
Seorang remaja, tengah menatap cermin di depannya dengan lekat. Memastikan penampilannya sekali lagi sebelum berangkat untuk memulai aktivitas hariannya.
Seragam putih abu-abu dengan dasi hitam bertengger manis di kerah kemeja pendeknya. Kalung emas berliontin dengan ukiran rumit, menghiasi lehernya yang kokoh. Rambutnya yang setengah basah, menambah kesan macho dalam dirinya.
Aksa Gavin Praja Bekti.
Cucu kebanggaan Radhi ini, kini telah menginjak remaja dengan garis wajah yang tak jauh berbeda dengan Radhi. Bukan hanya wajah, bahkan pembawaan dan karakternya pun tidak jauh berbeda dengan sang opa.
"Aksa.... cepat sedikit. Nanti terlambat, sayang.
Opa ada meeting pagi ini".
Dengan malas, Aksa membuka pintu kamarnya.
Jelita berdiri dengan anggun di depan pintu. Tampang bawelnya seperti biasa, selalu membuat Aksa malas meladeni, tapi juga rindu bila di lewati.
Di tatapnya dengan lekat, Aksa mencebikkan bibirnya kesal. Penampilan Jelita, meski tak lagi muda, namun nampak seperti wanita berusia pertengahan tiga puluhan. Pantas saja opa Radhi selalu tak betah berlama-lama di luar.
"Aku bukan anak kecil lagi, Oma. Biarkan aku membawa satu mobil opa seorang diri. Aku bukan bayi yang patut di......aaww.. sshhhhhhhh......"
Aksa mengusap-usap telinganya yang baru saja di jewer Oma nya. Bila sudah demikian, tentu Aksa hanya bisa menurut bila tidak ingin sepulang sekolah nanti berlatih beladiri bersama Omanya.
Ya Tuhan.....
Aksa ingin merutuki Omanya seketika.
"Jangan membantah. Ayo sarapan dan jangan buang-buang waktu lagi."
Menurut.
Cara ini selalu berhasil menaklukkan Aksa. Jelita tersenyum penuh kemenangan.
Setibanya di meja makan, Radhi tersenyum saat mendapati istri dan cucunya berjalan beriringan, wajah cucunya di tekuk. Tentu saja Radhi bisa menebak, bahwa mereka usai berdebat.
"Selamat pagi, opa".
"Pagi, sayang. Bagaimana tidurmu semalam?".
Tanya Radhi lembut.
"Nyenyak opa".
"Bagus. Nikmati harimu dan jangan lupa untuk tetap disiplin di sekolah.
Jangan mengecewakan mama papamu. Opa akan sangat malu kalau sampai kedua orang tuamu kecewa padamu".
__ADS_1
"Tentu, opa".
Dengan cekatan, Jelita segera menyiapkan bekal untuk Aksa. Setiap hari, selalu begitu. Aksa benar-benar di perlakukan seperti bayi. Mungkin, karena semua anak dan cucunya yang lain telah memilih untuk tinggal sendiri. Hanya Aksa yang tersisa. Itu pun Jelita sendiri yang bersikeras untuk melarang Kara membawa serta tinggal dengannya.
Rumah yang di terbiasa ramai, kini nampak sepi.
"Aksa.... Nanti sepulang sekolah, hubungi Oma. Mengerti? Oma tidak lama di kantor. Nanti kau biar Oma yang jemput. Ingat.... jangan menghilang lagi seperti tempo hari".
Mengangguk pasrah, Aksa hanya bisa menjawab "Iya".
Sebenarnya, Aksa hanya tak tak tau saja mengapa jelita dan Radhi begitu posesif menjaganya. Sebagai pebisnis yang namanya begitu banyak di takuti, bukan hal yang tidak mungkin musuh selalu mengintai dari kejauhan. Jelita hanya takut Aksa akan menjadi sasaran.
Bahkan, Radhi sengaja mempekerjakan pengawal yang pandai membaur dengan masyarakat biasa, menyamar layaknya orang biasa untuk menjaga Aksa tanpa sepengetahuan cucunya itu.
Radhi hanya ingin cucunya aman dan merasa nyaman tanpa terusik akan adanya pengawal yang berseliweran.
Usai sarapan, Jelita melepas kepergian suami dan cucunya, sedang ia sendiri, mengendarai mobil lain untuk menuju kantornya.
