
Siang hari ini demikian terik. Suasana sekolah tempat Aksa menuntut ilmu, demikian ramai karena jam belajar para siswa-siswi telah usai. Aksa berjalan ringan dengan di ekori Tomy dan Rafa yang sedang mendekap erat sekotak biskuit.
Setibanya di tempat parkir, Yasmin sudah menunggunya dengan wajah judesnya. Entah apa yang Aksa rencanakan lagi kali ini.
Saat jam istirahat tadi, Aksa memaksa Yasmin untuk menunggunya di mobilnya.
Dengan di sertai ancaman-ancaman menakutkan bagi Yasmin, tentunya.
Tomy sampai menganga ketika melihat sosok Yasmin yang biasanya judes dan sulit di dekati, kini telah mampu Aksa taklukkan.
Tak di ragukan lagi, Aksa memang memiliki pesona mematikan yang sulit untuk di tolak begitu saja, begitu pikir Tomy dan Rafa.
Dengan langkah tegap, Aksa melangkah pasti menuju kemudi mobilnya. Mengabaikan dua kawan dekatnya yang masih melongo tak percaya akan keberadaan Yasmin.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana?".
Tegas Aksa tanpa menoleh ke arah Yasmin, ketika dirinya telah berada di belakang kemudi dan Yasmin masih berdiri di depan pintu mobil Aksa.
"Aa....aku... aku tak bisa membuka pintu mobilmu. Kau pikir aku orang kaya yang sederajad denganmu?
Aku hanya orang miskin, kalau kau lupa itu".
Yasmin lantas melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya di palingkan ke arah lain untuk menutupi kegugupannya. Ia jadi salah tingkah sendiri. Beruntung Yasmin bisa menutupi kegugupannya dengan kejudesan yang menjadi khas nya.
Aksa tersenyum tipis. Dirinya lupa akan hal itu.
"Maaf, aku lupa".
Terkesiap..... tentu Yasmin terkesiap ketika Aksa meminta maaf padanya. Yasmin pikir, Aksa adalah pria yang dingin mengingat bagaimana minimnya ekspresi seorang Aksa Gavin.
Yasmin hanya belum mengenal lebih dekat saja bagaimana sifat asli Aksa yang di turunkan dari opa nya, Radhi.
Dengan gerakan gesit, Aksa lantas membuka pintu mobil di sebelahnya, dari dalam mobil.
Yasmin sampai mengerjapkan mata beberapa kali seolah tak percaya dan terasa linglung. Mengabaikan banyak mata siswi yang menatap nya garang, karena Yasmin kini tengah dekat dengan seorang Aksa.
"Apa lagi?"
Tanya Aksa dengan mengangkat sebelah alisnya.
Tanpa kata, Yasmin segara masuk ke dalam mobil Aksa dengan gerakan canggung. Tak sekalipun Yasmin berani menatap mata Aksa setelah itu.
Mobil Aksa melesat membelah jalanan ibu kota, menuju sebuah butik ternama langganan Hanum, mamanya. Bila Aksa menuju butik dan salon mik Oma nya, Jelita...... tentu saja nanti Oma nya itu akan menodong Aksa dengan banyak pertanyaan.
Tidak!!
__ADS_1
Aksa malas untuk berdebat dengan Jelita, karna tentu saja, akan berujung pada Aksa yang di ceramahi Jelita habis-habisan nantinya.
"Ingat, Yasmin. Kau harus menebalkan telingamu saat Tante ku yang jahil itu meledek atau menyinggung hubungan kita. Juga harus menjawab tenang bila nanti keluarga ku mencerca mu dengan banyak pertanyaan.
Dan jangan lupa lagi satu poin penting ketika berada di luar rumahku, kau harus menghalau banyak gadis yang mencoba mendekatiku".
Aksa berkata santai.
"Hei...... Kau pikir aku ini bodyguard mu? Kau orang kaya. Kau bis akan menyewa pengawal untuk melindungi mu?".
Jawab Yasmin dengan nada sarkas.
"Tapi aku ingin seorang gadis yang melindungiku".
"Kau sungguh konyol tuan muda Praja Bekti!!".
"Terserah. Lakukan itu atau kau akan mendapat masalah nanti".
Yasmin diam dan mengerucutkan bibirnya karena sebal.
Aksa tersenyum tipis.
Sejujurnya, Aksa tak ingin melakukan ancaman receh terhadap gadis seperti Yasmin. Tapi tak ada gadis lain selain Jasmin yang memiliki kejudesan yang mampu di takuti banyak gadis di luaran sana.
Senyum tipis Aksa terulas ketika Yasmin tak menjawab kalimatnya. Sesuatu yang Aksa yakini, tentu Yasmin saat ini sangat jengkel padanya setengah mati.
"Ayo masuk. Pilih gaun yang pantas di tubuhmu. Jangan pakaian yang terlalu berani dan lebih baik tertutup saja.".
"Hmmm".
Mereka lantas masuk beriringan menuju pintu butik.
Mata Aksa membola ketika mendapati mamanya dan adiknya, Kinara juga ada di sana.
Belum sempat membalikkan badan, tiba-tiba suara melengking Nara sudah memanggilnya dengan erat.
"Mas Aksa......."
Sontak saja Hanum yang tadinya fokus mengamati tiap detil gaun yang hendak di belinya, mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk.
Dengan tenang, Aksa melangkah menuju mamanya, di ikuti Yasmin di belakangnya.
"Nara....".
Kinara lantas memeluk Aksa sekilas. Netra matanya yang tajam dan tegas seperti Kara, seolah menguliti Yasmin kala itu. Sedang Aksa kemudian memeluk sekilas mamanya.
__ADS_1
"Siapa?".
Tanya Nara. Hanum hanya mengamati saja dan menunggu putranya memperkenalkan gadis yang memakai seragam sekolah yang sama dengan Aksa.
"Ma.... perkenalkan..... ini Yasmin Arumi Razeeta........
Panggil saja Yasmin."
"Yasmin, Tante."
"Panggil saja Tante Hanum".
"Aku Kinara.... panggil saja Nara".
"Yasmin".
"Siapa mu, mas Aksa?"
Tanya Nara tiba-tiba.
"Katakanlah...... dia kekasihku".
**
Yasmin kini akhirnya bisa bernafas lega ketika ia telah tiba di dalam mobil Aksa. Meletakkan paperbag yang tadi di bawanya dari butik, Yasmin lantas menghembuskan nafas kasar setelah menjalankan drama kepura-puraan menjadi kekasih Aksa.
Aksa hanya diam dan mengamati reaksi Yasmin yang rupanya, mampu memainkan perannya dengan baik.
Aksa hanya khawatir nanti Aridha, tantenya yang bermulut pedas itu, akan curiga dan membongkar kebohongannya.
"Kau mau makan siang di mana?"
Tanya Aksa tiba-tiba ketika mobilnya melaju perlahan meninggalkan butik.
"Terserah kau saja".
Aksa lantas menginjak pedal gasnya lebih kencang. Mobil melaju menuju sebuah cafe yang tak jauh dari rumah Yasmin. Yasmin gelisah. Takut-takut jika nanti orang tua atau tetangganya memergokinya tengah bersama seorang pria.
Setibanya di dalam cafe, entah mengapa Aksa merasa kewaspadaannya meningkat dengan cepat.
Di sudut cafe, seseorang tengah menempelkan telepon pintarnya pada telinganya.
"Sudah ku awasi sesuai dengan perintahmu. Perlukah aku menyerangnya, sekarang?"
"Cukup awasi saja dulu. Waktunya kurang tepat".
__ADS_1
"Baiklah".
🍁🍁🍁