Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Kehilangan selera


__ADS_3

"Apa yang kau minta?"


"Aku ingin beri dia pelajaran. Kau sanggup mewujudkannya?"


Pernyataan Yasmin, terucap lirih, menyapu daun telinga Aksa hingga Aksa merasa geli sendiri.


"Pelajaran apa, Yasmin? Jangan mengada-ngada. aku rasa kau ini hanya sekedar cemburu buta. Bagaimana jika Hana benar menarik minatku? Lantas, bagaimana jika tidak demikian kenyataannya."


Yasmin bingung harus menjawab. Wanita muda tak memiliki bukti nyata akan apa yang ia lihat, hanya saja, Hana memang menatapnya tak suka meski ia dan Hana sendiri tak saling mengenal satu sama lain.


Lama Yasmin tak bisa menjawab, membuat Aksa hanya terkekeh renyah dan mengira Yasmin hanya bercanda.


"Sudahlah, Yasmin. Kita sudah sama-sama tahu, Hana tak mungkin menyukaiku. Meski tak sedarah, tapi aku dan dia hanya sebatas saudara."


"Ish, kau tak percaya, akan aku pastikan kau nanti menyesal kalau tak percaya kata-kataku." Yasmin memalingkan wajahnya disertai decakan sebal.


"Sudah, jangan merajuk. Aku tak mau nanti Oma Lita akan mengomeliku sepanjang malam. Sebaiknya kita bergabung dengan keluarga lain. Lihat, om Alex dan Tante Ridha memandang ke arah kita sejak tadi." Sadar dirinya tak bisa membuktikan ucapannya, Yasmin hanya mengangguk pasrah.


Gadis itu sengaja menantang Hana untuk mencari tahu bagaimana Reaksinya ketika ia semakin lengket pada Aksa. Dengan percaya diri, Yasmin berjalan anggun dan bergelayut pada lengan Aksa. Dan hal itu berhasil mengundang perhatian Hana yang juga menatap mereka.


"Lihat, mereka pasangan menikah muda yang cukup serasi kurasa." Aluna berbisik pelan sambil menyikut perut Seno, sang suami yang berada disampingnya.


"Ya, dan aku tak bisa bayangkan bagaimana mama mengurus bayi besar itu yang nyaris punya bayi juga. Astaga, bayangkan saja bayi besar itu tiba-tiba memiliki bayi mungil. Mama akan punya cicit yang membuatnya semakin tua."


Sepasang suami istri itu tampak terkikis geli di tempatnya. Hana yang kebetulan duduk tak jauh dari mereka, mendengus tak suka saat mendengar percakapan Tante dan om Aksa ini.


'Lihat saja, sampai berapa lama gadis itu bisa mengimbangi Aksa yang liar dan ganas.'


Batin Hana penuh ejekan.

__ADS_1


Daniel yang ada di dekat Hana, menghampiri putrinya itu. Semenjak Dita lumpuh, Dita sulit mendapatkan momongan lagi. Daniel pun tak mempermasalahkan itu semua. Baginya, Hana adalah putri kecilnya yang berharga. Satu-satunya anak yang akan menjadi tumpuan Daniel dan Dita di kala mereka menua nanti.


Cinta memang terkadang tidak butuh alasan untuk membersamai. Apa pun keadaanya, tak akan saling meninggalkan. Bagaimana pun kondisinya, tetap akan bertahan.


"Mengapa seperti tak betah, Dita? Acara belum selesai dan kau sudah seperti mau pergi saja. Ada apa? Apa kau sakit, nak?" Daniel bertanya lirih. Dita yang mendengar pertanyaan suaminya, sontak saja menoleh ke arah keduanya.


"Tidak apa-apa, pa. Hana hanya sedikit gelisah saja. Entah karena apa, firasat Hana agak nyaman. Tidak apa-apa. Kita tunggu saja sampai acara selesai nanti."


Hana tersenyum manis, seolah dirinya tak keberatan dengan menunggu sedikit lebih lama.


Yasmin kini mengerti, ia tadi tak salah lihat. Di tempatnya, Yasmin hanya berpikir untuk tak mencari masalah. Ia hanya ingin diam di tempat tanpa harus memancing amarah siapa pun. Andai nanti Hana yang datang dan menyerang dirinya lebih dulu, ada Mama Hanum dan Papa Kara yang akan melindunginya. Atau bisa jadi, Yasmin akan mengadukannya pada Oma Lita.


