Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Gadis milik siapa?


__ADS_3

Malam bertaburkan bintang, berhiaskan rembulan yang menggelayut manja di sudut langit yang indah.


Namun tak demikian indah bagi Azkara yang saat ini duduk di dekat papanya.


"Katakan pada ibu Hanum bahwa kita akan kesana seminggu lagi, Kara"


"Secepat itukah, pa?".


Kara memutar bola matanya malas.


Ia menampakkan seolah-olah enggan di percepat acara lamarannya.


"Kau ingin papa membatalkan lamaran ini dan


membiarkan Hanum di miliki orang lain?".


Radhi bertanya semata hanya untuk mengetahui emosi putranya terhadap Hanum.


Dan saat itulah, Radhi menangkap ketidak nyamanan Kara. Tentu Radhi tau Kara menyembunyikan perasannya.


Diam-diam, Radhi mencemooh sifat putranya yang terbilang kurang gentle.


"Lakukan apapun yang terbaik menurut papa".


Bukan menyerah ataupun kalah, Kara hanya tak mau Radhi benar-benar membatalkan lamaran ini.


Di saat yang bersamaan, Ponsel kara berdering.


Nama Seno terpampang di sana.


"Kawan lama ku menghubungiku, pa. Aku tak bisa bergabung terlalu lama di Sini.


Maaf, aku juga harus menghubungi Hanum dan berbicara sedikit pada ibunya".


Pamit Kara, tentu jelita dan Radhi mengijinkan.


Kara berlalu dari ruang ruang tamu. Menyisakan Arlan dan calon istrimu, Dian.


Sedang adik-adiknya masih duduk di sana, sesekali Meeka bercanda riang dan menggoda kakaknya Arlan.


Maklum, usia Arlan yang telah melewati angka tiga puluh tahun, membuat Hal itu menjadi bahan ejekan Aridha dan Aluna.


Setibanya di kamar,Kara menghubungi kembali Seno. Meminta bantuannya untuk mengurus beberapa hal. Entahlah, tak ada yang tau apa yang kara rencanakan.


Yang jelas, tentu Kara akan menikahi Hanum secepatnya.


Usai menghubungi Seno, Kara segera menghubungi Hanum.


Hanum yang telah menunggu panggilan darinya, dengan hati berdebar penuh rasa.


"Halo, Hanum. Maaf aku baru bisa menghubungimu".


"Tak masalah, mas. Aku tau kau sibuk. Sudahlah makan malam?".


Perhatian Hanum ini, tak urung membuat kara tersentuh. Selama ini, tak pernah satupun wanita-wanita yang di kencaninya memberi perhatian lebih.


Yang mereka incar dari Kara hanyalah seputar materi, tidak lebih. Sedang kara membutuhkan mereka juga hanya untuk memuaskan hasrat kelelakiannya semata. tidak lebih.


"Apa ibumu ada? Bukankah tadi, ingin berbicara sedikit denganku?".


"Ada, tunggu sebentar".


Tak menunggu lama, suara wanita paruh baya mengalun lembut di telinga Kara. Membuat Kara semakin salah tingkah di buatnya.


"Hallo, selamat malam, nak".


"Oh, selamat malam ibu. Apa kabar?".


Kara bertanya sekedar basa-basi.


Beruntung ini hanyalah percakapan di telepon. Tak dapat Kara bayangkan andai saat ini, mereka berbicara tatap wajah. Tentu Kara meraskan gugup luar biasa.


"Baik. Semoga kau di sana juga baik-baik saja."


"Terima kasih, Bu".

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, kau kekasih Hanum, Kara bukan?".


"Ya, aku Kara.".


"Hanum banyak bercerita pada ibu tentangmu.


Bila kau benar-benar serius mempersunting Hanum, Ibu menunggu mu untuk memintanya secara langsung pada ibu".


Kara seperti mendapat angin segar saat mendengar pernyataan ibu Hanum.


Ada rasa bahagia yang entah sejak kapan mengisi hatinya


"Oh itu...... Seminggu lagi aku dan kedua orang tuaku akan mengunjungi ibu di sana. Biarlah Hanum di sana dulu menungguku. Masalah pekerjaannya, papa telah memberikannya ijin.".


"Tapi, nak.... Hanum putri bungsu ibu yang tak memiliki apapun. Keluarga kami..... adalah keluarga yang sederhana.


Yakinkan dengan keputusanmu sebelum kau menyesalinya".


Suara renta di seberang sana terdengar bergetar.


"Tak masalah, Bu. papaku sangat menyukai Hanum untuk di jadikan menantu.


Cinta tidak memandang status sosial, bukan?".


Wajah Hanum yang duduk di sebelah ibu nya, mendadak merona.


"Terima kasih, terima kasih telah mencintai Hanum".


