
"Seno, Akhir pekan nanti, Papa mengundangmu untuk makan malam dirumah.
Kuharap kau tak menolak dengan alasan apapun."
Saat ini, Kara tengah makan siang di kantornya bersama Seno. Hari ini, ia telah mengultimatum istrinya untuk tak pergi ke kantornya meski hanya sekedar mengantar makan siang.
Lalu, dengan sedikit pemaksaan, akhirnya Kara menurut saja saat Hanum mengemas bekal untuk makan siang.
Tentu dengan wajah masam.
Seno menatap Kara dengan senyum kaku.
Sungguh, datang karna undangan makan siang akan membuatnya tak nyaman.
Ada sesuatu yang membuatnya enggan kesana. Sesuatu yang amat sangat Seno hindari.
Begitu pula dengan Kara yang memandang sekertarisnya itu dengan wajah datar.
Ia menyembunyikan emosinya sendiri dengan rapi.
Kara.......
Pria itu memiliki prinsip untuk dirinya sendiri agar selalu bisa membaca riak emosi orang lain.
Namun, ia tak akan membiarkan emosinya sendiri terbaca oleh orang lain.
"Sepertinya, aku ada janji untuk makan di luar. Aku harus me.........".
"Kau menolak undangan papa?".
Telak.......
Kara bertanya tepat sasaran.
Kara tak suka basa-basi. Kara juga tak suka mengumbar undangan makan malam begitu saja.
"Aku.......".
"Apa yang sebenarnya kau hindari, Seno?
Jujur saja padaku. Aku tak akan mendesakmu andai kau tak bersikap demikian aneh dan mencurigakan. Aku seperti tak melihat dirimu sendiri.".
Seno membeku. Pupil matanya membesar dalam sekejap.
Kara berharap, kali ini Seno akan jujur padanya.
Sayangnya, Seno masih enggan membagi apa yang ia rasakan.
"Tidak ada. Tak ada apapun yang aku hindari, bos. Jangan terlalu jauh menilaiku.
Baiklah, aku akan penuhi undangan tuan komisaris. Ku pikir, aku perlu membatalkan janjiku yang lain".
Seno tersenyum kecil, Mati-matian dirinya menyembunyikan kegugupannya.
Sayangnya, Kara tentu bukan orang bodoh.
'Baiklah.
Mari kita lihat, sejauh mana kau akan membohongiku?
Mari kita lihat, sekuat apa kau bertahan?
Mari kita lihat, semampu apa kau berkelit'
Kara membatin dengan mengulas senyum kecil.
Baiklah..... bagi kara, saat makan malam berlangsung, ia akan melihat sendiri siapa yang sebenarnya Seno hindari.
"Baiklah. Kurasa, tak ada salahnya bila nanti kau membawa seorang wanita untuk menemanimu menghadiri acara makan malam.
Tak ada acara khusus sebenarnya, hanya saja.....
Papa ingin berbicara denganmu, lebih dekat."
Kara berkata dengan tenang.
Seno salah tingkah.
__ADS_1
Dirinya seolah mengumpat dalam hati atas kalimat Kara yang membuatnya tak nyaman.
"Aku..... tidak sedang dekat dengan wanita manapun".
Seno menjawab dengan suara yang ia buat se-datar mungkin.
"Oh ayolah, Seno.......
Usiamu sudah hampir dua puluh sembilan tahun. Masihkah kau betah melajang dan sendiri?
Wajahmu cukup tampan, kurasa. Tubuh tegap mu juga cukup di gilai banyak wanita.
Tak ada yang kurang.
Atau jangan-jangan.........
Kau tak menyukai lawan jenis?
Kau penyuka sesama jenis dan memiliki orientasi seksual yang belok?
Atau kau......??".
Alih-alih marah, Seno justru tertawa renyah mendengar pernyataan Kara, si bos nya itu.
"Orientasi seksual belok?
Ha ha ha ha ha...... Yang benar saja?
Aku bahkan bisa membuat wanita mendesah panas di bawah kungkunganku.
Kau tau...? Aku tak pernah sesumbar dalam berucap, tapi sekali aku membuat sebuah pernyataan, tentu itu sebuah kebenaran.
Jadi, bagaimana mungkin aku penyuka sesama jenis, bos?
Yang benar saja".
Seno masih saja tertawa geli.
"Wanita yang mendesah panas di bawah kungkunganmu?
Mungkin kah wanita yang beruntung mendapatkan hatimu itu adalah Aluna, adikku?"
Seketika Seno bungkam.
Nafas Seno seperti terhenti seketika.
