
Berkali-kali si pengawal Aksa menghubungi Aksa, namun tak satupun panggilan yang dijawab oleh Aksa. berkali-kali juga si pengawal mengirimi pesan Aksa, namun tak ada satupun yang dibalas. Di saat sedang genting begini, pengawal merasa putus asa dan memilih jalan untuk menghubungi jelita, si nyonya besar.
Tepat pada deringan ketiga, Jelita mengangkat panggilan dan menyapa pengawalnya. "Ya, ada apa, Jo?" tanyanya dengan suar datar seperti biasanya.
"Gawat, nyonya. Saya mendapati nona Yasmin pingsan dan wajahnya memucat. Tuan muda Aksa tak menjawab telepon saya sekedar untuk memberi tahu." ungkap pengawal dengan panik. Lelaki bernama Jo itu juga sudah mengamankan ATM card dan juga tas yasmin. Beruntung lelaki itu sigap dan bisa diandalkan.
"Apa? Pingsan? Lalu? Dimana **kau s**ekarang?"
"Saya sedang ada di sebuah minimarket di jalan XXX, nyonya."
"Baiklah, tunggu aku. Aku akan segera menyusulmu dan kita antar Yasmin bersama."
"Baik, nyonya." Panggilan di matikan sepihak oleh Jelita. wanita itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir meski Yasmin bukanlah cucunya, ataupun anaknya. Maklum, Aksa seolah bahagia jika bersama Yasmin.
Setelah cukup lama menunggu, Jelita tiba bersama beberapa anak buahnya yang selalu menempel padanya. Jelita juga tak segan memerintah pengawal yang ia panggil sebagai Jo tadi, untuk membawa Yasmin masuk ke dalam mobilnya.
Setibanya di rumah Yasmin, Inora yang tengah menyiangi sayuran yang hendak dimasaknya, terkejut begitu mendapati nyonya besar Praja Bekti datang membawa Yasmin yang tak sadarkan diri. Tentu Inora terkejut bukan main.
"Nyonya, apa yang terjadi dengan Yasmin?" Ungkapnya sembari menerima tas Yasmin yang Jelita ulurkan padanya. Sementara Jo, lelaki bertubuh kekar dan tinggi itu menggendong Yasmin dan membawanya masuk ke dalam rumah atas perintah Jelita.
"Aku akan jelaskan sebentar lagi."
Duduklah Inora dan Jelita. Inora bingung hendak berkata apa, sementara ia terlalu khawatir dengan Yasmin yang tiba-tiba pingsan dan Yasmin tak pernah pingsan sebelumnya. Memang, pagi tadi Yasmin sempat mengeluh kelelahan dan juga wajahnya pucat. Tapi Inora tak pernah menyangka Yasmin akan pingsan.
"Pengawal Aksa, tiba-tiba mendapati Yasmin terjungkal dan pingsan di dalam minimarket. Sepertinya putrimu kelelahan, atau dia sedang sakit?" Jelita menjelaskan secara gamblang.
"Jadi, Yasmin pingsan? Tadi pagi juga yasmin enggan makan dan mengeluh sedikit mual dan ingin muntah. Saya sudah menyarankan untuk tidak pergi ke sekolah sementara waktu, tetapi agaknya dia masih kuat dan tetap ke sekolah. Wajahnya juga, agak pucat."
__ADS_1
Inora sedikit panik, ketika mengaitkan kejadian pagi tadi saat Yasmin mengeluh masuk angin dan tak enak badan.
"Gejalanya seperti......." Jelita menegang di tempatnya.
"Ap... apa putriku, hamil, nyonya." Kini, hanya Inora dan Jelita yang memucat. Sejak kedatangan Jelita tadi, Jelita memasang raut wajah datarnya seperti biasa.
"Ya tuhan, tapi aku perhatikan Yasmin telah lama menjalin kasih bersama Aksa. Aksa mengatakan padaku bahwa berhubungan dengan Yasmin beberapa bulan lalu."
Inora serasa tubuhnya nyaris ambruk karena tak punya tenaga tersebab syok. Entah bagaimana nasib Yasmin setelah ini. Putri semata wayangnya itu pasti akan kehilangan masa depan cerahnya karena harus mengasuh bayi di usia muda.
