengawal-pengawal mamanya telah membuat keributan kecil di bengkel Alex .


*****


"Sampai kapan akan seperti ini, Lex.


Kau satu-satunya saudaraku, aku tak mau kehilanganmu yang semangatnya selalu menggebu-gebu.


Segeralah bangkit dan perjuangkan lah cintamu".


Daniel......


Pria itu sedikit jengah dengan sikap Alex yang hanya diam murung.


Bagaimana tidak, seminggu yang lalu, beberapa orang berseragam hitam datang menyerang bengkel mereka. Beruntung Hana dan Sundari berada di rumah waktu itu.


Bila sudah demikian, bagaimana mungkin Alex tak kepikiran. Kisahnya dan Aridha baru di mulai, dan kini harus terhempas oleh restu orang tua.


Kekuatan yang Alex miliki saat ini, Tidaklah sebanding dengan keluarga Praja Bekti.


Bagaimana mungkin Alex bisa memperjuangkan Aridha.


Sudah seminggu pula Aridha tak datang. Alex dan Ridha hanya bertukar kabar lewat ponsel. Hanya itu satu-satunya cara untuk Meeka bis berkomunikasi. Kara benar-benar menjaga ketat adiknya, tak memberinya kebebasan SMA sekali.


"Aku bukan murung karna putus asa kak, aku hanya...... memikirkan cara agar aku tak di pandang sebelah mata.


Kelamnya masa laluku, benar-benar hanya masa lalu.


Apakah aku tak berhak untuk hidup bahagia?"

__ADS_1


"Siapa bilang. Baiklah, aku akan membantumu untuk bisa meyakinkan keluarga Praja Bekti. Tapi ingat bah......"


"Mas a...Alex"


Kalimat Daniel terpotong oleh suara Aridha yang datang dengan nafas yang terengah-engah.


Wanita itu hanya menggunakan piyama tidur dan berlari menuju Alex.


"Ya Tuhan, Ridha.... apa yang kau lakukan?"


"Aku...aku pergi dari rumah. Mas....mas Kara tak membiarkanku bebas sebentar saja."


Air mata menggenang di pelupuk mata. Ada kepedihan yang mendalam di hati Ridha.


Alex merasakan hatinya tersayat penuh luka melihat wanitanya bersedih hingga menangis.


Perlahan, Alex menarik pergelangan tangan Ridha untuk di bawa masuk ke dalam.


"Ayo masuk, kita masuk ke dalam".


Ridha hanya menurut saja.


"Ayo kita kawin lari saja".


Daniel dan Alex terperangah dengan ajakan Aridha yang tak masuk akal.


Kawin lari?


Oh tidak!!


"Kau gila?"


Alex bertanya bingung.


"Untuk apa kawin lari, kita harus memperjuangkan restu orang tuamu untuk kita. Kawin lari hanya akan menambah masalah, bukan justru menyelesaikan masalah."


"Tak ada cara lain. Mas Kara.....


Pria menyebalkan itu tak akan tinggal diam begitu saja. Dia pasti akan mencariku kemari.


Atau...... ayo kita tidur bersama. Hamili aku agar......"


"Tidak".


Bantah Alex dengan keras.


"Kau sudah gila, ya? Namaku akan semakin buruk di mata keluargamu. Ridha ku mohon, berpikirlah jernih".


"Aku sudah memikirkannya. Seminggu waktu yang cukup untukku mengambil keputusan.


Kau tau mas, untuk sampai ke sini, aku harus bertarung lebih dulu dengan pengawal mama. Aku mirip seperti tahanan hanya karna aku mencintaimu.


Mereka tak adil padaku.


Adikku Luna pun berencana akan di nikahkan, tapi aku .... aku harus di pisahkan darimu. Bukankah itu tak.........".


"Seret dia......"


Suara lantang kara mengejutkan keduanya. Bahkan, Daniel pun tak bisa berkutik saat itu juga.


Aridha benar-benar frustasi saat itu juga. Tak jauh darinya, Alex juga mengalami hal demikian.

__ADS_1


Kemelut dua hati ini, awal dari ujian yang harus mereka lewati, awal perjuangan yang harus mereka jalani.


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2