Hingga sesaat kemudian, Seno mendengus.
Tidak. Ia tak akan terpancing oleh Kara saat ini.
Biarlah......
Biarlah Seno mencintai dalam diam.
Aluna adalah gadis yang usianya jauh di bawah Seno.
Lagi pula, Seno bukanlah siapa-siapa. Ia tak mau menjadi bagian keluarga besar praja Bekti karna Seno sadar, dirinya tak sepadan dengan Praja Bekti. Perbedaan kelas sosial lah alasannya.
"Jangan aneh-aneh, bos. Kurasa kau kelelahan hingga berkata aneh di luar kendalimu".
Kara tersenyum tipis.
Yah, Seno telah masuk ke dalam perangkap Kara. Kara sudah bisa melihat reaksi yang sebenarnya dari seorang Seno.
Hingga kemudian Seno berusaha mengalihkan pembicaraannya. Mengalihkan topik agar tak larut dalam salah tingkahnya. Berusaha menepis angan yang terlampau tinggi untuk Seno bisa gapai.
*********
Wira Atmadja menatap nyalang ke arah rumah kontrakan minimalis yang ada di hadapannya.
Pikirannya berkecamuk.
Dulu....
Dulu ia bisa menghidupi keluarganya dengan gelimang harta. Bahkan ia pernah sesumbar bahwa hartanya tak akan habis hingga tujuh generasi berikutnya.
Sayangnya......
__ADS_1
Kenyataan kini telah menendangnya dengan begitu kuat tanpa belas kasih.
Dua putri mendiang Darrel datang dan Wira merasa kemewahan yang ia miliki, kini telah usai.
Bahkan........
Callista dengan sengaja tak memberinya aset sedikitpun.
Ini pantas.
Atas kejahatannya yang telah menghabisi mendiang Darrel dengan sangat kejam akibat gelap mata atas harta.
Wira menyesal.
Andai dua putri Darrel tak datang untuk mengambil alih harta yang seharusnya menjadi hak mereka, mungkinkah Wira masih saja tak sadar dan tak menyesal karna telah merusak kebahagiaan anak dan istri Darrel?
Wira termenung lama.
Hingga suara Alex membangunkannya dari lamunan.
"Benarkah ini rumahnya, pa?"
"Oh.. iii.....iya, Ayo masuk".
Hingga mereka tiba di dalam. Mereka tak segera menata barang-barang mereka. Mereka lebih memilih untuk istirahat sejenak di kursi kayu dengan plitur samar.
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini, pa?".
Sundari bertanya lirih. Ia menatap lekat suaminya yang masih tetap diam.
"Entahlah. Tapi yang Jelas, aku tak bisa diam saja. Kita tak memiliki banyak uang cadangan. Aku harus mendapatkan pekerjaan, segera".
Pandangan mata Wira beralih pada Alex.
"Alex, setelah sembuh total, apa yang akan kau lakukan?".
Alex diam sejenak.
"Kembali ke perusahaan, pa.
Ku rasa biar bagaimana pun, papa juga memiliki hak di sana. Aku tak meminta aset yang di miliki perusahaan. Hanya......
Meminta pekerjaan yang lantas dan di perlakukan sama dengan karyawan lain.
Tak masalah kita tak mendapat harta dari perusahaan. Yang penting, aku harus tetap bekerja di sana.
Bekerja dengan baik, secara harfiah tentunya".
Wira menggeleng tegas.
"Tidak.
Cari pekerjaan lain saja.
Papa akan merekomendasikan dirimu pada kawan lama papa.
Begitu juga dengan kakakmu, Daniel".
Daniel mendongak dan menatap ayahnya.
"Ya, pa. Daniel rasa tidak seharusnya mengemis pekerjaan pada Callista.
Daniel akan bekerja keras setelah ini.
Bila keberuntungan berpihak padaku, aku akan mengajak Dita untuk menikah dan membangun rumah tangga. Aku ingin memperbaiki kesalahanku di mas lalu".
Pendar keangkuhan itu, sirna entah kemana dari netra mata Daniel.
Tatapan mata yang dulunya demikian kejam, kini melembut.
"Kau yakin tuan Chandra Adi Prama akan memaafkanmu?".
"Segala sesuatunya perlu di coba, pa.
Aku bertekad untuk bekerja keras dan ku jamin, aku akan membahagiakan Dita dan putriku, Gihana".
Sorot mata Daniel, bersinar terang.
__ADS_1
Menyebut nama Gihana, membuat Daniel memiliki semangat yang demikian tinggi.
🍁🌻🌻🌻🍁