*******


Di waktu yang sama, ditempat yang berbeda....


Seorang wanita merasakan remuk redam pada tubuhnya.


Pakaian yang sejak tadi ia kenakan, tak lagi berbentuk dan terserak ke lantai.


Tangisnya terdengar lirih.


Tubuhnya hanya berlindung di balik selimut.


Mengenaskan......


Bahu mulus miliknya yang telanjang, membuat pria yang berada di di sampingnya ini selau tergugah birahinya. Kelelakiannya selalu bangkit saat kecupan-kecupan kecil bertubi-tubi ia layangkan pada kulit Si wanita.


"Kau benar-benar wanita hebat, Dita.


Aku tak menyangka, Kau mampu membuatku puas".


Alex tertawa sinis.


"Ba... ba bajingan ka....kau Alex."


Suara Dita bercampur Isak tangis. Tangan Dita gemetar hebat. Keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuhnya.


Kepedihan tentu menjalari tiap sudut hatinya.


Dita......


Wanita ini bagaikan seonggok daging tak berharga di mata Alex.


Alex benar-benar menganggap Dita sebagai jalang sejati.


"Ha ha ha ha ...... "


Alex tertawa sinis.


"Kau tak sepenuhnya salah. Aku memang bajingan. beruntunglah kau karna malam ini, kak Daniel sedang ada janji makan malam dengan rekan kerjanya, bila tidak.......


Kau sudah lebih hancur dari saat ini di tangan kakak tiriku itu."


"Ka..... kakak tiri?".


Dita bergumam seperti orang bodoh.


"Kau terkejut, sayang?".

__ADS_1


Dita sama sekali tak menjawab. Di saat yang bersamaan, Pintu kamar di ketuk pelayan.


Alex bergegas memakai piyama nya dan membuka pintu.


Dita hanyut dalam tangisnya. Sungguh, keberuntungan selama ini seperti semakin menjauhi Dita.


Belum lama Dita melamun, Alex telah melemparinya dengan dress wanita.


Sungguh, Dita benar-benar telah di perlakukan layaknya wanita lacur oleh calon suaminya.


Miris sekali bukan?


"Pakai ini karna aku tak mau orang tuamu berprasangka buruk terhadapku.


Dan ingat!!


Aku tak mau kau mengumbar bekas percintaan kita pada siapapun. Atau kau akan menyaksikan video percintaan panas kita sembilan tahun lalu, menyebar se Antero jagad raya.".


Tegas Alex sebelum dirinya berlalu pergi ke kamar mandi.


Selama Alex berada di kamar mandi, Dita masih mematung di tempatnya. ia raih tas yang tadi Alex lempar ke lantai. Memungutnya dan mencari ponselnya untuk melihat foto seseorang.


Setelah membuka ponselnya, Dita segera mencari foto seseorang, seorang gadis yang ia lahirkan delapan tahun yang lalu.


Gadis kecil yang sengaja Chandra asingkan di suatu tempat, Dimana hanya Chandra, Dewi dan Dita yang tau. Bahkan Radhi pun tak tau.


Gadis kecil yang menjadi aib bagi keluarga Adi Prama.


Gadis kecil yang Chandra sembunyikan karna hasil dari perkosaan.


Gadis kecil yang sampai kini, Dita tak tau siapa ayahnya.


Gadis kecil tak berdosa yang telah


Daniel kah? Atau kah Alex?


Dita memucat.


Dulu, Dita berpikir bahwa Alex dan Daniel saudara kandung, yang terlahir dari rahim yang sama. Namun, pernyataan Alex baru saja, membuat Dita tertekan setengah mati.


Lantas, bayi mungil nan cantik yang Dita lahirkan delapan tahun yang lalu, Berasal dari benih siapa?


Gadis milik siapa?


Haruskah Dita membicarakannya pada Dewi dan Chandra, bahwa pelaku nya adalah Daniel dan Alex?


Namun, bagaimana bila Alex menyebarkan video mesum dirinya?


Dita ingin mari saja saat itu juga.


🍁🌻🌻🌻🍁


Yang penasaran Ama visualnya bos Kara, nih ya .....




Nah, kalau buat Hanum Kinara, ini ya.....


Rambutnya ngga hitam legam kayak rambutnya si bos Kara.


Karna Hanum ini blasteran indo-Latin gitu.


Kan bapaknya itu Darrel.


Yang baca LUKA DI BALIK JELITA pasti tau penggalan kisahnya Darrel dan Liana, ibunya Hanum.



Makasih semua yang udah dukung.....


Aku tanpa kalian bukanlah apa-apa..


Thanks buat semua yang udah dukung. Terutama kakak Elika Ginanjar......

__ADS_1


Peluk cium buat dirimu😘😘


❀️❀️❀️❀️


__ADS_2