Dan lagi, Inora sebenarnya enggan untuk berurusan dengan keluarga Praja Bekti. Inora dan Dion sudah mewanti-wanti hal ini.
"Baiklah, Inora. Maaf untuk kesalahan cucuku. Aku pamit pulang saja dulu, dan aku akan menjenguk Yasmin malam nanti bersama suamiku dan Aksa." Jelita sudah menahan amarahnya kali ini. Awas saja. Setelah ini, akan Jelita pastikan bahwa Aksa akan mendapat ganjarannya.
"Tet-terima masih, nyonya." Apa lagi yang bisa Inora katakan selain terima kasih? Sepertinya, memang Inora harus menyaksikan putrinya terjerumus dalam kemalangan.
Beranjak ke kamar, Inora menunggui Yasmin dan ingin sekali bicara dengan putrinya. Sebotol mini minyak angin, Inora oleskan ke kening putrinya. Satu lenguhan, Yasmin loloskan dari bibirnya. Putri Inora sudah sadar.
"Yasmin, kau sudah sadar, sayang?" Inora sangat terpukul meski hanya sekedar membayangkan, saat ini Yasmin benar-benar hamil. Untuk menolak Aksa, Inora yakin Yasmin sudah melakukannya, namun tidak mampu.
"Apa yang kau rasakan sekarang?"
"Kepalaku pening, Bu." Yasmin mendesis lirih sembari memegangi pelipisnya yang terasa berat. Memang, sejak pagi Yasmin merasakan dirinya seperti masuk angin.
"Sepertinya aku masuk angin."
"Istirahatlah sebentar, kemudian bersihkan diri dan istirahat lagi. Tak usah membantu ibu memasak untuk makan malam. Ibu akan masak sendiri." Ungkap Inora sembari mengusap puncak kepala Yasmin. "Ngomong-ngomong, kenapa kau tadi pingsan?"
__ADS_1
"Aku...." Yasmin menunduk dan bingung mau menjawab apa. Gadis itu mencari alasan untuk menutupi alasannya yang pingsan akibat dua ratus juta yang Aksa berikan. Tak mungkin juga bila Yasmin jujur bahwa ia mendapatkan uang dari Aksa.
Terdiam cukup lama, membuat Inora semakin salah paham dan mengira Yasmin memang takut mengatakan bahwa putrinya telah terlambat datang bulan.
"Tidak perlu menjawab jika tidak bersedia. Ibu ke belakang dulu. Minum teh hangatnya dulu sebelum ke kamar mandi." Inora berlalu pergi, meninggalkan Yasmin dalam kamar dan membawa kesalah pahaman seiring air matanya yang tanpa terasa mengalir.
Hingga kemudian Dion datang dengan membawa oleh-oleh sepulang kerja untuk Yasmin dan juga Inora, Dion mendadak terpaku saat melihat mata sembab istrinya.
"Nora.... apa yang terjadi?" Tanya Dion sembari meletakkan box martabak keju kesukaan Yasmin.
"Dion, putri kita... Yasmin..... Yasmin......." Suara Inora parau akibat ia menangis sejak tadi.
"Apa yang terjadi, katakan, katakan apa yang terjadi pada putri kita?" Dion mendesak Inora dengan tidak sabaran. Lelaki itu juga menaruh sembarangan tas kerjanya.
"Kau ingat apa yang tadi Yasmin alami menjelang berangkat sekolah? Dia mual, nyaris muntah dan juga wajahnya pucat." ungkap Inora sambil bibirnya terus terisak.
"Ya, aku ingat. Apa sakitnya semakin parah?"
"Tidak." Inora menggelengkan kepalanya. "Tadi Yasmin pingsan dan diantar oleh nyonya Jelita. Aku rasa, Yasmin hamil sekarang."
"APA?" Dion syok mendengar kabar ini. Jadi, Yasmin dan Aksa sudah berbuat hal sejauh itu dengan melewati batasan mereka?
**
Harap sabar menunggu update selanjutnya. Istia sedang kejar-kejaran ngetiknya.
Terima kasih buat semua. sampai jumpa di part selanjutnya....
__ADS_1