
Seorang wanita muda tengah duduk tak berdaya dengan tubuh lemas dan wajah pucat pasi.
Kedua tangannya di ikat di belakang sandaran kursi kayu berplitur samar. Rambutnya tak tertata dan acak-acakan.
Di beberapa sisi wajahnya, menunjukkan lebam dan bengkak.
Piyama tidur yang ia gunakan, nampak lusuh dan berbau apak.
Wanita itu menangis dan terisak sesekali dalam rintihannya. Sudut bibirnya yang terluka, menunjukkan bahwa dirinya, mengalami beberapa penyiksaan ringan.
Tamparan demi tamparan ia terima dari seorang pria yang akan menjadi adik iparnya.
Sayangnya.......
Batal dan hancur dalam sekejap segala misinya.
Dian Surya......
Seorang wanita lacur yang di sewa Wira Atmadja untuk disusupkan ke dalam keluarga Adi Prama dan praja Bekti.
Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan kepercayaan kedua keluarga itu, menjadi wanita seorang Arlan lah jalannya.
Sayangnya, gelagat wanita itu demikian rapi, tak sedikitpun mengundang kecurigaan Radhi yang terkenal memiliki kepekaan tingkat tinggi.
Kara...
Hanya Kara lah yang dapat membaca gelagat Dian. Berbekal insting yang tajam, serta naluri yang kuat...... Kara pada akhirnya berhasil mendapatkan informasi mengenai siapa Dian yang sesungguhnya.
Kepiawaian Dian dalam membawa diri dan memainkan drama patut di acungi jempol.
Sebuah deru mobil terdengar dari luar.
Dian menajamkan pendengarannya. Mencoba mencuri dengar sebuah keributan yang berasal dari luar.
Tak di sangka, ketika pintu terbuka dari luar, Mata Dian melotot sempurna saat mendapati Alex dan Daniel yang berada di dalam kendali para pengawal kara.
Hati Dian mencelos.
Bila Daniel dan Alex saja mudah di bekukan, lantas....
Bagaimana dengan durinya yang tak memiliki keahlian dalam bela diri,m
"Dian?".
Alex dan Daniel menggumamkan nama Dian secara bersamaan.
"Ikat Mereka berdua lebih kuat.
Jangan sampai mereka memiliki celah sedikitpun untuk meloloskan diri.".
Suara Kara yang penuh kharisma membuat seluruh pengawal melaksanakan titah Kara dengan segera.
Nadanya, tersirat seperti sebuah kemampuan mengendalikan segala hal hanya dengan sekali perintah.
"Apa maumu, tuan Kara? Aku tak pernah membuat perkara dengan mu".
__ADS_1
Daniel mencoba memberontak dari pengawal. Sayangnya, Pengawal Kara adalah pengawal pilihan yang sangat terlatih, tak sembarang orang bisa mengalahkan pengawal-pengawal itu.
"Denganku tidak, tuan Daniel.
Tapi karna ayahmu memiliki niat buruk terhadap keluarga Adi Prama dan Praja Bekti, dan kesalahan orang tuamu yang telah bermain curang terhadap Darrel Jafferson, Maka tentu ini menjadi urusanku".
Ucap Kara dengan suara dingin.
Nadanya mengandung kemarahan meski terdengar pelan.
"Bila orang tuaku yang salah, mengapa harus kami yang kau tahan?
Percayalah tuan muda Praja Bekti, Tak seharusnya kau menahan kami yang tak tau apapun perihal kejahatan orang tua kami".
Alex mencoba untuk bernego kali ini.
Sayangnya.... Kara tetaplah Kara yang tak mudah untuk di provokasi.
"Sayangnya, kalian memiliki peran penting sebagai sumber kekuatan sekaligus kelemahan Wira Atmadja.
Bila kalian mudah di taklukkan dan bersedia berada di bawah kendaliku, ku pastikan kalian selamat.
Tapi bila kalian memberontak, akan ku tunjukkan pada kalian bahwa Azkara Praja Bekti, adalah jelmaan seorang iblis tanpa hati".
Kara kemudian berlalu pergi tanpa memberi kesempatan pada mereka yang menjadi tawanan.
Sayup-sayup Kara mendengar Daniel yang berbicara pada Alex....
"Kurasa Putri Dita adalah darah daging ku, Alex". Lirih Daniel.
*********
Sinar wajahnya meredup.
Dewi telah pulang setengah jam yang lalu. Dia mengatakan akan menunggu Hana di rumah.
Tak lama, Aridha datang dengan nafas yang terengah-engah.
"Apa yang terjadi Ridha?".
Ariana nampak bingung, tangan kanannya mengusap pelan perutnya yang bergerak aktif.
"Aku baru saja bertemu dengan pria yang bernama Alex dan Daniel. Kurasa......
Entah mengapa, hanya dalam sekali tatap, aku bisa menyimpulkan bahwa anak Dita itu adalah darah daging Daniel, bukan Alex.
Aku tak tau bagaimana kesimpulan kak Kara.
Tapi instingku berkata demikian".
Hanum tercengang dengan kalimat panjang lebar Aridha, Sepertinya, keluarga Praja Bekti memiliki kekuatan insting yang tak di ragukan lagi.
"Benarkah?".
Hanum bertanya tak percaya.
__ADS_1
Setajam itulah insting gadis semuda Aridha?
Ariana trsenyum kecil.
"Bagaimana keadaan Dita sekarang?".
Tanya Aridha.
Biasanya, Aridha paling enggan bila harus berurusan dengan wanita yang bernama Dita ini.
Sayangnya, riwayat penderitaan Dita lantas membuat sisi hati Aridha tersentuh.
"Cukup baik perkembangannya".
Ariana menjawab pelan.
"Dimana mas Kara?".
Hanum melempar tanya pada Aridha.
"Sedang mengurus kakak beradik, si Daniel dan Alex".
Di saat yang bersamaan, Jelita datang dari ambang pintu. Sinar matanya nampak menawan seperti hari-hari biasanya. Di usianya yang tak lagi muda, Jelita tetao tampil anggun nyaris tanpa cela.
"Hanum, ikutlah dengan mama sebentar".
Dan Hanum mengikuti langkah Jelita dengan pasti. Ada sejuta tanya yang tak Hanum ungkapkan di hadapan mertuanya.
Setelah sampai di mobil, Jelita segera memulai pembicaraannya.
"Kau tau dengan fakta yang baru saja terungkap, Hanum?
Kau tau? Sebagai seorang ibu, aku memiliki firasat buruk tentang Kara".
"Apa maksud mama?".
Hanum bertanya lirih.
"Perubahan Kara jelas terlihat ketika mengetahui bahwa Dita memiliki nasib se-tragis ini. Ku harap, Kepeduliannya terhadap Dita hanyalah sebatas peduli biasa.
Aku takut, bila percikan cinta di masa lalu itu masih tersisa, Aku khawatir, num.
Kara bisa bertindak sesuka hatinya tanpa peduli konsekuensinya kau tau?".
"Apa maksud mama?"
"Dengar, Buat Kara benar-benar jatuh hati padamu".
"Belakangan, ku rasa mas Kara bersikap kian lembut, ma".
"Kau tak tau isi hatinya, num.
Aku ibunya, aku yang membesarkannya. Dan aku lebih mengenali dirinya".
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1
Yang mau masuk group chat Istia Akhtar....
Udah mulai aktif ya...😍❤️