
Hari ini, entah pertemuan yang ke berapa kali antara Alex dan Ridha selama mereka menjalin hubungan kekasih.
Saat ini, Alex dan Ridha tengah berjalan menyusuri pantai. Menikmati sore hari yang begitu damai.
Keduanya larut dalam canda gurau, menikmati momen kebersamaan yang jarang mereka dapatkan.
"Mengapa kau nekat sekali, Ridha? Tidak kah kau berpikir bagaimana bila kakak dan mamamu marah lebih parah dari kemarin-kemarin? Aku tak mau kau kembali terluka".
"Persetan dengan semua yang akan mereka lakukan. Selama aku bisa menikmati kebersamaan kita, aku tak peduli. Jangankan mama dan mas Kara.....
Andai seluruh dunia mencoba memisahkan kita, Aku akan melawannya atas nama cinta kita".
Ada gelenyar sejuk yang mampu membobol pertahanan Alex sepenuhnya.
Mendengar penuturan gadis pujaan nya, membuat keyakinan kembali mengembang dalam diri Alex.
"Tapi .... aku jauh dari kara sempurna, Ridha. Kau tau? Dulu..... aku adalah pemain wanita".
Ada nada getir yang tersirat dalam suara Alex.
Hening sejenak. Hingga Aridha menatap lekat netra mata kekasih pujaan hatinya. Kemudian senyum hangat terbit seiring senja mulai tenggelam. Bergantikan temaram yang lebih dengan ketenangan.
"Aku mencintaimu, mas Alex. Bila kau bersedia berubah demi aku, mengapa aku tak bisa menerima masa lalumu?
Semua itu hanyalah kepingan masa lalu.
Aku tak akan peduli dengan semua itu karna aku adalah masa depanmu."
Tangan Aridha merentang ke arah Alex, berharap pria ini menyambut mesra pelukannya.
"Aku mencintaimu, Ridha. Sungguh......
Aku akan menjagamu sekuat yang ku bisa".
Mereka hanyut dalam kisah yang mereka untai dalam kebersamaan. Kebersamaan yang tak selalu bisa mereka lewati setiap waktu. Berharap dengan begini, ikatan batin di antara mereka semakin kuat.
Cinta ini demikian besar.
Rindu ini semakin menggunung setiap waktunya.
Bila telah demikian, siapa yang akan dengan sangat tega memisahkan dua insan yang sudah saling bertaut hati ini?
"Pulanglah, Ridha..... ".
"Tidak mau".
Aridha menggeleng keras, bibirnya yang sensual, mengerucut sebal ke arah Alex.
"Kapan-kapan kita akan bertemu lagi, hm?".
"Aku tidak rela bila harus berpisah denganmu."
"Hei, apa yang kau minta dariku agar kau bersedia pulang lebih dulu?".
"Cium aku".
Mendengar ini, Alex tersenyum hangat.
"Tidak sampai aku benar-benar bisa menghalalkan dirimu di depan keluargamu.
Mari kita berjuang bersama untuk mendapat kan restu keluargamu.
Aku menginginkan dirimu, tapi dengan cara baik-baik tentunya".
Tanpa kata, Aridha memeluk erat Alex lama.....
Tak peduli gelap telah menaungi bumi, mereka tetap berpelukan.
Hingga tiba-tiba......
__ADS_1
Tangan Aridha di tarik paksa oleh sebuah tangan halus yang kokoh.
"Anak macam apa kau ini, Ridha?
Berapa kali harus mama tegaskan kau tak boleh menemuinya?"
Satu tamparan, Jelita daratkan di pipi putrinya.
Nafasnya memburu seiring emosi yang hendak meledak seketika itu juga.
"Ma.... "
"Nyonya .... ku mohon jangan sakiti putri an......"
"Diam!!".
Alex bungkam ketika Jelita segera membentak Alex. Dua pengawal segera sigap menghajar Alex atas perintah Jelita.
"Tidak, hentikan.... cukup.
Ma.... ku mohon cukup, kasihan Alex.... cukup....Ma....."
Aridha menangis meraung di bawah kaki Jelita.
"Aku akan pulang ikut mama, tapi ku mohon lepaskan Alex"
Hingga Alex terkulai tak berdaya, di atas pasir putih, barulah si pengawal menghentikan aksinya. Beruntung hari telah berganti gelap, pengunjung yang lain pun telah memilih untuk kembali.
Aridha menangis, ingin memeluk, menyentuh, memberi ketenangan, tapi tak bisa.
