
Alangkah terkejutnya mereka semua, ketika mendapati Aksa dan Yasmin sedang berpelukan nyaman di atas ranjang. Aksa bertelanjang dada dengan sebelah kakinya yang keluar dari selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Aksa terlentang, membiarkan sebelah tangannya dijadikan banyak oleh Yasmin yang tidur dengan posisi miring menghadap ke arahnya. Selimut yang hanya menutupi sebatas dada nyaris melorot, membuat Yasmin sangat seksi. Sungguh, posisi mereka saat ini sungguh romantis dan membuat semua keluarga besar Praja Bekti yang melihat, tampak syok berat.
"Astaga...... Mas, aku... aku....."
Hanum berbalik dan berlalu begitu saja menjauh dari pintu kamar Aksa. Kara lah yang menutup pintu dan membiarkan anak menantunya menikmati istirahat lelah usia pergulatan panas semalam.
"Ayo kita sarapan dan tinggalkan Aksa. Anak itu masih asik tidur dan mungkin kelelahan." Isyarat mata dari Aksa, membuat semua orang berlalu dari sana. Entah Bagaimana nasib Aksa setelah ini setelah bertemu ayahnya. Bisa dipastikan Aksa akan diomeli habis-habisan oleh si mulut pedas itu.
**
Matahari sudah merangkak naik kian tinggi. Aksa dan Yasmin masih terlihat memejamkan mata. Bahkan tirai jendela kamar Aksa, tak sedikitpun dibuka untuk membiarkan sinar matahari menerobos masuk dalam ruangan.
Aksa merasakan tangannya seolah mati rasa, karena Yasmin terlalu lama menjadikan tangan Aksa sebagai bantal. Sepasang pengantin muda itu telah menyatukan diri semalam, saling menuntut, dan juga saling memberi.
Dengan gerakan pelan, Aksa membuka matanya. Pandangannya mengabur untuk sesaat, sebelum kemudian akhirnya bulu mata lentik putra Azkara itu bergetar samar dan mata terbuka sempurna.
__ADS_1
Kilasan kisah semalam bersama Yasmin, terngiang dalam benak Aksa. Lelaki itu bahkan tersenyum senang dan menatap Yasmin yang masih mendengkur halus.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Aksa perlahan menurunkan kepala Yasmin di atas bantal. Mungkin akibat terlalu lelah, Yasmin tak terusik sama sekali. Aksa lantas bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
Hingga usai mandi, Aksa menuju kembali ke tempat tidur. Ia ingin membangunkan Yasmin, namun tak tega. Terlebih, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Mungkin, keluarga yang lain sudah selesai sarapan.
"Yas.... Hei.... bangun. Hari sudah siang."
Aksa mengusap pelan pipi Yasmin. Yang di usap justru semakin mendesakkan kepalanya ke tangan Aksa. Aksa terkekeh pelan. Bisa dipastikan, Aksa sebentar lagi akan di marahi Yasmin habis-habisan. Maklum saja, Yasmin berlagak tak menyukai Aksa, tapi mendamba sentuhan Aksa. Dasar wanita, maha benar wanita dengan segala omelannya.
Berhasil. Meski tak sadar sepenuhnya, namun Yasmin berusaha untuk membuka matanya. Dan wanita itu berjingkat ketika ia dapati wajah Aksa yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Oh astaga, apa ini? Mengapa ada disini?" Yasmin berusaha menjauh. Sayangnya, selimut yang menutupi sebatas dada, melorot hingga menampakkan sebagian besar dua bola kembar di dada Yasmin.
"Sudah nyaris pukul sebelas siang. Papa dan mamaku sudah datang dan menunggu kita di bawah. Ayo bangun."
Yasmin malu kelewat malu.
__ADS_1
"Aku tunggu. Jangan lebih dari tiga puluh menit. Kau ini menantu di rumah ini. Harusnya kau rajin dan membantu mertuamu menyiapkan makan keluarga."
Bukannya segan lagi. Tapi Yasmin saat ini justru bersungut tak suka dengan cara Aksa yang suka seenaknya sendiri jika bicara.
"Ya ya ya, aku akan mandi dan kau menyingkirlah. Tanpa kata, Aksa menyingkir dan tersenyum simpul Lelaki itu perlu mengintip laptopnya sebentar.
Sejurus kemudian, Aksa lantas berbalik dan menatap Yasmin yang ribut memakai selimutnya hingga tiba di kamar mandi.
"Apa kita akan mengulangi malam panas semalam dulu, agar kau berubah baik padaku?" tanya Aksa dengan wajah yang menjengkelkan bagi Yasmin.
"Sialan kau Aksa!"
Yasmin mendengus, memalingkan wajahnya yang merona karena malu.
"Perlukah mengulang? Jika kita perlu mengulangi, aku tak keberatan saat ini juga."
**
__ADS_1