
Kara tengah menatap serius layar laptopnya.
Beberapa Tabel angka yang demikian rumit menjadi pusat perhatiannya.
Jemarinya yang lincah nan kokoh itu, bergiliran menyentuh setiap Bagian dari keyboard.
Kara..... demikian mempesona meski dalam posisi apapun.
Pintu terketuk perlahan dari luar, Alma segera masuk setelah Kara memerintahkannya masuk.
Wajah Alma demikian sumringah.
"Selamat pagi, bos?".
"Hmm". Kara hanya berdaham tanpa menatap Alma sedikitpun.
"Ini berkas yang tadi bos minta".
"Letakkan di situ".
Dan kemudian Alma berniat berlalu berlalu dari ruangan Kara yang luas dan megah, sayangnya, Kara menghentikan.
"Alma".
"Ya, bos?".
"Katakan pada kepala divisi keuangan, aku membutuhkan laporan keuangan perusahaan tiga bulan terakhir".
"Kepala divisinya, atau Hanum bos?"
Entah mengapa, Hanum berani menggoda Kat yang tengah serius.
Hingga tangan Kara meraih asbak yang terletak di mejanya, hendak melempar ke Alma.
Namun, sebelum itu terjadi, Alma berlari keluar ruangan.
Diam-diam, Kara tersenyum saat nama Hanum terdengar. Namun, tak berlangsung lama, karna Kara segera menepis segala kemungkinan yang terjadi pada dirinya.
Ah.....
Mungkinkah Kara........ Hanum?
Tidak.
Kara menggeleng keras kemudian.
"Bos..... Iiii ini... ini laporan keuangan yang bos minta".
Alma menatap Kara dengan takut-takut.
Di saat bersamaan, Jelita datang menghampiri putranya.
Beruntunglah kali ini Alma bisa lolos dari amukan kara.
"Mama...."
Kara menggumam lirih dengan tangan terulur meraih laporan yang Alma letakkan di meja.
"Kau sibuk?"
Jelita berjalan anggun menghampiri putranya.
Alma dengan segera mengambil jurus langkah seribu.
"Lumayan".
Kara tersenyum manis ke arah ibunya.
Lantas membuat Jelita menatap lekat sosok putranya yang wajahnya lebih mirip Radhi di banding dirinya, namun sifatnya menurun dari Jelita.
"Mama tak mungkin datang bila tak ada yang ingin di sampaikan. Coba katakan".
Pinta kara tiba-tiba tepat sasaran.
"Mama......
Kau masih berniat membalas Dita?".
__ADS_1
"Jangan sebut nama wanita itu di hadapanku, ma. Telingaku sakit mendengarnya.
Sebuah nama keramat yang haram untuk ku, adalah Dita. Ia sudah menjadi kutukan untukku".
"Baiklah, wanita itu...... Mama harap kau tak melewati batasanmu, kara.
Mama tak mau bila kau membalas Dita dengan menidurinya lalu mencampakkannya seperti adegan film dewasa. Mama tak mau putra mama harus melakukan kontak fisik dengan wanita itu.".
Kara tergelak mendengar penuturan mamanya.
"Tidak. Aku tak Sudi bila harus membalasnya dengan cara murahan seperti itu.
Aku memiliki beberapa cara yang cukup cantik, yang menjadi rahasiaku, tentunya".
"Bagus. Tunjukkan pada dunia bahwa kini kau memiliki kekuatan dan tak mudah di tindas oleh wanita. Mama mendukungmu, asal kau tak melewati batasanmu".
"Kara telah dewasa, ma. Kara tau yang terbaik untuk diri Kara sendiri.
Bahkan, kara telah menggilas rasa yang pernah Kara miliki itu hingga mati. Membabat habis nurani seisinya. tak ada yang tersisa",
sahut Kara lirih.
Ada kelegaan tersendiri yang Jelita rasakan saat mendengar ungkapan ini
Demikianlah perbincangan anak dan ibu itu.
Obrolan mereka terjeda saat Radhi juga memasuki ruangan Kara, membuat mata Jelita yang di hiasi gurat-gurat di sekelilingnya, berbinar.
"Wow, Kau tetap terlihat keren rupanya, pak komisaris"
Tandas Lita dengan setengah terkekeh.
"Ya. Aku...... mendapat telpon dari Luna, Ayah sedang sakit", ungkap Radhi penuh Khawatir.
"Ya tuhan, oh baiklah..... kapan kita berangkat kesana?".
"Sekarang. Biar Kara yang ada di sini menggantikan ku".
