
Malam bersambut bintang ketika pesta di kediaman Seno dan Luna baru akan di mulai.
Dengan mengusung tema rose gold, penampilan semua anggota keluarga Praja Bekti demikian semakin menawan. Dan jangan lupa penampilan pemilik acara yang paling menonjol malam ini.
Di pintu masuk acara, Aksa demikian kokoh melangkah bersama Yasmin yang menggelayut manja padanya. Gadis bertubuh ideal itu, demikian pintar memainkan drama.
Aksa Gavin Praja Bekti.
Pria kebanggaan Praja Bekti itu, memiliki garis wajah yang hampir mirip dengan Hanum, postur tubuh seperti Kara, dan watak serta pembawaan kalem seperti Radhi.
Langkah Aksa dan Yasmin menuju pada tempat dimana Seno dan Luna berada. Semua tatap mata tertuju pada mereka.
Gaun sebatas lutut yang di kenakan Yasmin, nampak serasi dengan jas dan kemeja yang Aksa kenakan. Begitu juga dengan make up yang menempel sempurna pada wajah Yasmin. Meski usia Aksa belum genap delapan belas tahun, namun posturnya nampak seperti pemuda yang berusia pertengahan dua puluhan.
"Selamat malam Oma, opa..... Tante Luna dan om Seno.....Selamat untuk anniversary kalian di tahun ini".
Ungkap Aksa tulus. Dirinya lantas menyenggol Yasmin dengan pelan, seolah memberi isyarat bahwa Yasmin perlu juga untuk mengucap salam. Tak lupa, Yasmin segera menyerahkan sebuah kotak hadiah yang sudah Aksa persiapkan.
"Oh terimakasih, nak. Kau nampak semakin tampan di usiamu yang beranjak dewasa.
Dan..... ini.....?"
Luna mengangkat sebelah alisnya, sebagai isyarat bahwa ia menunggu penjelasan dari Aksa, mengenai sosok gadis remaja yang demikian anggun menggelayut mesra lengan keponakannya itu.
Sebelumnya, Luna memang pernah melihat Aksa membawa Aksa membawa Yasmin. Tapi Luna tak tau akan se-sering ini.
Sepertinya, apa yang Aridha tuduhkan tidak benar adanya.
"Sebelumnya, aku sudah menjelaskan statusnya dan posisi nya di hatiku. Apa aku harus mengulanginya lagi?"
"Ya, dia kekasihmu. Dan, sangat cantik."
"Terima kasih, nyonya....."
Yasmin menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Jangan, jangan panggil aku nyonya. Panggil aku Luna".
Pinta wanita lemah lembut istri dari Seno ini.
__ADS_1
Di samping Luna, Seno tersenyum tipis menyambut keduanya. Sikap dan bawaan Aksa dengan Kara benar-benar berbeda. Bila kara memiliki karakter dominan dan seringkali bersikap sinis, berbeda dengan Aksa.
Cucu kebanggaan Radhi ini sangat santun dan memiliki pembawaan tenang, namun siapa sangka mampu menghanyutkan lawannya di balik ketenangan sikap yang dia miliki.
"Baik, Tante. Tante cantik sekali, selamat untuk Tante dan.....".
Tatapan mata Yasmin beralih pada Seno di samping Luna.
"Om Seno".
"Terima kasih. Silahkan nikmati pesta malam ini.
Akan ada pesta dansa di penghujung acara. Semoga kalian ikut andil mengisi acara dansa nanti".
Tukas Seno sebagai jawaban.
"Sepertinya seru. Aku sudah lama tak pernah menggerakkan tubuhku".
Ucap Aksa yang di sambut tawa ringan dari mereka semua.
Radhi mengamati interaksi mereka dengan perasaan penuh was-was. Meski usianya semakin menua dan kini tak lagi muda, namun instingnya sedikitpun tak berkurang. Justru semakin usianya beranjak senja, semakin tajam pula intuisinya yang semakin terasah.
Hanya saja, selama ini intuisinya tak pernah salah kan?
