
"Aku hanya ingin melihatmu, itu saja".
Ungkap Ridha jujur. Tanpa ia sadari, Sundari datang dan limbung, tubuhnya hampir luruh ke lantai kalau saja Daniel tak sigap menangkap tubuh rapuhnya.
~part sebelumnya~
"Mama!!"
Alex bergegas berlari menghampiri Sundari dan Daniel. Tak peduli akan Aridha yang membeku dan memucat.
*****
Di sebuah ruangan kecil berukuran 3x5 meter, Sundari duduk, dihadapannya ada Alex dan Aridha yang duduk bersebelahan.
Sundari rasa ia harus bertindak. Setelah dua kali Ridha datang dan mengungkapkan isi hatinya, ia tak mungkin kemudian hanya diam saja.
Ridha harus tau, Alex bukan anak baik seperti anak pada umumnya. Kenakalan di masa remaja sudah cukup menggores nama baik keluarga Atmadja dengan sangat dalam.
Bukankah keluarga Praja Bekti dan Atmadja memiliki sisi yang bersimpangan?
Bila Praja Bekti adalah keluarga yang bisa di katakan sempurna tanpa cacat dan cela, lain hal dengan Atmadja yang sudah tenggelam, sangat jauh dari kata baik.
Di sini, di ruangan ini, di saat ini.....
Sundari perlu menegaskan satu hal.
Ridha tak boleh mendekati Alex, begitu pula dengan Alex, sama sekali tak boleh mendekati Ridha.
"Nak Aridha......".
Suara Sundari mengalun lembut, suara dan tingkahnya sangat keibuan. Berbeda dengan Wira yang reputasinya telah demikian buruk di mata Ridha.
"Ya, nyonya".
"Jangan panggil nyonya, panggil aku ibu saja.
Aku yang sekarang bukan lah aku yang dulu".
Sundari sadar, ia tak pantas menyandang panggilan yang amat berharga.
Baginya, ia bukanlah apa-apa.
Suaminya telah tega membuatnya seperti ini. Ia sama sekali tak tau menahu perihal kejahatan yang di lakukan Wira.
Yang di ketahui Sundari hanyalah, ia menikah dengan Wira ketika Daniel masih bayi dan ibunya telah tiada ketika melahirkan Daniel.
"Baiklah, Bu".
Raut wajah Ridha datar, begitu juga dengan sorot matanya.
Diam-diam, Sundari demikian kagum pada sosok Ridha.
"Bagaimana perasaanmu pada Alex?".
"Aku menyukainya, rasa nyaman dan ingin bertemu ketika jauh darinya, aku miliki tanpa aku minta. Rasa itu hadir tanpa aku undang."
Ridha menjawab jujur. Ia sadar, ia tak pantas lagi menyembunyikan isi hatinya terlebih sudah dua kali ia mengatakan selalu ingin bertemu Daniel.
Sundari merasakan kaget luar biasa, putri Praja Bekti menyatakan langsung perasaannya putranya yang bermoral bobrok.
Sundari tak tau ini anugerah atau musibah.
Begitu juga dengan Alex.
__ADS_1
Ia menahan nafas sepersekian nano detik.
Ini adalah hal yang amat sangat Alex takuti.
"Nak Ridha, dengarkan ibu......
Kau dan Alex adalah dua insan yang berbeda.
Derajad dan kasta kalian tak lagi sama.
Bila dulu, andai kau memiliki hubungan dengan putra ibu, ibu tak keberatan.
Tapi kini, Alex bukanlah pria sempurna, nak.
Tolong pikirkan lagi, jangan lagi dekati Alex, lupakan Alex dan carilah pria lain yang lebih mapan dan lebih baik dalam segala hal".
Ungkapan lembut Sundari membuat hati Alex mencelos. Ada rasa sakit dan tak terima, entahlah Alex tak mengerti mengapa begini.
"Itu artinya, ibu tak akan merestui andai kami saling mencintai?"
Aridha bertanya dengan hati-hati.
Deggg
Hati Alex menghentak dan terasa ingin lompat dari rongga dadanya.
"Bukan begitu nak, Tapi........"
"Sudahlah tuan putri, kau pulanglah saja."
Potong Alex tanpa memandang Ridha. Ia membuang tatapannya ke arah lain.
"Lex, tatap mataku".
Aridha menarik Alex untuk menatap dalam matanya. Jemari Ridha terulur menggapai dan menggenggam jemari Alex. Dan Lex diam tak menolak.