"Kau melihat apa, Yasmin? Fokus pada acara. Ayo kita nikmati buah disana." Akan amenunjuj sebuah meja ujung dengan menggunakan dagunya.


"Baiklah. Ayo." Yasmin sengaja semakin mengeratkan tangannya pada lengan Aksa, saat ia melewati Hana dan lainnya.


Tentu saja Kara dan Hanum saling pandang dibuatnya. Mereka geleng-geleng kepala melihat keromantisan Aksa dan Yasmin.


"Diamlah, Tante. Aku rasa kalian tak memiliki pekerjaan untuk mengurusi aku."


"Bukan begitu, bayi besar." Aridha membenarkan gelombang rambutnya yang bergelayut di depan dadanya. "Kau ini bayi besar Oma, Oma juga meminta kalian punya anak, bukan? Aku tak bisa membayangkan, bayi besar akan memiliki bayi. Astaga, itu kedengarannya lucu."


Yasmin hanya tersipu malu di tempatnya.


"Hhhhhhh Aku tak menyangka, semua anak perempuan oma memiliki pemikiran abnormal. Ayo, Yasmin Kita kesana saja." Aksa berlalu dengan Yasmin yang masih menggamit lengan Aksa.


Hingga keduanya tiba di meja paling ujung, dekat dengan Radhi dan Kara yang tengah berbincang dengan Dion dan Inora.


"Lepaskan. Kau ini.... Jangan terlalu kencang menggamit lenganku. Kau suka ya, keluargaku, tante-tanteku itu meledek kita sejak tadi? Astaga, kau ini bikin malu saja."

__ADS_1


Yasmin tak peduli. Anita itu memilih untuk menatap buah-buahan yang telah siap makan itu, dengan penuh minat.


"Terserah aku, Aksa. Lagi pula kau itu suamiku. Tak mungkin juga aku menggandeng kakek tua di pinggir jalan untuk aku gamit lengannya. Aku rasa sesuatu yang wajar jika aku bersikap lembut dan manis padamu. Memangnya apa Salahnya?"


"Astaga, kau ini Yasmin..... Aku heran, kau....."


"Ssssttt.... diam dan nikmati ini." Yasmin menyuapi Aksa dengan irisan buah mangga yang sangat menggoda.


Sialnya, Aksa membuka mulutnya dan takbisa menolak karena dirinya memang penyuka buah.


Tawa renyah pecah dari Aridha, Ariana, Alex, Seno dan juga Aluna. Mereka seolah menyoraki Aksa dan juga menjadikan Aksa dan Yasmin sebagai bahan candaan. Mendapati ini, Aksa makin jengkel saja pada Yasmin.


"Sudah cukup." Tegas Aksa. Yasmin pun yang baru menyuapkan mangga juga kada mulutnya, Sontan menatap Aksa dengan melotot tak suka.


"Kau ini, disuapi salah, di perhatikan juga salah. Maunya apa? Ah sudahlah. Aku rasa kau ini tak lagi Baik. Dasar. Aku masuk saja kalau begitu." Yasmin berlalu begitu saja dari hadapan Aksa. Radhi, Kara, Diom dan juga Inora saling oendang, merasa bahwa tingkah Aksa dan Yasmin masih sangat kekanakan.


"Astaga, Aksa. Apa yang kau lakukan pada istrimu? Awas saja jika nanti Oma mendengar kau berbuat yang tidak membuatnya nyaman. Oma akan menghukummu."


Jelita yang sejak tadi sibuk berbincang dengan Chandra dan juga Dewi, baru saja muncul. Yasmin sepertinya sedang marahan dengan Aksa.


"Wanita memang tak pernah salah dan pemikirannya rumit. Ah sudahlah, Aksa akan bergabung dengan yang lainnya saja."


"Susul istrimu jika tidak mau Oma nanti marah."


"Ya ya ya ya, baiklah." Aksa berlalu pergi, menyusul Yasmin yang tengah ngambek padanya.


Hana.....


Gadis itu sungguh tengah menahan emosi yang menggelegak dari dalam hatinya. Bukan tidak tahu diri, Hana sudah pernah mencoba untuk menepis rasa di hatinya untuk Aksa, sayangnya tidak bisa.

__ADS_1


Kini, Hana sudah kehilangan selera untuk menyantap hidangan apa pun.


**


__ADS_2