
"Hentikan! Astaga, kau ingin seluruh warga sekolah melihat apa yang kita lakukan?" Yasmin menekan suaranya yang terasa murka. Sayangnya, Aksa hanya terkekeh dan mendahului Yasmin untuk segera masuk ke dalam kelas.
"Awas saja nanti kau, Aksa. kau tak akan mendapatkan jatah makanan siangmu nanti di rumah." ancam Yasmin. Alih-alih takut dan ngeri, yang ada justru Aksa terkekeh dan merasa geli.
"Tak masalah, sweet heart, aku bisa membujuk ibu mertuaku dan ayah mertua untuk mendapat jatah makan. Jika tidak, aku juga bisa membeli makan di luar jika tak pulang ke rumah Oma." ungkap Aksa dengan santainya. Siapa memangnya yang takut dengan ancaman tikus kecil macam Yasmin?
"Huh. Dasar jelek!" hardik Yasmin yang justru membuat Aksa geli sendiri dibuatnya.
Aksa mana peduli? pemuda itu kemudian duduk dengan manis di bangkunya.
"Nanti siang sepulang sekolah, kita akan mengunjungi kantor opaku. opa memintaku untuk membawa dirimu ikut serta." Aksa berbisik lirih di belakang kepala Yasmin, membuat Yasmin sedikit terkejut, tapi mengangguk kemudian.
__ADS_1
Perlahan, tindakan Aksa yang secara tiba-tiba ini, membuat bulu kuduk Yasmin meremang. Jantung Yasmin terasa mengentak kasar layaknya bass musik di tempat disko. Reaksi tubuh Yasmin tak biasa, tapi Yasmin sendiri bingung, tak bisa menyimpulkan mengapa ia merasakan lain setelah mendapat perlakuan Aksa yang begini.
Hinga tanpa terasa, jam istirahat telah tiba. Yasmin seger menuju keluar taman dan membawa kotak bekalnya yang ia bawa dari rumah. Yasmin hanya tak mau nanti berakhir sakit dan akan mengalami Luka lambung seperti kemarin-kemarin.
Memantu Jelita Ayudya praja Bekti itu begitu menikmati menu makan siangnya kali ini. Meski waktu baru menunjukkan pukul 10.30, namun Yasmin tetap harus mengisi perutnya agar bisa diajak kompromi nanti.
"Kenapa tak membawakan ku bekal makanan?" Aksa muncul sembari melepas kaca mata hitamnya. Sejujurnya, Yasmin justru lebih suka bila Yasmin memakai kaca mata hitam seperti ini."
"Jika besok kau membawa makan siang, aku meminta untuk kau bawakan juga."
"Sayangnya, mama justru lebih suka bila menyimpan satu kotak bekal saja." Lagi-lagi, Yasmin berkata asal dan membuat Aksa terkekeh.
__ADS_1
"Ah ya sudah. Nanti kita pergi ke pusat perbelanjaan milik opa Chandra dan Oma Dewi. Kita akan membeli lima puluh kotak bekal untuk sekolah." Mata yasmin tak berkedip.
"Jangan macam-macam, aksa. Ya Tuhan, aku tak serius dan hanya bercanda." ungkap Yasmin dengan perasaan sedikit bersalah. Menyampaikan berita sepotong saja, bisa memicu seluruh keluarga besar nanti curiga.
"Aku hanya ingin satu macam darimu, Yasmin. Oh ya, ngomong-ngomong, kapan kiranya aku bisa mulai merintis usaha kecil-kecilan."
"Ya ya ya, baiklah. Itu tak mengapa dan ya, menurutku itu bagus. Oh ya, Yasmin. aku sepertinya akan di bukakan bisnis kecil-kecilan oleh Opa. Lalu, bagaimana menurutmu?"
"Bagus. Kita harus mulai mandiri dan jangan melibatkan orang lain sedikit pun. Aku tak suka saja bila nanti harus meminta opa dan Om ma untuk biaya hidup kita di masa depan.
"Jangan khawatir, segalanya pasti bisa di kendalikan." Aksa tersenyum miring, menata bayangan masa depannya yang dirinya akan sibuk mengatur waktu di rumah bersama Yasmin nanti.
__ADS_1
**