Hatinya terasa menghentak tak karuan, darahnya berdesir hebat, berkumpul menuju satu titik vital yang sudah lama Alex biarkan mati.
Bahkan, sentuhan Ridha seperti menghancurkan dunianya.
"Apa yang kau rasakan? Kau tak butuh pengakuan mu bahwa kau mencintaiku, aku hanya ingin tau apa kau merasakan hal yang sama denganku"
Alex meneguk saliva nya susah payah. Tenggorokannya tercekat.
Alex bukanlah Ayi polos yang tak mengerti apa yang ia rasakan.
"Apa yang kau rasakan? Bukankah kau juga merasakan hal yang sama denganku?".
Susah payah Alex bangkit dari tatapan Ridha.
"Ya. Aku merasakannya. Hanya saja..... Sudahlah.
Apa yang ibuku katakan benar".
Jawab Alex salah tingkah, mengetahui ini membuat Ridha tersenyum kecil.
"Alex benar nak, ibu...... ibu tak bisa melihat tragedi lagi untuk putra-putra ibu".
Mata Sundari berkaca-kaca. Ia mulai was-was.
"Bila begitu, lebih baik katakan pada putra ibu untuk menjadi jantan sejati yang tak akan menghindari masalah. Bukankah harga diri pria adalah terletak pada ego dan logikanya?
Bila Alex benar merasakan apa yang aku rasa, bukan kah itu artinya kami saling mencintai?
__ADS_1
Dan jantan yang sebenar-benarnya jantan adalah, mempertahankan apa yang seharusnya ia miliki. Berjuang hingga titik darah penghabisan untuk cinta yang sudah nyata ia genggam!!".
Dengan tegas Ridha mengatakannya. Jemarinya meremas perlahan jemari Alex untuk memberi kekuatan. Sialnya, Alex tak bisa menolak meski logikanya ingin menepis jemari Ridha mati-matian.
Alex membeku.
Terbuat dari apa isi kepala Aridha si tuan putri dari keluarga Praja Bekti ini? Alex tak mengerti.
"Aa....apa-apa yang kau katakan, nona RI...Ridha?"
Aridha tersenyum.
"Bila kau mencintaiku dan aku mencintaimu, maukah kau berjuang untukku dan menaklukkan mama papaku?"
Ridha tak menyadari bahwa wajah Sundari kian memucat.
"Akan aku pikirkan nanti".
Perlahan Ridha melepas tautan jemarinya dan Alex perlahan. Senyum mengembang.
Dirinya lega.
Meski awalnya ia tak ingin mendekati Alex, tapi ternyata waktu tak memberinya kesempatan untuk menghindar.
Toh dirinya telah terlanjur basah, bukankah akan lebih baik ia lanjutkan dengan mandi dan berenang.
Apapun hasilnya nanti, Ridha merasa optimis.
Meski harus menghadapi kemarahan mamanya dan mendapat penentangan dari sang papa.
Segala sesuatunya harus di coba, begitu pikir Ridha.
"Baiklah nak Ridha, Alex.....Mama akan ke depan dulu untuk membantu kakakmu, Daniel.
Sundari memilih bangkit. Ia perlu penyegaran pikiran. Mungkin membantu Daniel yang tengah bersih-bersih di depan bengkel akan lebih baik.
Alex menjawab dengan hanya menganggukkan kepalanya.
Di depan, Sundari mengernyit kan kening ketika Daniel terduduk di lantai dengan menggenggam ponselnya, wajahnya pucat lasi dan bibirnya gemetar.
"Daniel...., ada apa, nak? Apa yang terjadi?"
Sundari berjongkok, ia memeriksa kening Daniel yang sangat dingin.
Sepertinya Daniel tengah syok.
"Ma... aku.... aku".
"Katakan, nak... katakan ada apa?".
Sundari semakin ter-aduk emosinya.
Ia tak bias melihat Daniel merasa tertekan hingga seperti ini.
"Di-Dita pergi ma. Ia telah pergi padahal pernikahan akan di adakan dua hari lagi.
Aaa....aku...aku.... Bagaimana dengan Nasib Hana, putriku?".
Saat itu juga, Sundari semakin syok dan jatuh dalam kegelapan yang merenggut kesadarannya.
Sayup-sayup ia mendengar Daniel yang berteriak memanggilnya.
Setelah Alex, kini Daniel yang menyampaikan kabar tak baik.
__ADS_1
Sundari yang malang.
🍁🌻🌻🌻🍁