Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Fakta baru Atmadja


__ADS_3

"Halo, Alma......


Datanglah ke kediaman om Chandra sekarang Juga.


Datanglah dengan cepat sebelum ku penggal kepalamu saat ini juga".


~Part sebelumnya~


Tak lama berselang, Alma tiba dengan wajah riangnya. Ia tak tau saja bahwa semua orang menatapnya penuh iba.


"Selamat siang, tuan, nyonya".


Alma menyapa semua orang yang berdiri menatapnya. Ada rasa khawatir yang nampak dengan Jelas di wajah semua orang.


Hanya Arlan yang menatapnya kacau.


Dalam hati, Alma bertanya-tanya, ada apa dengan semua orang hari ini?


"Hm. Alma, aku tak ingin berbasa-basi lagi denganmu. Beri aku alamat lengkap kedua orang tuamu di kampung. Hari ini juga, orang-orang ku akan menjemput keluargamu".


"Apa? Bos, Petaka apa lagi yang akan kau buat dalam hidupku?


Lebih seminggu lalu, kau membuatku menjadi bulan-bulanan warga pulau laut sigam.


Dan kini......


Kau meminta orang tuaku datang kesini?


Ada apa sebenernya, bos?".


"Nama baik keluarga besar Adi Prama, ada di tanganmu sekarang.


Jadi, hari ini aku merendahkan diriku di hadapanmu, Dengan segenap permohonan dan ketulusanku, aku mewakili keluarga besarku....


Menikahlah dengan kakakku Arlan, sebagai pengganti calon istrinya yang kabur entah kemana".


Sinar mata Kara nampak serius. sungguh, baru kali ini Alma merasa tercabut nyawanya seketika.


Jiwanya mendadak mati, hatinya mendadak tewas.


"Me menikah? Ka kau bercanda, bos? Ka....katakan ini.... hanya, oh ma....maksudku kau....??".


Alma mendadak bodoh dadakan.


Syaraf otaknya mendadak putus.


"Alma...."


Dewi mengajak Alma duduk, Kemudian Dewi duduk di lantai, menggenggam kedua tangan Alma yang bergetar hebat. Wajah Alma telah pucat pasi. Keringat dingin mendominasi pelipis dan telapak tangannya.


"Tolong sekali ini saja, nak.


Aku tau ini berat untukmu. Ini bukan hanya karna perkara nama baik Adi Prama yang di pertaruhkan. Melainkan hati putra kami yang terluka.


Ada banyak beban Psikis yang akan di tanggung Arlan nak. Koleganya akan menderanya dengan banyak gunjingan.


Aku percaya.....


Kau mampu membahagiakan putra kami kelak.


Kau...... kebersamaan itu akan dengan mudah memercikkan api cinta"


"Alma......"


Kali ini jelita yang duduk di samping Alma.


Tangannya terulur mengusap pelan puncak kepala Alma.

__ADS_1


"Aku tau kau wanita bijak dan memiliki keluasan hati. Mungkin saja....... ini adalah jalan Tuhan menyatukan kalian untuk saling berjodoh".


Terdengar hembusan nafas kasar dari Arlan. Seumur hidup, Arlan tak pernah se kacau ini.


"Ta...tapi, ba....bagaimana dengan.... tu...


Tuan muda A....Arlan?".


Ekor mata Alma melirik jam sosok Arlan.


"Aku bersedia menikahimu bila kau juga bersedia untuk belajar mencintaiku, Alma".


Bak bom atom yang meledak kondisi hati Alma saat itu. Impiannya menikah Dengan pria yang di cintai nya, kini hancur seketika, tak bersisa ketika Arlan mengucapkan kalimat keramatnya.


Darah Alma seperti berhenti berdesir. Kepalanya seperti di hantam Godam berbobot ribuan ton. Perlahan, sekelilingnya mendadak gelap gulita, hingga kesadarannya tertelan oleh kegelapan, Alma pingsan saat itu juga.


Sayup-sayup, Alma mendengar suara semua orang panik dan meneriakkan namanya.


Sebelum Alma benar-benar pingsan, Alma membatin, Mungkinkah menikah itu enak?


******


"Sebenarnya, apa yang kau sembunyikan Kara?


Rencana apa yang tak papa ketahui?"


Radhi berbicara dengan Kara di dalam mobilnya. Ia sengaja membahas hal yang bersifat positif ini hanya berdua dengan putranya.


"Maksud papa?".


Kara sejujurnya tau arah pembicaraan kali ini, namun.... Kara adalah type anak yang suka membuat orang tuanya di dera rasa penasaran tinggi.