Ridha merasa tak berguna saat ini. Demi Alex, demi keselamatan pria itu, Aridha tepaksa meninggalkannya.
"Mas.... aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik".
Ridha berlalu pergi, langkahnya menyerupai lari maraton, cepat dan tanpa melihat apapun yang di lewatinya.
Mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya, kini sudah bisa ia kendarai.
Oh Tuhanku......
Seberat inikah konsekuensi yang harus ia tanggung.
Ridha mengerti.....
Ridha tau.......
Alex bahkan bisa melawan pengawal mama.
Tapi Alex tak mau melawan untuk saat ini. Tidak hingga nanti saatnya tiba, bila Lita telah keterlaluan pada Ridha.
Dengan kemurkaan yang semakin menjadi, Ridha mengendalikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Alex yang menyaksikan hal itu, merasakan ke khawatiran yang tak bisa di enyahkan begitu saja.
Cukup sudah, Aridha tak kuat.
Andai dirinya hanya mendapat tamparan, itu tak mengapa.Tapi kini......
Alex yang menjadi sasaran amukan para pengawal sialan itu.
Menyaksikan Alex di pukuli hingga tak berdaya, membuat Ridha lemah.
Alex adalah cintanya......
Alex adalah separuh hidupnya....
Tak bisakah semua orang mengerti bahwa cinta yang Ridha miliki cukup murni?
Baiklah.....
Ridha sudah tak sanggup lagi bertahan dalam situasi seperti ini.
__ADS_1
Bukan tak paham, tapi Ridha lebih paham dengan bagaimana sikap keras nya Jelita.
Bila Jelita telah kokoh pada pendiriannya, maka selamanya restu seperti yang Alex inginkan tak akan pernah mereka dapatkan.
Sepeninggal para pengawal dan Jelita, kini tinggallah Alex seorang diri.
Untuk berdiri, dirinya merasa kepayahan.
Sial....
Pukulan mereka cukup kuat juga.
Beruntung Alex tak mati saat itu juga.
Di sisi lain, Jelita membuntuti mobil putrinya yang semakin melaju kencang tanpa kendali.
sejujurnya, Jelita khawatir.
Namun ekspresi wajahnya datar tanpa riak emosi apapun.
Hingga mobil Ridha sengaja di oleng kan dan menabrak pembatas jalan, di saat itulah Jelita berteriak histeris dari dalam mobilnya.
*****
Semua anggota keluarga Praja Bekti tengah berkumpul di depan ruang operasi.
Didalam ruang operasi, Aridha berjuang antara hidup dan mati.
Entah kegilaan macam apa yang menghinggapi pikiran gadis itu, semua orang tak mengerti.
"Jangan hubungi Kara, mas. Besok dia sudah pulang. Biarkan saja dulu".
Suara Jelita bergetar.
Sejujurnya, Radhi ingin marah saat itu juga pada sang istri.
Namun, dalam situasi seperti ini, marah pun tak akan mengembalikan keadaan Ridha seperti awal.
"Kau terlalu gegabah, sayang.
Kau pun juga dulu memiliki masa lalu kelam.
Begitu juga Alex.
Andai kau mau bersabar sedikit saja, andai kau tak terlalu keras pada putri kita, andai kau memiliki cara pandang lain terhadap Alex Atmadja, aku yakin kau tak akan sebrutal ini memperlakukannya".
Tukas Radhi pelan, namun berhasil menusuk hati Jelita yang semakin di naungi rasa bersalah.
Sesegukan kemudian terdengar dari bibir istrinya. Meski tangan kiri Radhi membawa istrinya ke dalam pelukannya, Namun ia sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari pintu ruang operasi.
"Aku.... aku.....".
"Ya sudah. Semua telah terjadi. Tenangkan dirimu. Setelah nanti Ridha sadar, kita akan membicarakannya secara baik-baik."
Hening. Baik Arlan, Alma, Anton dan Chandra hanya diam mengamati. Mereka memilih menjadi pihak yang pasif dalam hal ini untuk saat ini.
Hingga sebuah suara pintu terbuka, semua beranjak dari duduk mereka.
"Maaf, tuan Radhi, nyonya besar....."
"Katakan bagaimana dengan keadaan putriku?"
Sang dokter nampak menghembuskan nafasnya berat.
"Mata kiri nona Ridha tak bisa di selamatkan akibat serpihan kaca mobil yang mengenainya.
Nona muda butuh donor mata secepatnya bila tak ingin mengalami kecacatan sebelah matanya."
Jelita pingsan saat itu juga.
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