Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
John


__ADS_3

"Aku ingin, nenekmu yang cantik jelita dan rupawan itu, jatuh ke pelukanku. Dan keselamatanmu yang ku jadikan sebagai barternya".


Mata Aksa membola. Dari sekian banyak musuh yang mengincarnya, kebanyakan karena persaingan bisnis yang melatar belakangi nya.


Jika Oma Lita yang pria ini inginkan, sepertinya otak pria ini cukup tak waras. Tidak kah ia tahu bagaimana berbahaya nya Radhi bila pusat dunia nya di incar orang lain?


Aksa bergidik ngeri seketika.


"Oh, bagus. Aku rasa kita bisa bekerja sama untuk saling mendapatkan keuntungan."


Aksa bukan orang bodoh, meski kalimatnya kali ini, ia terkesan menumbalkan sang nenek. Bila sampai Jelita mendengarnya, entah apa yang akan di lakukan wanita itu.


Si Pria jelek itu tentu saja merasa tertarik atas apa yang baru saja Aksa dengar. Dengan pongah dan kurang ajarnya, pria itu mendekati Aksa dan menatapnya penuh minat. Mati-matian Aksa menahan emosinya jauh di dasar hatinya agar tak terbaca oleh pria jelek bertubuh tambun, nan berambut botak di bagian atas itu.


"Apa maksudmu? Kau berusaha mengecoh ku dengan kesepakatan dangkal? Aku tak suka main-main dan jangan coba-coba membodohi ku anak muda. Aku John dan tak mudah di kecoh siapapun".


Tanya pria itu yang mengaku sebagai John. John lantas terkekeh pelan meremehkan apa yah Aksa tawarkan.


"Sebagai orang yang bijak, tentu saja aku tak akan memaksamu untuk mempercayaiku. Kalau kau bersedia, aku akan membantumu melakukan misimi untuk mendapatkan Oma. Tapi kalau tidak, aku tak masalah. Hanya tinggal menunggu waktu untuk singa Praja Bekti datang dan melumatmu tanpa sisa.


Ku pikir, kau tak mengenal papaku dengan baik.


Azkara Putra Praja Bekti."


Aksa mengungkapkannya dengan nada datar dan sama sekali tak merasa terancam. Ia sudah di latih demikian keras oleh Radhi dalam hal menyembunyikan emosi. Instingnya tajam dan ia mudah menjerat lawan ke dalam perangkapnya.

__ADS_1


"Ya ya ya ya.... aku dengar tentang reputasi ayahmu di dunia para organisasi gelap. Tapi itu tetap tak akan mempengaruhi eksistensi ku."


"Ya sudah. Kalau kau memang tak butuh bantuanku, mengapa masih disini?"


"Ini tempat milikku!".


Hardik John terhadap Aksa.


"Aku sama sekali tak mengakuisisi nya".


Aksa menjawab begitu santai dan tenang, sama sekali tak gentar dan tak terintimidasi sedikitpun.


John diam untuk sejenak, mengamati reaksi pemuda yang di menjadi tawanannya. Untuk sesaat, John mengakui betapa tenangnya pemuda yang bernama Aksa ini. Cucu dari wanita pujaannya terlihat tak goyah oleh dahsyatnya badai yang ia ciptakan.


"Kau memang pandai dan sangat cocok menjadi cucu Jelita Ayudya Praja Bekti."


Ucap John sebelum berlalu pergi. Ia perlu memastikan sistem keamanan yang di buatnya untuk tempat ini. Bukannya tidak tau, pria itu tentu tau bahwa keluarga Praja Bekti sangatlah berbahaya. Menyerang dan membuat perkara secara terang-terangan pada mereka, John bahkan sudah tau konsekuensinya. Tapi ia sudah memikirkan hal ini matang-matang. Untuk konsekuensi dan resikonya, John sudah mengatur taktik sedemikian rupa.


Aksa tersenyum kecil, menyadari bahwa pria tua bangka berambut botak bagian atasnya ini, begitu tergila-gila pada Jelita. Bagaimana tidak? Tatapannya melembut ketika bibirnya yang tipis itu menyebut nama Jelita.


**


Waktu telah memasuki dini hari. Seluruh orang-orang setia organisasi yang Radhi bawa ke markas John, kini tengah menuju kesana. Dari segala arah, markas John telah terkepung.


Aridha sudah siap dengan ratusan anak panah di punggungnya, sedang tangannya memegang busur kesayangan yang menjulang kokoh milik Jelita. Sedang Seno, pria itu tengah menyampirkan senjata Laras panjang di brlaknga bahunya.

__ADS_1


Tak henti-hentinya Ridha mengoceh dan mengeluh pada pria yang dulu pernah menjadi sekertaris pribadi kara itu. Udara lembab dan bau apak khas hutan, membuat perutnya mual dan ingin muntah. Seno yang sedari tadi memfokuskan indera penglihatannya, kini di buat kesal oleh kakak iparnya itu.


"Aku tidak tahan dan ingin muntah bila terus seperti ini. Baunya tidak nyaman dan aku ingin muntah.".


Keluh ibu dua anak itu.


"Sabarlah sedikit, kakak ipar. Sedikit lagi kita sampai dan buat kekacauan seperti yang sudah kita rencanakan". Sahut Seno datar.


Setibanya di markas John, Seno segera melepaskan satu tembakan ke udara, memberi tanda akan kehadirannya untuk menantang seluruh orang-orang yang berada di bawah naungan organisasi milik John.


"Keluar kalian semua!! Hadapi aku jika kalian memang jantan. Jangan hanya bermain dengan anak kecil yang tidak tau apapun!!"


Aridha berteriak lantang bak seekor predator betina yang berbahaya. Seno yang memang tau sifat Jelita menurun pada Aridha, tidak kaget lagi.


Beberapa pengawal muncul dari dalam, si susul dengan seorang pria paruh baya yang memakai setelan linen hitam-hitam. Ada aura membunuh yang kuat. Pantas saja penyerangan mereka tak terdeteksi oleh sistem keamanan kediaman keluarga Praja Bekti.


John menatap Aridha yang tak jauh berbeda dengan aura Jelita, sudah bisa menebak tentu saja, bahwa wanita yang baru saja menantangnya itu adalah putri Jelita. Senyum mengerikan penuh misteri, terukir menjijikkan di bibir John.


Apa yang terjadi saat ini, tentu saja tak luput dari apa yang sudah di rencanakannya.


"Selamat datang, tamu kehormatan".


Ucap John dengan suara berat khas bajingan sejati.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2