Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Rencana matang


__ADS_3

*Entah mengapa, sebanyak apapun kau melukai hati, cinta ini tetap bertengger tak mau pergi.


Mungkin aku bodoh.


Mungkin pula aku buta dan tuli.


Kuharap, kesabaranku bisa membuatmu sadar hingga tak ku putuskan pergi saat kau tak lagi bisa mengerti.


~Hanum Kinara*.


Hari telah merambah malam ketika Hanum mendapati suaminya datang dengan wajah datar. Tak ia temui sama sekali riak emosi apapun pada netra tajam milik Kara.


Sebisa mungkin, Hanum tak ingin membuat mood suaminya memburuk hari ini. Biarlah, Hanum akan memaafkan Kara meski tanpa di minta.


Dalam hati, Hanum bertekad untuk memulai segalanya dengan perjuangan.


Akan Hanum gapai hati suaminya, akan Hanum tanamkan cinta dan memupuknya hingga tumbuh subur. Akan Hanum buat suaminya benar-benar jatuh hati padanya hingga separuh jiwanya, berada dalam genggaman Hanum.


Hanum bertekad......


Hanum yakin.....


Hanum percaya.....


Hanum pasti mampu menaklukkan kekerasan hati kara.


Perlahan namun pasti, Hanum akan mengobati luka hati suaminya akibat perbuatan Dita.


"Mas, kau sudah pulang? Aku akan menyiapkan air dan pakaian untukmu.


Bersihkan dirimu dulu, setelahnya kita makan malam".


Sejujurnya, Hati kara menghangat saat mendapat perhatian-perhatian kecil seperti ini dari seorang wanita.


Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak dalam inti hatinya.


Sesungguhnya.......


Kara sangat terpikat dengan pesona wanita yang telah menjadi istrinya itu, sayangnya......


Egonya terlampau tinggi meski hanya sekedar untuk mengakui.


"Hmmm". Hanya itu yang mampu kara ucapkan.


Ia lantas memainkan gawai ponselnya. Menunggu istrinya mempersiapkan kebutuhannya untuk mandi.


"Aku ingin mandi dengan kau layani, istriku.


Bantu aku menggosok punggungku, Aku ingin kau juga memuaskan ku saat ini juga".


Kara tetiba menghampiri Hanum yang baru keluar dari kamar mandi. Ia mengusap perlahan lengan telanjang istrinya.


Gelenyar aneh namun menuntut di puaskan itu, perlahan merambahi raga mereka berdua.


"Aa aku... tadi telah mm ma...mandi, mas".


Hanum terasa seperti melayang saat Kara menyentuhnya.


"Kau ingin menolakku lagi malam ini, hmmmm?"


Kara berbisik di telinga istrinya dengan nada sensual yang tentunya menggoda.

__ADS_1


"Ti...tidak".


Maka.....


Dengan secepat kilat, Hanum telah Kara seret kekamar mandi.


Kembali mencumbu istrinya dengan Rakus.


Hanum......


Entah bagaimana caranya, bak hujan di padang pasir yang tandus, Bak Makanan terlezat saat lapar mendera, bak ganja yang mencandukan, bak wine yang memabukkan.


Kara hanya tak mengakui saja bahwa pesona Hanum demikian dalam memikat hatinya.


''Hmmm.... Akhh......".


Lenguhan dan desahan nafas mereka saling beradu, hingga Kara mencapai puncak klimaksnya bersamaan dengan istrinya.


Sungguh, ini terasa surga dunia yang demikian mampu membuat seorang takjub.


Tak peduli pada semua keluarganya menunggunya dengan menggerutu tak jelas karna menunggu mereka untuk makan malam.


Hingga usai sesi percintaan mereka, maka mereka segera membersihkan diri dan turun untuk makan malam setelahnya.


Di ruang makan, Aridha pun menunjukkan rasa kesalnya karna menunggu kakaknya.


