
Sudah beberapa hari berlalu semenjak kunjungan Inora dan Dion pada Marcel, kini, Dion meminta putri dan menantunya untuk datang ke rumahnya untuk menyampaikan sesuatu hal mengenai Marcel. Dion berpikir, menyembunyikan Marcel bukanlah hal yang bagus di masa depan.
Di ruang tengah, Yasmin dan Aksa belajar bersama, dengan membaca buku masing-masing. Keduanya membaca materi yang akan keluar saat ujian akhir nanti. Yasmin memang berprestasi, hingga ia merasa sudah menghapal luar kepala apa yang ia baca saat ini.
Sedang di dapur, Dion dan Inora tengah duduk sambil berdiskusi. Sejujurnya, Inora tidak siap mengatakannya pada Yasmin. Dengan membaca kartu keluarga yang ia miliki, nama Marcel Dinata terpampang disana. Harusnya, Marcel Dinata Atmadja. Sayang, Inora tak akan Sudi menyematkan nama belakang ayahnya pada Marcel.
"Jangan menunda lagi. Mereka juga sudah cukup lama belajar. Nanti, aku akan membantumu menjelaskan pada mereka tentang Marcel."
Dion menggenggam erat jemari tangan istrinya yang tampak rapuh.
"Bagaimana caranya aku menjelaskan pada mereka?" Inora menatap suaminya lekat.
__ADS_1
"Ceritakan saja apa adanya, bahwa marcel adalah anakmu." Inora hanya mengangguk dan hanya bisa tersenyum. Entah bagaimana jadinya setalah ini, Inora seperti gamang.
"Baiklah. Ayo kita ke depan." Inora berjalan menuju ke ruang tengah, tempat dimana Aksa dan juga Yasmin berada. Sontak saja Yasmin dan Aksa menutup bukunya dan menyambut kedatangan Dion dan Inora.
"Ibu?" Yasmin menatap ibunya dengan pandangan lembut.
"Maaf jika ibu mengganggu belajar kalian. Hanya saja, ada yang perlu ibu sampaikan pada kalian." Inora duduk di sofa berdampingan dengan Dion. Dion pun tersenyum lembut, sebagai sosok lelaki yang mulai tampak wibawanya.
"Tidak masalah, Bu. Ada apa, Bu? Ibu bahkan kini kelihatannya seperti lain?" ah Aksa yang memang sudah peka, melihat gelagat lain dari kedua mertuanya itu.
"Ini adalah kartu keluarga kita, Yasmin. Ibu harap, kau bisa menerima kakakmu dengan baik nanti." Inora melihat sorot terkejut dari Aksa dan juga putrinya. Bagaimana mungkin ibunya itu menyembunyikan fakta ini dadi Yasmin?
__ADS_1
"Kakak? Katakan pada Yasmin, kakak dari Mana? Toh selama ini ibu tak pernah mengenalkan Yasmin, dan memberi tahu tentang lelaki ini?"
Hening sejenak menyelimuti keduanya. Kini, Inora bisa melewati hal ini.
"Dia kakakmu, Yasmin. Kau tahu, bahkan ibu menyekolahkannya di sekolah asrama anak pria. Ada masalah masa lalu yang cukup besar hingg membuat ibu dan ayah untuk memilih hal itu. Percayalah, orang tua pasti akan memikirkan yang terbaik untuk keselamatan anaknya.
"Ya Tuhan, Lalu, dimana dia sekarang?" Yasmin bertanya dengan tidak sabar. Sejak dulu Yasmin adalah anak tunggal dan sangat merindukan sosok saudara.
"Bulan depan usianya genap dua puluh tahun. Dia akan pulang ke rumah ini, dan dia juga orang cukup supel, mudah bergaul, dan sangat mendamba kehadiran saudari. Ibu harap, kau jangan lupa untuk menerimanya. Kasihan kakakmu, Yasmin, di saat kau kedinginan, dan kupeluk, namun kak Marcel lah menahan hal itu sendirian."
Inora menjelaskan dengan sabar. Begitu juga Aksa yang segera bisa mencerna situasi.
__ADS_1
"Jangan khawatir, sayang. Ini adalah anugerah terindah yang Tuhan punya. Hanya saja, mungkin takdir baru mempertemukan Yasmin dan Marcel saat ini. Mari kita menyambutnya saat ia pulang nanti."
**