
"Kau ingin menghancurkanku, bukan?
Selamat...... kalian berhasil. Kalian telah berhasil melakukannya.
Kalian berhasil melukai batin dan jiwaku, serta ragaku. Aku yang tak pernah tau kesalahan apa yang pernah ku buat pada kalian, hingga kalian melakukan hal keji ini padaku tanpa hati".
~Part sebelumnya~
Darah Dita semakin deras mengalir. Wajahnya pucat pasi. Sinar matanya perlahan meredup. Bibirnya membiru. Nafasnya mulai tersengal.
Perlahan namun pasti, beling dalam genggamannya terjatuh dan ia luruh ke lantai tak sadarkan diri.
"Dita........".
Alex dan Daniel berteriak bersamaan. Tanpa kata, mereka berdua membawa Dita ke rumah sakit. Alex, pria itu panik bukan main.
Ia merasakan sebuah emosi asing yang tak pernah ia rasakan pada wanita lain.
Sebuah getaran yang di sinyalir akibat sentuhan.
Mungkinkah Alex terlalu panik?
Atau mungkin saja dirinya terlampau syok?
Sebelum ini, bukankah dirinya pernah menyentuh Dita sekitar tiga Minggu yang lalu?
Saat itu, Alex tak merasakan hal ini pada Dita, bukan?
Berbagai tanya muncul di benak seorang Alex Atmadja.
Sedang Daniel, pria itu merasakan letih di hatinya. Entahlah......
Perih yang tak pernah ia rasakan saat ia membuat wanita lain menangis.
"Alex. Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Benarkah terlahir seorang gadis kecil akibat perbuatan kita?".
Daniel memucat.
Seumur hidupnya, Daniel tak pernah merasa se kacau ini karna perempuan.
"Aku tak tau, kak. Selamatkan dulu Dita. Kita bisa mengorek informasi darinya setelah kesadarannya kembali nanti".
Alex menjawab apa adanya.
Ia hanya berfikir secara realistis.
Tidak mungkin bukan, bila wanita yang pingsan di berondong banyak pertanyaan?
Yang ada semuanya akan sia-sia.
Tanpa terasa, mereka sampai di rumah sakit.
Tak menunggu lama, Dita segera di larikan langsung ke ruang UGD dan disarankan dokter untuk segera melakukan operasi ringan.
Bisa kau bayangkan bagaimana kacaunya Daniel dan Alex?
Mereka tak ubah layaknya gembel yang asal memakai pakaian meski semua yang melekat pada diri mereka berharga sangat mahal.
Malam panjang nan panas yang Daniel dan Alex bayangkan, kini tak ubahnya menjadi petaka bagi mereka berdua.
Gadis kecil?
Jadi mereka telah memiliki anak?
__ADS_1
Sungguh menggelikan.
Di tempat yang berbeda, Kara mengumpat kasar saat salah satu kaki tangannya menyampaikan kabar Dita dilarikan ke rumah sakit.
Bukan Karna Kara sakit hati dan masih peduli pada Dita, melainkan karna rencananya harus sedikit melenceng dari perkiraan.
"Om, Tante. Putri angkat kalian telah di larikan ke rumah sakit terdekat.
Kalian juga tak mungkin meninggalkan acara begitu saja mengingat kalian tuan rumah pemilik acara.
Ku sarankan agar kalian mengutus beberapa pelayan dan pengawal untuk menjaga putri kalian dengan baik".
Kara menyampaikan kabar mengejutkan ini dengan wajah datar.
Ia sama sekali enggan meski hanya sekedar untuk menyebut nama Dita.
"Oh ya tuhan, apa yang terjadi?".
Dewi panik. Dirinya mulai kehilangan kendali emosi dalam dirinya.
"Mengapa di rumah sakit, Kara? Bukankah tadi dia bersama calon suaminya, Alex?".
Chandra tak habis pikir.
"Sesuatu terjadi padanya. Panjang ceritanya bila harus aku jabarkan. Ku harap, seusai acara kalian segera ke rumah sakit. Jangan biarkan Alex dan kakaknya itu kembali menyakiti putri angkat kalian. Aku akan menemui papa untuk merancang sebuah rencana".
**********
Acara pesta telah usai. Kini, sepasang pengantin baru pemilik acara itu telah kembali ke kediamannya.
