
Sepanjang sejarah, tak pernah dalam kehidupan para anggota keluarga Praja Bekti mengalami kesulitan demikian.
Kara......
Putra kebanggaan Jelita yang mewarisi seluruh perusahaan, kini nafas kehidupannya berada di tangan seorang perusuh yang menyerang kediaman Jelita.
Bila Jelita dan orang tua pada umumnya, akan histeris ketika pelipis putranya di todong pistol, maka tidak dengan Radhi.
Pria bertubuh tegap dan kekar itu, menangkap siluet putrinya dari jendela ruang atas, tepat jendela ruangan kamar yang biasanya Arlan tempati bila menginap di rumah itu.
Dengan keyakinan dan kepercayaan akan kemampuan putrinya yang cukup mumpuni dalam menggunakan beberapa jenis senjata, Radhi mempertaruhkan hidup putranya saat ini.
"Kau ingin membunuh putraku?
Ambil saja? Aku masih punya banyak anak yang bisa aku jadikan kekuatan.
Tapi Tidka dengan dua buah tanda tangan di atas kertas kosong seperti ini.
Cara yang kau pakai terlampau licik.... Dan murahan, tentunya.
Berpikirlah lebih cerdas untuk merencanakan penyerangan sebelum kau balik di serang".
"Mas... kau?".
"Sudah, biarkan saja. Kita masih bisa bertemu dengan Kara nanti di surga, bukan?".
Mata Radhi menangkap seluruh pengawal yang kepayahan di bawah tawanan para anak buah musuh. musuh yang belum ia ketahui identitasnya.
Kemudian netra nya beralih pada Aridha yang nyatanya, telah mengarahkan anak panahnya ke arah musuh.
Entah bagian tubuh mana yang Ridha incar.
Radhi hanya berharap serangan Ridha tepat sasaran.
"Aaarrrggghhhhh"
Belum sempat menjawab, anak panah yang Ridha arahkan pada lengan musuh, tepat mengenai lengan yang menodongkan pistol ke arah pelipis Radhi.
Saat semua terkesiap dan mereka belum sadar dari keterkejutan, dengan sigap Kara merebut pistol yang refleks terjatuh dari tangan musuh.
Suara tembakan berulang-ulang kembali terdengar. Aridha melompat dari jendela yang ketinggiannya tak lebih dari lima meter itu, tepat mendarat di samping Kara.
Baku hantam dan saling tembak pun terjadi. Sayangnya, Kara dengan sigap menangkap musuh utama yang tadi menjadikannya sandera.
Meski lengannya telah. terluka dengan darah berlumuran, tetapi pria itu masih saja berusaha melawan dan hendak melepaskan diri.
"Kalian teruskan menyerang keluarga Praja Bekti, atau kepal majikan kalian ini ku penggal saat ini juga!!"
Kara berteriak lantang. Tak ada main-main dalam nada suaranya. Siapapun yang bertindak gegabah sedikit saja, Kara bersumpah benar-benar akan melenyapkan siapapun yang berani mengusik ketenangan keluarganya.
Hening..... dan semua pergerakan terhenti.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, Sebuah deru motor terdengar ah gerbang.
"Buka pintunya.......".
Interupsi jelita pada salah satu pengawal musuh. Namun, pengawal itu hanya mematung di tempat.
"Buka pintunya atau ku lenyapkan kalian semua , tanpa sisa".
Tanpa menunggu lagi, seorang pengawal menuruti perintah Jelita. Mereka tak ingin mati sia-sia di sini.
Alex muncul dengan wajah terkejut, di susul Wira di belakangnya.
"Mas Alex". Aridha berdiri tegak dengan masih menggenggam busurnya. Tak ada riak emosi apapun dari netra matanya. Membiarkan Alex mematung dan tercengang di tempatnya, membuat Ridha merasa gemas sendiri di buatnya.
"A-ada apa ini, tuan Radhi?"
"Tunggu sebentar, tetap lah di tempatmu, Alex, tuan Wira".
Dengan santai, Radhi melepaskan penutup kepala pria yang ada dalam kendali Chandra.
Wajah seorang pria paruh baya nampak di sana. Membuat Wira menggumam dan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Surya...."
*****
"Jadi.... jelaskan secara gamblang, darimana asal muasal Surya ini?"