*********
Seorang wanita muda berusia pertengahan dua puluhan, tengah tenggelam dalam dimensi lamunan yang ia ciptakan sendiri.
Pikirannya tengah mengencani masa lalu terburuk yang pernah ia alami.
Bukan ulah seseorang, melainkan dirinya yang berulah.
Dulu....
Sembilan tahun lalu, Dita telah melakukan kesalahan yang bukan hanya merugikan Kara sekeluarga, namun juga merugikan dirinya.
Sesungguhnya, sosok Kara yang demikian tampan rupawan parasnya, juga telah menyentil sisi hati Dita yang datar.
Sayangnya, Perasaan Dita telah Dita sendiri gadaikan........
Hanya demi segepok uang dan kepopuleran di mata teman-temannya.
Kini, Dita nyaris tak memiliki harapan untuk menggapai hati seorang Kara.
Di mata Kara, Dita tak lebih dari seonggok daging busuk tak berharga.
Mengenaskan.........
Sebelum ia melakukan rencana gilanya itu, Dita bahkan telah menyerahkan dirinya pada seorang bajingan bernama Daniel.
Daniel........
Seorang yang akan dengan senang hati membantu siapapun yang sedang dalam masalah, dengan sex sebagai imbalan tentunya.
Siapa sangka, keinginannya untuk menjatuhkan harga diri Kara di mata para siswa-siswi di sekolahnya, Ternyata ada orang lain yang menyebar luaskan momen-momen sialan itu ke sosial media.
Dan kini......
Alih-alih mendapatkan Kara dan cintanya terbalaskan, Dita justru di hujat dengan sedemikian sakitnya.
Luka itu masih berdarah, perih itu masih membekas, dan mungkin saja, tak akan pernah pudar.
Dita meraung dalam diamnya.
__ADS_1
Bisa kau bayangkan sesakit apa yang di derita Dita?
Ia bahkan nyaris mati perasaannya karna Kara tak Sudi meski hanya menatap wajah dan menyebutkan namanya.
"Kenapa lagi, ta?".
Dewi mendekat, menghampiri putri angkatnya.
Penampilannya demikian anggun, meski bentuk tubuhnya tak bisa di katakan sempurna.
Memiliki tubuh yang berisi, membuat Dewi terlihat nampak bulat.
Meski begitu, Chandra tetap bertahan di sisinya.
Dengan membetulkan letak kacamatanya, Dewi tersenyum tipis.
Ia tahu, di hujat Kara.......
Bukanlah sesuatu yang biasa saja.
"Aku... aku....bolehkah bila Dita mengungkap satu fakta, ma?".
Dewi nampak mengerutkan kening.
"Fakta apa?".
"Aku mencintai Kara sejak insiden sialan itu terjadi.
Bagaimana aku harus mengambil sikap, ma?
Perasaan ini, ada saat Kara telah pergi ke new York.
Salah satu ruang di hatiku terasa kosong, hampa dan tak berpenghuni.".
Dewi syok luar biasa.
Wajahnya memucat.
"Jangan". Dewi memekik.
"Jangan kau lanjutkan Dita. sebaiknya kau bunuh mati perasaanmu itu!! Sampai mati pun, mama tak akan pernah merestuimu.
Dengar, ini bukan perihal mama tak menyukai Kara.
Mama hanya tak mau nanti kau terluka.
Kara bukanlah tandinganmu perihal perasaan."
Ada ketakutan yang nyata di mata Dewi.
Kekhawatiran tak kasat mata yang menggelayuti hatinya.
"Sembilan tahun........
Sembilan tahun bukanlah waktu yang sebentar, ma. Setelah aku menyadari perasaanku pada Kara, aku telah menekannya kuat-kuat.
Tak ku ijinkan rasaku itu berkembang dalam gurun pasir yang tandus, tapi rasa itu tetap tumbuh dan kian menjulang setiap waktunya.
Seperti kaktus berduri yang kokoh.
Aku tak bisa membunuhnya begitu saja".
Dita melirihkan nadanya di akhir kalimat.
Kepedihan jelas menggantung di sudut-sudut matanya.
"Ya. Seperti kaktus. Berduri yang perlahan akan menyakitimu dengan sangat perih.
Dan Akan membunuhmu seketika bila tak segera kau kalahkan.
Jadilah wanita yang realistis, ta.
Jangan pernah mau terbunuh oleh perasaanmu sendiri.
Kau perlu menggilas rasa mu yang tak berguna itu."
Dewi pergi, meninggalkan Dita dalam Isak tangisnya.
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