Chandra, sengaja tak memberi tahu Arlan tentang hal ini. Arlan sudah cukup tertekan saat harus kehilangan Dian, dan kini.....
Arlan tak boleh tau mengenai musibah yang Dita alami.
Tak satupun pengawal yang mengekori mereka.
Namun ada tak cukup bodoh, ia memerintahkan beberapa pengawal yang bertugas malam untuk mengawasi Alex dan Daniel dari jauh tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Alex.... Apa yang terjadi?".
Dewi segera bertanya pada Alex dengan nada tak sabar.Ia panik setengah mati saat mendapat kbr bahwa putrinya harus di larikan ke rumah sakit.
"Di...Dita....."
Alex tergagap tak mampu menjawab.
Daniel yang ada di samping Alex pun memucat, tak tau harus menjelaskan apa terhadap tuan Chandra Adi Prama.
"Katakan apa yang kau sembunyikan dari Alex, sebagai calon suami Dita, tuan Chandra?".
Mati-matian Daniel menahan amarah yang bercampur kegugupan.
"Apa maksudmu, Daniel?".
Chandra bingung. Dewi bertanya lebih dulu, bukan? Lantas mengapa mereka justru melontarkan pertanyaan tanpa menjawab lebih dulu?
Anak jaman sekarang memang tak memiliki tata Krama.
"Dita telah melahirkan seorang putri?
Benarkah?".
Mendengar pertanyaan dari Daniel, membuat wajah Chandra mendadak menggelap dalam sekejap.
__ADS_1
Radhi, Kara, dan Jelita tentu terkejut mendapati fakta ini. Hanya Radhi yang dengan cepat menguasai dirinya.
"Ya. Seorang putri hasil pemerkosaan yang entah di lakukan dengan siapa. Dita tak pernah mau jujur pada keluarganya mengenai hal itu.".
Chandra terpaksa menjawab apa adanya.
Lagi pula, untuk menutupi fakta yang telah sedikit terbongkar, tidak akan ada gunanya lagi, bukan?
"Lantas, berapa usia putri Dita?".
Daniel kembali bertanya. Ia berharap, apa yang dikatakan Dita tidak lah benar.
Sayangnya, Chandra menjawab persis seperti yang Dita ungkapkan tadi pada Alex dan Daniel.
"Delapan tahun".
Bak petir menyamabar di sertai gelegar dahsyat yang meluluh lantakkan hati kakak beradik Alex dan Daniel.
Delapan tahun?
Ya tuhan........ entah mengapa, Alex lebih mengkhawatirkan kondisi Dita di banding fakta tentang putri Dita.
Berbeda dengan Daniel yang meyakinkan dirinya akan kebenaran berita itu.
"Mama, tunggulah di sini. Aku akan mengurus beberapa hal dengan papa yang berkaitan dengan pesta".
Kara tetiba mengajak ayahnya menyingkir untuk mendiskusikan sesuatu.
"Baiklah, Hati-hati. Mama akan luang dengan sopir nanti".
Sesaat setelah Kara telah jauh dari mereka,Ia pun berbicara lirih pada ayahnya.
"Pa. Aku rasa ada yang janggal".
"Ya, kau benar. Kira-kira apa spekulasimu tentang keterkaitan Alex, Daniel, Dita dan putri yang dilahirkannya?".
Radhi menatap putranya dengan serius.
"Ku rasa, Dita adalah korban pemerkosaan kedua pria itu, bila tidak ya....... salah satu dari mereka".
"Bagus. Ini semakin menarik dan akan semakin memperpanas pertunjukan.
Kara, rancang rencana lain. Kita ubah rencana sebelumnya.
Mari kita hancurkan kedua putra Atmadja lebih dulu, kita lumpuhkan sumber kekuatan sekaligus kelemahan Atmadja.
Setelahnya, Kita akan menghancurkan mereka dari dalam".
Radhi berkata dengan datar.
Tapi siapa sangka, Ada pendar kelicikan yang mendominasi nada suara dan netra matanya.
"Menarik. Ini sungguh menarik".
Kara tersenyum penuh arti.
Pria bertubuh tegap itu, menyusun rencana tanpa seorang pun yang tau.
"Jangan lupa, Dian juga harus ikut sertakan dalam proses pelumpuhan Atmadja.
Aku tak akan Sudi membiarkan wanita yang telah bermain-main perasaan dengan Arlan putraku, bisa hidup dengan tenang".
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1