Saat ini, mereka tengah berada di ruang kerja Radhi. Beberapa saat lalu, Antonio..... dokter keluarga Praja Bekti di panggil untuk mengurus seorang Surya.
Surya seperti yang tadi di katakan oleh Wira.
"Dia adalah Surya Rahadi. Maaf bila aku harus mengatakan fakta ini, tuan.
Mendiang nyonya Sukma......
Dulu telah melahirkan seorang putra di luar pernikahan bersama mendiang tuan Yusman, Ayah nyonya besar Lita.
Saat itu, adalah saat-saat dimana mendiang tuan Yusman di jodohkan dengan mendiang nyonya Ambar sayu.
Naasnya, bayi itu adalah Surya. Orang tua mendiang nyonya Sukma lah yang telah membuang Surya ke daerah pinggiran kota karna menganggap Surya hanyalah anak haram.
Katakanlah.......
Surya adalah kakak kandung nyonya besar Dewi Anjar Adi Prama."
Jelita syok mendengarnya. Tubuhnya terasa lemas seketika. Wira nampak membuang pandangannya ke arah langit-langit ruangan. Menerawang jauh tentang penggal Deni penggalan kisah masa lalu nya.
"Ba-bagaimana bisa kau mengetahui fakta tersembunyi keluargaku sedangkan......
Sedangkan aku sendiri tak tau, berdiam diri dan menjadi pihak yang paling bodoh?".
__ADS_1
"Orang tua mendiang nyonya Sukma, kediamannya tak jauh dari kediaman orang tuaku dan mendiang Darrel. Keluarga kami...... sangat dekat.
Dan tahukah anda, tuan.... nyonya .....
Itulah penyebab mendiang nyonya Sukma di usir dan tak lagi di akui sebagai anak."
Wira mendesah lemah. Gurat lelah dan rasa bersalah nampak terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Mungkin......
Surya datang untuk menuntut dan meminta bagian harta warisan yang di tinggalkan mendiang tuan Yusman, karna merasa dia memiliki hak karna dalam dirinya mengalir darah mendiang tuan Yusman".
"Ya Tuhan..... Tragedi apa lagi ini?"
Wajah Jelita memucat.
Kara dan Radhi hanya diam dan memilih tak menanggapi.
"Tetapi saya tidak tau pastinya, tuan......
Untuk lebih jelasnya, ku rasa anda perlu menekan Surya secara langsung untuk mengatakan motifnya di balik penyerangan ini."
"Baiklah, terima kasih banyak atas informasi penting ini, tuan Wira. Ku mohon, rahasiakan ini dari Dewi. Dia pasti akan sangat syok bila tau fakta ini."
Ungkap Radhi dengan tulus.
Di ruangan yang berbeda, Alex dan Aridha tengah mengistirahatkan tubuh mereka di ruang keluarga lantai atas. Setelah melalui pertarungan yang cukup melelahkan, pada akhirnya Ridha mengistirahatkan sejenak tubuhnya.
"Ya Tuhan, Ridha. Aku tak menyangka kau benar-benar sehebat ini".
Alex bersuara dengan wajah takjub.
"Huh, biasa saja".
Angkuh dan sombong, dua kata itulah yang mengiringi kalimat Ridha.
"Hei, ini sungguh-sungguh.....
Bahkan aku sama sekali tak bisa menggunakan busur panah. Yang ku bisa hanya menggunakan pistol".
"Oh baiklah, belajar lah memanah nanti ketika kita sudah resmi menikah. Akan aku ajari cara memanah yang benar dan tepat sasaran tanpa meleset".
Ridha tersenyum jahil ke arah Alex. Seakan emnktdi hiburan bagi dirinya bila ia berhasil membuat Alex tersipu malu layaknya anak gadis.
"Jangan menggodaku".
"Oh tapi aku ingin menggodamu. Memberimu pengetahuan tentang cara menggunakan busur panah dengan angkuh dan gagah.
Kau tau mas Alex? Semua anggota keluarga Praja Bekti, haruslah pandai dan menguasai cara pakai seluruh jenis senjata.
Dan berhubung kau adalah calon menantu di sini, kau benar-benar akan di tuntut seperti ku dan mas kara".
__ADS_1