Hingga acara di mulai, gemerlap lampu dan pesta berlangsung dengan sangat meriah. Hanya kara dan Hanum yang tak ikut serta karena mereka ada perjalanan ke Australia saat ini.
Acara pesta tiba pada sesi dansa, dan semua sudah bersiap dengan pasangan masing-masing, termasuk Aksa dan Yasmin. Selama cara berlangsung, tak sedikit pun Aksa melepas Yasmin. Bahkan, ketika Yasmin hendak ke toilet, Aksa ikut mendampingi dan hanya menunggu di depan pintu utama Toilet.
Entah mengapa, Aksa merasa ada hal tak beres di pesta ini.
Dan saat pembawa acara mengumumkan bahwa tiba lah saatnya sesi dansa, semua turun ke lantai dasar untuk mengikuti acara. Para tamu undangan yang hadir, nampak terlihat berkelas dengan gaun dan setelan yang melekat pada tubuh mereka.
Tak mau ketinggalan, Aksa menggenggam jemari Yasmin dan menyeretnya dengan perlahan menuju lantai dasar Tanpa mengabaikan desisan Yasmin yang setengah gusar itu.
"Hentikan, Aksa. Aku tidak bisa berdansa. Jangan macam-macam dan jangan membuat dirimu malu karena berdansa dengan wanita kaku sepertiku".
"Ikuti saja aku. aku akan mengajarimu, nanti."
"Aku tidak mau. Antar aku pulang saja".
__ADS_1
"Acara belum usai. Jangan macam-macam."
Aksa menatapnya tajam tanpa menghentikan langkahnya.
"Tapi......."
"Aku tidak menerima alsan apapun. Semua keluhan mu, aku sudah memberi solusi. Jadi jangan membantahku, karena aku tidak Sudi kau bantah".
Kalimat panjang Aksa, nyatanya mampu membungkam bibir Yasmin yang terasa Tremor. Yasmin seperti ingin meledak saat ini juga, meluapkan amarahnya pada Aksa, namun ia tak mampu.
Tubuhnya seolah kontra dengan hati dan otaknya.
Yasmin serasa ingin menghilangkan dirinya saat ini juga.
Setibanya di lantai dasar, Aksa segera memposisikan dirinya berhadapan dengan Yasmin. Pria yang belum genap berusia delapan belas tahun itu, meletakkan lengan Yasmin pada bahunya. Sedang lengannya yang lain, Aksa kaitkan dengan jemarinya . Tangan kiri Aksa lantas merengkuh pinggang Yasmin yang nampak langsing.
Sungguh, berada dalam posisi seperti ini, membuat Yasmin maupun Aksa merasakan jantungnya berdegub kencang bak hentakan kaki kuda yang sedang terpacu lari.
Yasmin menegang, gerakannya terlihat kaku dan tentu saja, Aksa merasakannya dengan sangat jelas.
"Aksa, aku... aku tidak bisa".
"Santai saja. Kau pemain drama yang hebat, kan?"
"Tapi...... aku tidak bisa mengim............"
Belum sempat Yasmin menyelesaikan kalimatnya, beberapa orang dengan setelan hitam-hitam muncul dari belakang Aksa dan mendorong Yasmin hingga tersungkur di lantai.
Sedang Aksa, cucu kebanggaan Radhi dan Jelita itu, tengah di pasangi tutup kepala secara paksa oleh segerombolan orang itu.
Sejenak, semua bungkam dan fokus mereka teralihkan pada Aksa yang di bawa paksa dengan gerakan gesit.
Meski Aksa meronta dan berusaha melepaskan diri, nyatanya ia di kepung dan kekuatannya terbatas karena ia seorang diri.
Naasnya, Jelita dan Radhi sedang dalam posisi jauh dari Aksa.
Dan di saat yang bersama, suara pistol yang mengarah ke udara, terdengar meletus dari tangan salah satu pemakai setelan hitam-hitam itu.
Kejadiannya begitu cepat, hingga saat Radhi berlari dan berusaha mengejar, Aksa telah di bawa kabur oleh sang musuh.
__ADS_1
🍁🍁🍁