Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Nyaris berhasil.


__ADS_3

Tuan muda pewaris Praja Bekti telah tiba di kediaman besar Praja Bekti bersama Yasmin, tepat ketika makan malam telah selesai. Beberapa cucu-cucu Radhi dan Jelita yang lain telah sibuk belajar di kamar mereka masing-masing. Hanya Hesti, putri Ridha yang terus mengekor di belakang Jelita karena meminta sesuatu.


Malam kian larut, ketika Jelita memerintah Aksa dan juga Yasmin untuk istirahat saja di kamar, mengingat mereka besok harus bangun pagi dan menyambut kedatangan Kara dan Hanum.


"Segeralah tidur, Aksa, Yasmin. Besok papa Kara akan segera datang dan kalian harus bangun lebih pagi." Ucapnya dengan lembut. Jelita yang biasanya datar dan seperti patung hidup, kini berkata lembut di depan Yasmin, membuat Yasmin terbuai dan merasa diperlakukan seperti tuan putri. Gadis itu juga merasa ia diterima dengan baik di dalam keluarga Praja Bekti.


"Baik, Oma." Aksa dan Yasmin berlalu pergi melewati tangga, dengan Yasmin yang mengekor di belakang Aksa. Degup jantung Yasmin bertalu kencang tak karuan. Sejujurnya, ini adalah kali pertama Yasmin menginjakkan kaki di lantai atas dan pertama kali akan masuk ke dalam kamar Aksa.


Klek.....


Hening. Tak ada pembicaraan apa pun mau pun tanya apa pun yang keluar dari mulut Yasmin saat Aksa membuka pintu. Pertama kali yang Yasmin lihat adalah, kamar Aksa yang di dominasi warna putih, hitam dan abu-abu. Suasana kamar dengan lampu yang temaram, membuat Yasmin menyipitkan mata. Menurutnya, Yasmin tak nyaman dengan suasana lampu temaram begini.


"Kau tak nyaman, sweet heart?" Aksa seolah mampu menangkap ketidak nyaman Yasmin kali ini. Dari gelagat gerak-geriknya saja Aksa bisa tau.


"A.. Aku... aku tak suka lampu yang remang-remang begini." ungkap Yasmin sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Selain lampu yang temaram, Yasmin juga melihat berbagai barang unik dan perabotan yang menghiasi dinding. Sungguh, suasana yang seperti ini, menunjukkan bahwa pemiliknya sangat maskulin.


"Mulai sekarang kau harus terbiasa. Untuk malam ini, aku akan menoleransinya. Tapi kau harus mulai membiasakan diri setelah ini, karena aku tak suka cahaya yang terlalu terang."


Yasmin mengangguk paham. Wanita itu sungguh canggung dan hanya berdiri di sebelah meja belajar aksa. Aksa hanya tersenyum simpul saya menyadari istrinya itu bingung hendak melakukan apa.


"Semua alat mandi milikmu semuanya baru dan sudah di sediakan oleh Oma di dalam. Masuk saja dan bersihkan diri. Setelah ini kita tidur dan jangan sampai besok bangun terlalu siang.

__ADS_1


Yasmin mengangguk dan berlalu ke dalam kamar mandi. Yasmin bingung sendiri. Tadi sore bahkan Radhi menyuruh Yasmin datang saja tanpa membawa pakaian apa pun. Dan rupanya, tadi Yasmin sekilas melihat beberapa baju perempuan terpajang di lemari Aksa. Segala kebutuhan Yasmin, benar-benar ditanggung sepenuhnya oleh keluarga aksa.


Usai membersihkan diri dan mencuci muka, serta membersihkan bagian intim dirinya, Yasmin keluar kamar mandi dan mendapati Aksa tengah fokus menatap layar laptopnya. Aksa menoleh sekilas dan mematikan laptopnya, sebelum kemudian ia berlalu ke kamar mandi tanpa kata.


Begitulah, Aksa. Sikapnya sulit ditebak dan juga Yasmin bingung dengan lelaki itu.


Dengan gerakan canggung, Yasmin merebahkan diri di ranjang dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.


Dress tidur yang Yasmin kenakan, sejujurnya membuat Aksa meneguk salivanya dengan susah payah. Itulah mengapa Aksa tadi masuk kamar mandi tak berkata-kata.


"Yasmin. kau tegang?" Tanya Aksa ketika kini Yasmin merasakan pinggangnya dipeluk dari belakang oleh Aksa. Astaga, Yasmin menegang dibuatnya.


"Tidak, tidak. Aku tidak apa-apa." Aksa tersenyum miring. Pemuda itu terus menelusupkan tangannya di perut Yasmin, dan Semakin mempererat pelukannya.


Reaksi Aksa menginginkan lebih dari sekedar sentuhan. Niat jahil itu kini telah berubah haluan seiring dengan rasa nyaman dan hangat yang mengalir pada tubuhnya. Astaga, Aksa bisa gila jika terus seperti ini.


"Katakan, Yasmin. Kau tidak ingin apa-apa dariku?" Aksa bersuara lirih dan serak. Sialnya, bagi Yasmin suara Aksa sangat merdu dan mengundang sesuatu yang membuat Yasmin juga ingin lebih dari sekedar di sentuh.


"Ii...ingin apa maksudnya?" Yasmin sangat gugup. Perlahan, keringat sebesar biji jagung muncul di area kedua pelipis Yasmin. Oh astaga, ingin rasanya Yasmin mengutuk malam ini, malam yang bahkan tak tau apa-apa.


"Lebih dari sekedar sentuhan. Apa... kau tak merasakannya?" Aksa bicara sejelas mungkin.

__ADS_1


Yasmin menggeleng kuat-kuat. Ia merasa ini tak boleh dibiarkan begitu saja. Bisa-bisa, Yasmin nanti akan terhanyut dan lupa diri, bahkan lupa dengan rencana awalnya untuk mengerjai Aksa.


"Tapi aku sangat menginginkannya."


Dan jantung Yasmin terasa mau loncat dari rongga dadanya seketika. "Kau... bersedia?"


Lama Yasmin termenung dalam diam, hingga kemudian Yasmin mendapati Aksa meloncat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Ada rasa kecewa dalam hati Yasmin, sesuatu yang Yasmin sesali.


Pasangan yang satu ini memang tampak selalu kocak. Harusnya, jika mereka sama-sama menginginkannya, mereka jujur saja dan tak perlu sama-sama kecewa begini. Bukankah keduanya sudah menikah dan sama-sama siap melakukan sesuatu yang lebih layaknya suami istri? Dan yang paling naif disini, adalah Yasmin.


Ya Tuhan, Yasmin menyesal, mengapa ia tadi tak mengangguk saja pada Aksa.


Lama, Yasmin termenung hingga ia tertidur di tempatnya. Siapa yang menyangka, Yasmin kemudian bangun dan terkejut atas apa yang terjadi padanya.


"Aksa? Apa yang kau lakukan?"


"Ssssssttt... diamlah. Nikmati dan ikuti saja secara naluri."


Yasmin telah kecolongan.


**

__ADS_1


Part selanjutnya, panass ya sodara-sodara 🤣🤣🤣🤣


Untuk bocil, harap mundur🤣


__ADS_2