Sebagai wanita yang telah di tempa dengan banyaknya pendidikan dari suaminya, Jelita bukan hanya kuat dan tangguh dalam segala hal, tetapi juga mampu mendominasi apapun dalam bidang bisnis.
Maka, tak heran jika banyak pesaing yang merasa iri akan pencapaian yang diraih Radhi dan Lita.
Setelah Aksa tiba di sekolah, Aksa turun dari mobil opanya dan melangkah dengan anggun menuju kelasnya.
Sudah menjadi hal biasa bila banyak mata tertuju padanya. Sebagai cucu dari keluarga ternama, keberadaannya selalu di sorot dan menjadi pusat perhatian.
Mata Aksa setajam elang dengan alis tebal yang membingkai. Dengan mata setajam itu, Aksa bahkan mampu mengintimidasi siapapun hanya dengan sorot matanya. Sayangnya, Aksa menyembunyikan sorot itu dan menggantinya menjadi sebuah kelembutan yang mampu menaklukkan siapapun.
Tulang pipi nya tinggi dan rahangnya, kokoh..... menandakan ia sangat kuat dan angkuh. Hidungnya yang mancung, menambah nilai tersendiri. Rambut hitam legamnya, membingkai wajahnya yang rupawan bak malaikat.
Tubuhnya demikian atletis karena karena Jelita, selalu melatihnya dengan banyak ragam olah raga dan beberapa teknik beladiri.
Dan jangan lupakan bibirnya yang tebal nan sensual seperti Radhi, membuat siapapun bertekuk lutut dan menyerahkan bibir mereka untuk di ***** habis oleh seorang Aksa Gavin..... Kara menyebutnya sebagai elang putih yang selalu tenang air mukanya, arti dari Aksa Gavin itu sendiri.
Berjalan melewati gadis-gadis di sekolahnya yang berbisik-bisik lirih sambil memandang ke arahnya, Aksa nampak cuek dan memasang tampang dingin, meski terlihat tenang.
Parfum maskulin yang bahkan juga di pakai oleh Radhi, melekat kuat dalam raga serang Aksa.
Entahlah, dalam hal apapun, Aksa selalu kompak dengan sang opa dalam hal apapun. Bahkan tak jarang, hal itu menerbitkan kecemburuan Kara karena tak sedekat itu dengan putranya.
"Aksa".
Sebuah suara remaja wanita, lantang menyapa Kara.
Wanita itu, adalah wanita yang berasal dari kalangan biasa. Bisa berada di sekolah elite karena kepandaian dan prestasi nya yang cemerlang.
__ADS_1
Yasmin Arumi Razeeta namanya.
Dengan langkah mendekat dan nafas yang memburu, Yasmin mendekat ke arah Aksa tanpa peduli tatapan dari banyak mata yang memandangnya aneh.
"Kembalikan tugasku yang kau ambil kemarin. Aku tak punya banyak waktu untuk membuatnya lagi"
Ucap Yasmin sarkas. Kertas tugas yang ia buat dengan susah payah, telah di curi. Aksa terkekeh geli mendengarnya. Ia memang sengaja melakukan hal konyol ini karena memiliki sebuah rencana.
"Ikut lah denganku".
Kemudian Aksa berjalan menuju kelasnya dengan di ikuti yasmin. Hingga mereka tiba di lorong kelas.
Aksa menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Yasmin dengan datar.
"Bagaimana bila tak ku kembalikan? Apa kau keberatan?".
"Tentu saja".
"Sayangnya, aku tak akan mengembalikan, se kuat apapun meminta".
"Apa salahku padamu, Aksa? Mengapa kau menjahili tanpa alasan?"
Suara Yasmin melemah.
"Hanya menjadi pacarku sesaat, kau tak perlu menangis dan mengiba seperti ini. Apa susahnya?"
"Bodoh. Memangnya tidak ada gadis lain?".
"Tidak. Hanya kau yang bisa. Karna aku memiliki sebuah rencana. Kau tak akan bisa menolakmu kali ini, Yasmin. Karna bila hal itu terjadi, kau tau sendiri donatur terbesar di sekolah ini, adalah opa ku.
Bukan hal yang sulit bagiku untuk menendang mu bila aku mau".
Yasmin memucat. Tapi ia berusaha melawan dengan secuil keberaniannya yang tersisa.
"Aku akan tetap menolak".
"Oh ya, mari kita lihat, siapa yang akan mengendalikan siapa!!".
Rasa penasaran Aksa semakin meningkat terhadap gadis ini.
__
__
__
__ADS_1