"Mungkinkah hilangnya Dian adalah bagian dari rencanamu yang tak ayah ketahui?".


Wajah Radhi lebih serius kali ini.


"Ya. Wanita rubah itu telah berada di suatu tempat yang tak akan bisa di lacak oleh siapapun. Termasuk Wira dan kedua putra bodohnya itu".


Kara mengulas senyum iblisnya.


"Apakah Dian ada kaitannya dengan mereka?".


Radhi bertanya dengan hati-hati.


"Rupanya, papa melewatkan sesuatu.


Dengar, Dian adalah wanita yang di susupkan Wira ke dalam keluarga kita. Awalnya, perusahaan kita lah yang di incarnya melalui kak Arlan, sayangnya...... pria tua Bangka itu tak berhasil mengelabui kita. Satu-satunya cara adalah, melalui jalan perjodohan dengan anak angkat om Chandra. Dan target mereka beralih pada om Chandra.


Dian......


Wanita itu adalah wanita bayaran yang di tugaskan untuk mengambil surat-surat penting kepemilikan beberapa aset milik Adi Prama."


Kara menjelaskan panjang lebar.


Keterkejutan tentu nampak di di wajah tampan Radhi.


"Ya tuhan...... Ku pikir ia hanya melakukannya pada keluarga Darrel. Rupanya ia cukup serakah dengan berencana mengambil paksa milik orang lain".


"Ya. Sayangnya...... Mereka bermain-main dengan orang yang salah. Mereka tak tau saja, aku bahkan lebih buas dari singa, lebih licin dari ular, dan lebih menakutkan dari taring buaya muara.


Akan ku pastikan, Wira Atmadja benar-benar jatuh pada titik terendah kehancuran".


Radhi mengerjapkan mata beberapa kali. mencerna kalimat yang baru saja putranya sampaikan.


"Baiklah. Ayah tak mau bila keluarga dan kerabat ayah terusik.".


*********

__ADS_1


Alma kembali sadar dari pingsannya.


Ia menatap ruangan yang terasa asing baginya.


Aridha, Jelita dan Dewi tengah menungguinya, menatapnya penuh khawatir.


"Kau baik-baik saja, nak?".


Dewi pertama kali buka suara. Alma mengangguk.


Perlahan, jelita menyerahkan segelas air minum pada Dewi yang di peruntukkan Alma.


"Aku.... ba baik, nyonya".


Alma menjawab lirih. sangat lirih.


"Baguslah. Istirahatlah......"


"Nyo...nyonya Lita..... A...apakah nyonya..... tak keberatan dengan pernikahan ini?


Aku.... bukanlah siapa-siapa.


Aku.... berasal dari keluarga sederhana.


Aku.....".


Alma menyuarakan isi hatinya.


Kekhawatiran tengah menari indah dalam bayangan Otaknya.


"Kau.....


Bila kau bersedia menikah dengan putraku, percayalah, Alma.


Kau bukan sekedar menantu dalam keluarga Adi Prama dan Praja Bekti, melainkan akan emnadi putri kami yang kedudukannya sama dengaan Ariana, Aridha dan Aluna.


Jadi, apa lagi yang kau khawatirkan?".


"Oo....orang tuaku....?"


"Putraku Kara yang mengatur segala sesuatunya. Yang terpenting adalah, keputusanmu yang kami tunggu".


Jelita menjawab mantap.


Di ambang pintu kamar, Arlan datang dengan mengenakan kemeja hitam yang lengannya di gulung hingga siku, dan celana jeans hitam yang membingkai kedua kakinya yang kokoh.


Rambutnya terlihat basah yang semakin menambah kesan tampan dalam diri Arlan.


Arlan duduk di tepi ranjang, mendekati Alma dan menatap Alma dengan pandangan teduhnya.


Arlan merasa, tak ada gunanya menentang semua ini. Kara benar-benar berhasil menjungkir balikkan dunia Arlan kali ini.


"Bagaimana keadaanmu sekarang, Alma?"


Suara Arlan mendominasi pendengaran Alma kali ini.


"Aa aku ba....baik, tuan muda".


Arlan nampak menganggukkan kepalanya paham.


"Jadi, apa keputusanmu?".


"Aku... bersedia, tuan. Asal, tuan tak menceraikanmu nanti. Aaku..... aku tak mau menjadi janda yang terbuang nanti".


Semua orang menahan tawa menyaksikan tingkah Alma yang menggemaskan ini, termasuk Arlan.


Arlan merasa terhibur di tengah kekalutannya saat ini.

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2