"Enak sekali kalian, membuatku menunggu terlalu lama untuk makan malam.


Ih bukan, bukan hanya aku.....


Bahkan semua orang menunggu kalian".


Sayangnya, semua ucapan Aridha sama sekali tak membuat Kara terpengaruh.


"Mengapa tak makan duluan?", Kara bertanya datar.


"Tentu nyonya tak akan mengijinkan ku makan terlebih dahulu tanpa Menunggu saudara sialanku itu!".


"Sudah sudah.


Mengapa kalian terus berdebat? Tidak jadi makan?".


Jelita sedikit terganggu dengan tingkah Aridha dan Kara yang saling menyudutkan.


Berbeda dengan Aluna yang lebih cenderung lemah lembut. Sayangnya, Anak itu tinggal di desa bersama opa dan ke dua Oma nya.


Kara tersenyum meledek dan melirik adiknya.


Merasa berhasil membuat adiknya sebal malam ini.


Radhi hanya geleng-geleng kepala menyaksikan perdebatan sengit ini.


"Biarkan saja, ma.


Anak kecil mana tau nikmatnya surga dunia hingga membuat sepasang pengantin baru rela menunda laparnya".


Kara menimpali dengan nada datar.


"Oh ya tuhan, Aku bukan anak kecil Azkara Putra!! Aku telah dewasa, usiaku telah menginjak angka dua puluh tahun.


Dan......

__ADS_1


Untuk apa kau mengumbar hal memalukan seperti itu?!?".


Aridha menggelengkan kepalanya, merasa tak berdaya dengan perkataan kakaknya yang terang-terangan.


Di samping kara tepat, Hanum menundukkan kepalanya, ia tak berani sama sekali meski untuk menatap wajah-wajah keluarga suaminya ini.


"Kara cukup.


Hal seperti itu masih terasa tabu untuk adikmu."


Radhi bersuara. Setelahnya, tak ada lagi perdebatan selama makan malam berlangsung.


Hingga makan malam usai, Radhi mengajak istrinya, putra dan menantunya untuk ke ruang kerja. Ada beberapa hal yang perlu di sampaikan perihal rencana untuk memancing murkanya Wira Atmadja.


Aridha yang merasa tak di butuhkan pun hanya mendesah lelah.


Seringkali, di rumah peran dirinya seperti terabaikan. Ada banyak hal yang tak boleh Aridha ketahui.


"Hanum, Ibu dan kakakmu telah sampai.


Aku meminta untuk sementara waktu, kau jangan keluar dulu.


Mengingat kau tak cukup menguasai ilmu bela diri, ada baiknya kau habiskan waktumu di rumah saja".


Radhi mengawali pembicaraan kali ini.


"Baik, pa".


Hanum menunduk paham.


"Baiklah, Sekarang, pergilah dulu ke kamarnya tau sekedar berbincang dengan Ridha.".


Hanum mengangguk dan berpamit pergi.


"Ada berapa banyak orang yang akan kita bawa serta, pa?"


Kara bertanya.


"Sebagian besar pengawal yang kita miliki.


Sebagian kecilnya, papa memerintahkan untuk berjaga di rumah demi menghindari kemungkinan terburuknya.


Lantas, adakah ide darimu".


"Ya. Aku berencana mengumpankan Dian memancing Wira Atmadja.


Mari kita lihat, seberapa kuatnya mereka melawan kita".


Kara tertawa layaknya iblis mengerikan. Jelita membeku saat mendaki fakta, bahwa Dian berada dalam dalam genggaman Kara.


"Ja... jadi kau....?".


Jelita bertanya tergagap.


"Ya. Dian adalah wanita bayaran yang di sewa Wira Atmadja untuk mengincar kekuasaan Adi Prama dan praja Bekti.


Wira hanya tak tau saja, dengan siapa ia berhadapan.


Aku bahkan bisa jauh lebih picik darinya".


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2