
"Ya. Aku suamimu sekarang." Dan yasmin merasa dirinya benar-benar ketiban sial. Bagaimana mungkin Aksa mengakui jika sekarang Yasmin bersuamikan dirinya?
"Kau bercanda, ya?" Yasmin mendelik tajam ke arah Aksa. "Tidak tidak. Jangan bercanda dan aku tidak mau menjadi istrimu." sontak saja perkataan Yasmin berhasil membuat semua orang beralih menatapnya.
"Bagaimana bisa kau menolak untuk menjadi istri Aksa, sedangkan saat ini kau sedang hamil?" Jelita bertanya dengan raut wajah kebingungan. Bagaimana mungkin Yasmin menolak menikah dengan Aksa, sementara dirinya hamil begini?
"Katakan, Yasmin! siapa yang menghamili dirimu?" tanya Aksa tak berperasaan. Yasmin hanya bisa menatap judes ke arah Aksa. "Aku tak habis pikir, kau......"
"Aku tak hamil, siapa yang berkata bahwa aku hamil? Aku bahkan tidak pernah dekat dengan lelaki manapun selain dirimu, Aksa. Logikanya saja, aku tak mungkin Hamil jika tidak dengan wanita. Aku hanya pening biasa." Tukas Yasmin yang masih kokoh pada pendiriannya.
"Tapi, tapi kau sejak pagi tadi muntah dan mengeluh mual. Ibu pikir ....." Inora tak melanjutkan kalimatnya, ketika putrinya saat ini menyela kalimatnya.
"Aku hanya masuk angin biasa. Ibu tau? Kemarin bekal makan siangku habis di lahap Aksa dan berakhir aku tak makan hingga nyaris sore. Karena itu penyakit lambungku kumat dan aku tidak bisa mengendalikan sakitnya. Lagi pula mengapa aku tak di periksa dulu saja? Kenapa main ambil keputusan tanpa bertanya padaku? Dan ini lagi, mengapa aku harus dinikahkan dengan Aksa? Tidak, aku tidak mau karena aku tidak siap untuk pernikahan, Bu." Tukas Yasmin dengan raut wajah mengiba.
__ADS_1
"Jad... jadi, Yasmin, kau tak hamil?" Aksa bertanya dengan terkejut.
"Ya, mana mungkin aku hamil? Aku hanya sakit lambung karena kau memakan bekal makan siangku." Imbuh Yasmin kemudian.
"Astaga, bagaimana ini? Tapi ayahmu, tuan Dion telah menyerahkan dirimu sepenuhnya pada Aksa, Yasmin. Kalian sudah sah menjadi suami istri dan ya...... kalian memang sepatutnya sudah bersama."
Arida yang berdiri di samping Radhi, nampak semakin menambah panas suasana. Menurut Arida, ini adalah tontonan paling memacu adrenalin sepanjang hidupnya.
"Ya, mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur dinikahkan juga. Kita tak bis mencabut ikrar janji Aksa begitu saja." Lihat juga, Alex yang kebetulan ikut hadir, semakin membakar suasana agar kian membara.
"Sudah terlanjur juga, Yasmin. Kau dan Aksa sudah menikah dan kalian juga harus tinggal bersama. Maaf, maaf untuk kecerobohan kami semua terhadapmu." Ungkap Jelita sembari memandang ke arah Radhi.
"Astaga.... Maksud nyonya, aku dan Aksa tinggal serumah, seatap, sekamar, dan juga....."
__ADS_1
"Seranjang." Seloroh Aksa menyela kalimat Yasmin yang terhenti secara tiba-tiba.
Maka tanpa pikir panjang, Ariana, Arlan, Arida, Alex dan juga Hesti yang hadir, memukul pundak dan kepala belakang Aksa secara bersamaan.
"Kau ini bicara apa Aksa? Giliran masalah nafsu, kau mengedepankan. Awas saja jika kau berani membuat Yasmin hamil. Kau perlu sekolah tinggi-tinggi dan kau perlu menjaga Yasmin sesuai janjimu pada ayah dan ibu Yasmin tadi." Celetuk Ariana yang kebetulan ikut hadir. Keponakannya yang merupakan anak Kara, benar-benar mulutnya setajam ayahnya, meski pembawaan Aksa sekalem Radhi.
"Baiklah, aku minta maaf. Jadi, aku harus bagaimana?"
Hening, tak ada yang berani lancang menjawab pertanyaan Aksa. Hingga kemudian Radhi bersuara.
"Tinggallah disini barang semalam dan jaga istrimu baik-baik, Aksa. Besok pagi-pagi sekali biar salah satu pengawal yang akan mengantarkan barang-barang untuk sekolahmu." Tukas Radhi kemudian.
Yasmin menatap Aksa tak percaya. Yasmin tak menyangka sebelumnya, ia akan terjebak ikatan pernikahan bersama Aksa yang egois dan suka mengatur hidup orang lain.
__ADS_1
"Ya Tuhan, aku pasrah apa pun harus takdirmu." Yasmin menengadahkan kedua telapak tangannya sembari menahan sakit hatinya yang terasa menusuk. Inilah akhirnya, kebebasan Yasmin tergadai pada Aksa.
**